KETIK, MALANG – Ilmu Teknik Industri tidak selalu identik dengan pabrik atau industri manufaktur besar. Hal itu dibuktikan Dwi Apink Dela Nesfian, lulusan terbaik Program Studi Teknik Industri S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), yang berhasil menerapkan keilmuannya untuk meningkatkan produktivitas peternakan ayam broiler milik keluarganya di Jember.
Apink menjadi salah satu wisudawan Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITN Malang yang akan mengikuti Wisuda ke-75 Periode I Tahun 2026 pada Sabtu (25/4/2026). Ia menuntaskan studi dalam waktu 3,5 tahun dengan raihan IPK 3,78.
Prestasi tersebut diperkuat melalui skripsi berjudul Optimasi Industri Peternakan Ayam Broiler di UD Sumber Urip Kabupaten Jember. Penelitian itu berangkat dari persoalan yang kerap dihadapi usaha peternakan keluarganya, terutama bobot ayam panen yang sering tidak sesuai target.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Apink menggunakan tiga metode analisis sekaligus, yakni Fault Tree Analysis (FTA), Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), serta Linear Programming. Ketiga metode tersebut digunakan untuk memetakan sumber masalah sekaligus menentukan solusi paling efektif.
Baca Juga:
Susun Skripsi Sambil Goreng Cireng, Marita Jadi Lulusan Terbaik Informatika ITN Malang“Saya menemukan bahwa manajemen pakan dan tingkat kepadatan kandang memiliki risiko tertinggi terhadap kualitas ternak. Lewat ilmu yang saya dapat di kampus, saya ingin usaha keluarga ini bisa berkelanjutan dan hasilnya lebih optimal,” ujar Apink.
Dari hasil penelitiannya, faktor pakan menjadi aspek paling krusial karena terdapat tiga jenis pakan berbeda sesuai fase pertumbuhan ayam yang harus diberikan dengan komposisi tepat. Jika tidak seimbang, pertumbuhan ayam berpotensi terganggu dan hasil panen menurun.
Selain itu, kandang yang terlalu padat juga menjadi persoalan serius. Kondisi tersebut membuat ayam mudah stres, nafsu makan menurun, dan pertumbuhan tidak maksimal.
Berdasarkan temuan tersebut, Apink merekomendasikan penyeimbangan nutrisi pakan serta pengaturan luas kandang ideal. Seluruh analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak POM-QM dan pendekatan 5W+1H agar solusi yang diberikan lebih terukur.
Baca Juga:
Plastik dari Singkong Ini Bisa Dimakan, Karya Lulusan Terbaik ITN MalangIa mengaku tantangan terbesar selama menyusun skripsi adalah menerapkan model matematika pada sektor peternakan yang memiliki karakter berbeda dengan industri manufaktur. Meski demikian, proses tersebut justru membuka wawasan baru bagi keluarganya dalam mengelola usaha secara lebih profesional.
Tak hanya unggul secara akademik, Apink juga aktif selama masa kuliah. Ia dipercaya menjadi Koordinator Asisten Laboratorium yang membawahi empat laboratorium, yakni Laboratorium Perancangan dan Sistem Informasi, Manufaktur, Komputer, serta Perancangan Teknik Industri.
“Menjadi asisten laboratorium memberikan banyak manfaat untuk pengembangan soft skills, seperti manajemen waktu dan kemampuan berbicara di depan publik. Secara hard skills, kemampuan saya juga lebih terasah karena harus memahami materi lebih dalam sebelum mengajar mahasiswa lain,” katanya.
Selain aktif di Forum Mahasiswa Jember di Malang (FKMJM), ia juga terlibat dalam penelitian pengabdian kepada masyarakat bersama dosen. Bahkan, Apink sempat bekerja paruh waktu dan freelance di bidang food and beverage (F&B) untuk menambah uang saku.
Kini, dengan gelar sarjana di tangan, Apink ingin membuktikan bahwa ilmu Teknik Industri tidak hanya berguna di pabrik, tetapi juga mampu membantu sektor peternakan dan UMKM agar berkembang lebih modern dan efisien. (*)