KETIK, TEGAL – Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Jumhur Hidayat mengajak seluruh masyarakat Indonesia melakukan "taubat ekologi" sebagai bentuk tanggung jawab bersama atas berbagai kerusakan lingkungan yang terjadi selama ini.
Gerakan nasional tersebut akan diwujudkan melalui penanaman dua miliar pohon, rehabilitasi hutan dan mangrove, pemulihan sungai, hingga pengetatan pengawasan terhadap industri penghasil limbah.
Ajakan itu disampaikan Jumhur saat memberikan kuliah umum di Aula Universitas Harkat Negeri (UHN), Kota Tegal, Jumat, 3 Juli 2026.
Menurutnya, persoalan lingkungan yang dihadapi Indonesia bukan disebabkan oleh satu pihak, melainkan merupakan kesalahan kolektif seluruh elemen bangsa.
"Kita harus mengakui bahwa masalah lingkungan yang kita hadapi sekarang adalah kesalahan kolektif kita sebagai bangsa. Karena semua bersalah, maka semua harus bertobat supaya tidak mengulangi kesalahan dan bekerja lebih keras lagi untuk memastikan kemuliaan lingkungan. Itulah yang saya sebut Gerakan Taubat Ekologi Nasional," tegas Jumhur.
Baca Juga:
Deklarasikan Gerakan Tobat Ekologis Nasional, Menteri LH Ajak Mahasiswa UHN Tegal Jadi Pelopor LingkunganIa menjelaskan, Gerakan Taubat Ekologi Nasional akan menjadi langkah nyata pemerintah dalam mempercepat pemulihan lingkungan.
Program tersebut meliputi penanaman dua miliar pohon di berbagai daerah, rehabilitasi hutan bakau dan lahan kritis, pemulihan ekosistem sungai, penanganan persoalan sampah, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap pengelolaan limbah industri.
Tak hanya itu, pelaku usaha di sektor ekstraktif juga diwajibkan melaksanakan reklamasi dan menanam kembali lahan bekas eksploitasi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kelestarian lingkungan.
Jumhur mengatakan, pemerintah saat ini tengah menyiapkan peluncuran resmi Gerakan Taubat Ekologi Nasional yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026.
Baca Juga:
Teknologi Hormon Bisa Lipatgandakan Produksi Ikan Budi DayaSelain program pemulihan lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup juga terus mendorong pembentukan etika lingkungan di tengah masyarakat sebagai upaya menghadapi dampak perubahan iklim.
Menurutnya, skema perdagangan karbon juga harus dimanfaatkan secara optimal agar memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelestarian alam.
Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menjadi pusat lahirnya gagasan dan solusi terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk krisis lingkungan.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa hanya dapat diwujudkan apabila mampu menyeimbangkan perkembangan ilmu pengetahuan, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian ekologi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Tegal, Agus Dwi Sulistyantono, menegaskan dukungan Pemerintah Kota Tegal terhadap Gerakan Taubat Ekologi Nasional.
Ia menjelaskan, pemerintah Kota Tegal telah dan akan terus menjalankan berbagai program mitigasi perubahan iklim, mulai dari penanaman mangrove, pengolahan sampah menjadi bahan bakar turunan sampah Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pengembangan infrastruktur yang ramah lingkungan.(*)