KETIK, MALANG – Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FTUB) kembali hadir di panggung akademik internasional melalui partisipasi Dr.Eng. Ir. Indradi Wijatmiko, S.T., M.Eng.(Prac)., IPU., ASEAN Eng., sebagai Plenary Speaker dalam 1st International Multidisciplinary Research Colloquium 2026 yang diselenggarakan oleh Visayas State University pada 21–22 Mei 2026.
Forum internasional tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai negara untuk membahas kolaborasi multidisiplin dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Mengusung tema “Synergy of Knowledge: Integrating Engineering, Sciences, and Education towards Sustainable Development”, kegiatan ini menjadi wadah pertukaran gagasan, inovasi, dan pengalaman akademik lintas disiplin. Forum tersebut sekaligus menyoroti pentingnya sinergi antara bidang teknik, sains, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat dalam menjawab berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
Dalam kesempatan tersebut, Indradi yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik FTUB membawakan materi bertajuk “Synergy of Knowledge: Empowering Future Engineers through Community Engagement and Sustainable Development.” Melalui paparannya, ia menegaskan bahwa pendidikan teknik masa depan tidak lagi cukup berfokus pada pembelajaran teoritis di ruang kelas, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi nyata yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
“Tantangan keberlanjutan di Indonesia, seperti perubahan iklim, urbanisasi, krisis air, hingga degradasi lingkungan, tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu disiplin ilmu. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara bidang teknik, sains, pendidikan, serta keterlibatan masyarakat dalam menciptakan solusi berkelanjutan,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Indradi turut memperkenalkan konsep Progressive Engineering Education Ecosystem, yakni model pendidikan teknik berbasis real-world learning experiences yang diterapkan di FTUB. Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa didorong untuk terlibat langsung dalam penyelesaian persoalan masyarakat sejak semester awal melalui berbagai program berbasis komunitas.
Salah satu program yang dipaparkan ialah Student Community Engagement Camp (SCEC) dan kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) FTUB. Program ini melibatkan mahasiswa dalam berbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat, mulai dari pendampingan desa, pemetaan lingkungan, pengembangan sanitasi, hingga pembangunan infrastruktur sederhana.
Tidak hanya mengasah kemampuan teknis, program tersebut juga dirancang untuk membangun empati, kepemimpinan, kemampuan kolaborasi, serta kesadaran keberlanjutan mahasiswa sejak dini.
Selain itu, Indradi juga menjelaskan implementasi community-based course dan capstone design yang mengintegrasikan penyelesaian persoalan industri maupun masyarakat ke dalam proses pembelajaran mahasiswa. Berbagai inovasi yang dikembangkan meliputi sistem irigasi pintar, teknologi energi terbarukan, pemantauan lingkungan berbasis Internet of Things (IoT), hingga optimalisasi infrastruktur berbasis Building Information Modeling (BIM) dan kecerdasan buatan.
“Pendidikan teknik masa depan harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, wawasan global, dan orientasi keberlanjutan. Pendidikan perlu bergerak dari pendekatan teoritis menuju pembelajaran kolaboratif yang berorientasi pada solusi nyata dan pemberdayaan masyarakat,” imbuhnya.
Partisipasi FTUB dalam forum internasional ini menjadi bagian dari komitmen Universitas Brawijaya dalam memperkuat jejaring akademik global sekaligus menunjukkan kontribusi aktif sivitas akademika dalam pengembangan pendidikan teknik berkelanjutan di tingkat internasional.
Kehadiran FTUB sebagai plenary speaker juga semakin menegaskan reputasi fakultas sebagai institusi yang konsisten mendorong inovasi pendidikan berbasis keberlanjutan, kolaborasi multidisiplin, dan pemberdayaan masyarakat.(*)
