KETIK, JAKARTA – Nama Hantavirus menjadi buah bibir belakangan ini. Hal tersebut tak lepas dari meninggalnya tiga orang wisatawan di MV Hondius, sebuah kapal pesiar internasional yang berlayar dari Argentina.
Insiden ini memicu operasi pelacakan besar-besaran terhadap penumpang yang telah kembali ke berbagai negara, termasuk Inggris, Amerika Serikat, Belanda, Afrika Selatan, dan Swiss.
Kontan, kabar ini menimbulkan kekhawatiran di khalayak. Bahkan, banyak yang menilai virus ini akan berkembang menjadi pandemi baru.
Dilansir dari BBC, hantavirus merupakan kelompok virus yang umumnya ditularkan dari hewan pengerat, seperti tikus. Penularan terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi partikel virus dari urine, kotoran, atau air liur hewan tersebut.
Pada kasus tertentu, terutama strain Andes, penularan antar manusia juga bisa terjadi, namun membutuhkan kontak sangat dekat dan dalam waktu lama. Inilah yang diduga terjadi di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, di mana penumpang berbagi kabin dan ruang makan.
Baca Juga:
Mabuk Saat Berkendara? Siap-siap Biaya Rumah Sakit Tak Ditanggung BPJS KesehatanBerbeda dengan penyakit seperti influenza atau campak yang sangat mudah menular, hantavirus tidak menyebar melalui kontak sosial biasa seperti di ruang publik, tempat kerja, atau sekolah.
Gejala awal hantavirus umumnya menyerupai flu, seperti demam, kelelahan, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan, mual, dan diare. Masa inkubasi biasanya 2–4 minggu setelah terpapar, bahkan bisa lebih lama.
Hingga saat ini belum ada pengobatan khusus untuk hantavirus. Namun, perawatan medis di rumah sakit sejak dini dapat meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Sementara itu, berbeda dengan kekhawatiran publik, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kejadian ini bukan tanda awal pandemi baru. Penularan global dinilai sangat terbatas dan tidak seperti Covid-19 yang mudah menyebar.
Baca Juga:
Perkuat Jaminan Kesehatan, Bupati Sleman Apresiasi Kolaborasi Lintas Sektor Program JKN"Hantavirus bukanlah Covid. Ini bukan pula influenza. Virus ini menyebar dengan cara berbeda," kata Dr Maria Van Kerkhove dari WHO.
Namun, kendati diyakini tak akan sampai menjadi gelombang pandemi berikutnya, otoritas kesehatan di sejumlah negara sudah menegaskan kewaspadaan mereka. Bahkan, sejumlah negara intensif melacak kontak warga mereka dengan penumpang kapal MV Hondius.(*)