KETIK, PROBOLINGGO – Mahasiswa Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan PSDKU Universitas Brawijaya (UB) Kediri yang mengikuti Program Berdampak Kampus Merdeka (MBKM) di Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Probolinggo melakukan pendampingan penerapan sistem Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) pada UMKM pengolahan abon ikan PW Pancen Wenak pada 10 Februari-20 Juni 2026.

Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa MBKM, Jusuf Reidhofa Koestomo, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Amalia Febryane Adhani Mazaya, S.Pi., M.Si. Pendampingan dilakukan sebagai upaya meningkatkan keamanan pangan sekaligus memperkuat daya saing produk olahan ikan yang dihasilkan UMKM.

HACCP merupakan sistem pengendalian keamanan pangan yang berfungsi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan potensi bahaya biologis, kimia, maupun fisik selama proses produksi.

Melalui penerapan sistem ini, setiap tahapan produksi abon ikan, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, pengeringan, pengemasan hingga penyimpanan dapat dipantau secara sistematis guna menjamin mutu dan keamanan produk.

UMKM PW Pancen Wenak sendiri merupakan usaha pengolahan abon ikan yang dirintis sejak 2016 oleh Indah Nuraini bersama Iswahyudi dengan merek awal IWG (Indah Wayhu Gesti). Berangkat dari potensi sektor perikanan yang besar di Kota Probolinggo, usaha tersebut dibangun untuk menghadirkan produk olahan ikan yang berkualitas dan dapat diterima masyarakat luas.

Baca Juga:
Dongkrak Pamor Ikan Hias, Mahasiswa MBKM UB Kediri Gagas Konten Komedi di TikTok

Seiring berjalannya waktu, pengelolaan usaha kemudian dilanjutkan oleh Endang bersama Ramdhani. Pada 2021, usaha tersebut melakukan rebranding menjadi PW Pancen Wenak sebagai langkah memperkuat identitas usaha dan meningkatkan profesionalisme pengelolaan.

Kini, produk PW Pancen Wenak telah dipasarkan ke lebih dari 20 outlet di wilayah Jawa Timur dan tiga outlet di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada 2025, pengembangan usaha difokuskan pada penguatan strategi pemasaran dan perluasan jaringan distribusi untuk mendukung posisi produk pada segmen pasar premium.

Potret kegiatan saat melakukan analisis HACCP pada abon ikan (Foto: Mahasiswa PSDKU UB Kediri)

Dalam operasionalnya, UMKM tersebut melakukan produksi rutin sebanyak tiga kali dalam seminggu guna memenuhi permintaan pasar. Produk abon ikan dipasarkan dengan kisaran harga Rp30.000 hingga Rp45.000 per bungkus, dengan rata-rata harga jual sebesar Rp40.000 per bungkus.

Baca Juga:
Mahasiswa MBKM PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Pelajari Preferensi Petani terhadap Pupuk Cair Melalui Wawancara di Toko Pertanian

Berdasarkan hasil analisis usaha selama satu bulan produksi, UMKM abon ikan tersebut mampu memperoleh total penerimaan rata-rata sebesar Rp7,2 juta per bulan. Sementara total biaya produksi yang mencakup bahan baku, bahan pendukung, peralatan, tenaga kerja, dan listrik mencapai Rp5,94 juta per bulan.

Dari hasil tersebut, UMKM memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp1,26 juta per bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa usaha abon ikan masih memberikan keuntungan dan memiliki peluang untuk terus berkembang melalui peningkatan efisiensi produksi, pengendalian biaya, serta perluasan pasar.

Selain mendampingi penerapan HACCP, Jusuf Reidhofa juga melakukan pengamatan terhadap strategi pemasaran yang diterapkan oleh PW Pancen Wenak. Hasilnya menunjukkan bahwa pemasaran dilakukan melalui dua saluran utama, yakni secara offline dan online.

Pada pemasaran offline, pemasaran berjalan secara langsung melalui strategi dari mulut ke mulut oleh para pelanggan. Sementara pada pemasaran online, PW Pancen Wenak aktif memanfaatkan berbagai platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan Facebook dengan menghadirkan konten kreatif untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Kombinasi kedua strategi tersebut terbukti mampu memperluas jangkauan pasar produk hingga ke berbagai daerah, dengan pelanggan yang tersebar mulai dari Kota Probolinggo hingga Surabaya.

Melalui pendampingan ini, penerapan sistem HACCP diharapkan dapat meningkatkan keamanan dan mutu pangan produk abon ikan sehingga lebih aman dikonsumsi masyarakat.

Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa MBKM menjadi sarana pembelajaran langsung yang memungkinkan penerapan ilmu pengetahuan di lapangan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan UMKM dan perlindungan kesehatan konsumen.(*)