KETIK, SURABAYA – Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Gemarang, Kecamatan Kedunggalar, Kabupaten Ngawi, menggagas program pembuatan biopori sebagai solusi mengatasi persoalan sampah organik sekaligus mendukung terwujudnya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
Program yang berlangsung selama masa KKN pada 17 Juni hingga 24 Juli 2026 tersebut lahir setelah mahasiswa melakukan survei lapangan.
Hasilnya, persoalan utama yang dihadapi desa berada pada sektor kesehatan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah.
Kondisi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Desa Gemarang saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas (overload), sehingga sampah, khususnya sampah organik, terus menumpuk.
Kepala Desa Gemarang, Sunarni, menjelaskan bahwa hingga saat ini Desa Gemarang belum dapat mendeklarasikan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) karena masih terdapat beberapa indikator yang belum terpenuhi, salah satunya penerapan biopori.
Baca Juga:
Verifikasi dan Validasi data SPMB SMA/SMK Negeri Segera Berakhir, Gubernur Khofifah Imbau Kepastian Kebenaran DokumenMenurutnya, kehadiran mahasiswa KKN menjadi momentum yang tepat untuk memperkenalkan sekaligus mempraktikkan pembuatan biopori agar nantinya dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat, khususnya warga Dusun Ngadirejo.
“Desa gemarang belum bisa mendeklarasikan adanya Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) diantaranya membuat biopori, maka alhamdulillah ini juga kebetulan juga panjenengan dari KKN ini akan membuatkan atau mempraktek membuat biopori sehingga nanti akan dilaksanakan oleh warga dusun ngadirejo khususnya,” tegasnya, Senin, 29 Juni 2026.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari masyarakat. Salah satu warga Dusun Ngadirejo RT 05, Suyanto, menilai biopori menjadi solusi sederhana yang memberikan manfaat ganda, baik dalam mengurangi penumpukan sampah organik maupun meningkatkan kualitas lingkungan.
Baca Juga:
Tanpa Antrean! Gubernur Khofifah Apresiasi SPMB SMA-SMK Negeri di Ngawi Hadirkan Layanan Verifikasi Data Terjadwal yang Mudah dan NyamanMenurut Suyanto, salah satu masyarakat setempat, selama ini pembuatan lubang resapan seperti biopori masih belum banyak diterapkan di lingkungan sekitar serta keberadaan biopori dapat dimanfaatkan sebagai tempat pengolahan limbah organik rumah tangga yang nantinya berubah menjadi pupuk alami untuk menyuburkan pekarangan.
"Yang jelas lingkungan jadi lebih sehat, terus pekarangan belakang rumah jadi lebih subur. Limbah rumah tangga juga lebih bermanfaat," ujar Suyanto.
Ia menambahkan, apabila biopori diterapkan secara luas oleh masyarakat, manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam pengelolaan sampah organik, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas lahan pekarangan untuk ditanami sayuran maupun tanaman lainnya.
Suyanto juga menyatakan kesiapannya mendukung keberlanjutan program tersebut. Ia berencana membuat biopori di pekarangan rumahnya sebagai tempat resapan air sekaligus pengolahan sampah organik menjadi pupuk.
"Iya, ya jelas, tadi sudah disurvei tadi untuk tempat saya nanti. Yang jelas satu untuk buangan, buangan limbah tadi untuk buat resapan itu tadi. Terus yang kedua, di tanah kosong yang rencana mau kita tanaman sayur nanti dibuatkan biopori. Ini saya buatkan biopori untuk... untuk resapan sekaligus untuk pupuk di situ, supaya lebih subur," tambahnya.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat, program biopori diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek dalam mengatasi persoalan sampah organik, tetapi juga menjadi langkah nyata untuk mendukung terwujudnya indikator Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Gemarang. (*)