Menurut saya, keraguan tentang masa depan Pramuka—apakah dalam beberapa tahun mendatang masih akan diminati generasi muda?—justru perlu dijawab dengan pembenahan pola pembinaan, bukan dengan meninggalkan jati diri kepramukaan.

Pramuka harus berani keluar dari pola kegiatan yang monoton dan berulang. Upacara, baris-berbaris, tali-temali, perkemahan, dan berbagai tradisi kepramukaan tetap penting, tetapi jangan berhenti sebagai rutinitas. Nilai yang sama harus dikemas dalam kegiatan yang inovatif, produktif, menyenangkan, dan berdaya guna bagi kehidupan peserta didik.

Pramuka harus menjadi tempat anak muda belajar sambil mengalami, bukan sekadar mendengar instruksi. Berikan mereka ruang untuk membuat proyek lingkungan, kegiatan sosial, kewirausahaan, teknologi digital, literasi informasi, pengembangan kreativitas, maupun kegiatan lintas komunitas.

Biarkan mereka merancang, memimpin, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, melakukan kesalahan, mengevaluasi, dan memperbaikinya. Di situlah sesungguhnya pendidikan kepemimpinan berlangsung.

Namun, jangan pula karena ingin mengikuti perkembangan zaman, Pramuka kehilangan jati dirinya. Pramuka tidak harus menjadi seperti komunitas lain agar diminati generasi muda. Justru kekuatan Pramuka terletak pada pengalaman nyata, kebersamaan, tantangan, kemandirian, dan pendidikan di alam terbuka.

Baca Juga:
Gerakan Pramuka Pilihan Utama Pembangunan Karakter Generasi Bangsa

Karena itu, kegiatan di alam terbuka harus tetap menjadi roh yang kuat. Berkemah tidak cukup hanya dengan mendirikan tenda, tetapi dapat dikembangkan menjadi laboratorium kehidupan: belajar navigasi, konservasi lingkungan, survival, pengelolaan sampah, pertanian, teknologi tepat guna, mitigasi bencana, kepemimpinan, kewirausahaan, hingga pengabdian kepada masyarakat.

Tetap bermain, tetap bergembira, dan tetap menikmati alam, tetapi pulang membawa keterampilan serta pengalaman yang berguna.

Pembina juga perlu bergeser dari sekadar menjadi pengarah dan pengendali menjadi mentor dan fasilitator. Anak muda tidak cukup hanya diberi tahu apa yang harus dilakukan. Mereka perlu dipercaya untuk mencoba dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Jadi, menurut saya, pertanyaan, "Lima tahun lagi atau sepuluh tahun lagi, masihkah Pramuka menjadi pilihan generasi muda?" jawabannya bukan sekadar ya atau tidak. Jawabannya sangat tergantung pada keberanian Pramuka hari ini untuk berbenah.

Baca Juga:
Jakarta di Persimpangan Mobilitas: Dari Ekspansi Transportasi Publik Menuju Transformasi Perilaku Perjalanan

Nilai kepramukaan tidak perlu diubah. Cara membinanya yang harus terus diperbarui.

Pramuka harus tetap menjadi kegiatan yang menyenangkan di alam terbuka, tetapi sekaligus relevan dengan kehidupan nyata. Menyenangkan tanpa kehilangan makna. Modern tanpa kehilangan jati diri. Inovatif tanpa meninggalkan tradisi yang baik.

Yang paling penting, anak muda jangan hanya menjadi objek pembinaan, tetapi harus menjadi subjek yang ikut menentukan wajah Pramuka masa depan.

Sebab, pada akhirnya, anak muda tidak akan bertanya, "Apa yang ingin dipertahankan oleh orang dewasa?" Mereka akan bertanya, "Apa yang bisa saya dapatkan, lakukan, dan ciptakan bersama Pramuka untuk masa depan saya?"

esia”

*) Sutejo Rc merupakan Andalan Humas Kwarcab Surabaya (demisioner), Andalan Kwarda Jatim 2020–2025, Ketua DKC Surabaya 1992–1995, dan Kepala Biro Gresik Ketik.com. 

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)