Melik Nggendhong Lali

23 Juli 2026 11:00 23 Jul 2026 11:00

Erry Himawan, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Melik Nggendhong Lali

Oleh Erry Himawan*

Orang Jawa, selain terkenal dengan pintar membuat makanan, juga pintar membuat semboyan-semboyan hidup. Semboyan-semboyan hidup ini adalah prinsip-prinsip yang dipegang erat oleh anak-anak cucu sampai saat ini. Selain semboyan hidup tersebut di atas masih banyak lainnya seperti Memayu Hayuning Bawono, Berbudi Bowo Leksono, Ojo Rumongso Iso nanging Iso`o Rumongso dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa leluhur kita adalah orang yang berwatak luhur  dan bijaksana

Pada daerah-daerah tertentu, terutama daerah yang masih kuat rasa kejawaannya, seperti daerah mataraman, semboyan-semboyan tersebut dijaga betul dan hidup sampai sekarang. Ketika kita dolan ke Solo (Surakarta) dan Jogja, masih dapat kita jumpai, orang-orang yang hidup prasojo dan narimo ing pandum. Hidup dengan damai dan berdamai dengan keadaan. Seakan-akan apa yang terjadi dalam hidup, adalah sebuah takdir yang sudah digariskan. Hidup tidak ada tantangan serta mengalir begitu saja.

Lain halnya ketika kita berada di lingkungan yang penuh dengan kompetisi seperti di kota metropolitan. Adalah sebuah kota yang tidak pernah tidur, yang mengharuskan orang-orang yang hidup di dalamnya berkompetisi tinggi. Kehidupan sehari-hari diisi dengan kesibukan untuk mengejar materi. Ketika satu keinginan terpenuhi, akan memenuhi keinginan lainnya dengan segera. Hidup seperti pertandingan, siapa yang cepat dia akan dapat. Semua energi dicurahkan untuk keduniawian.

Sebetulnya, adalah sebuah naluri jika manusia memiliki hasrat dan keinginan untuk menjadi kaya. Memiliki aset yang banyak, jabatan tinggi, kekuasaan yang tak terbatas. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah untuk mendapatkan semuanya itu telah melalui cara-cara yang beradab? Apakah semua kebutuhan dan keinginannya itu terpenuhi dilandasi oleh etika dan moral? Untuk itulah, semboyan hidup orang Jawa, Melik Nggendhong Lali sangat relevan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Melik Nggendhong Lali, kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti lupa diri ketika memiliki keinginan terlalu besar. Maknanya, ketika seseorang punya keinginan yang kuat dalam dirinya untuk memiliki sesuatu, dapat membuat orang itu lupa diri bahkan mengabaikan etika, norma dan hukum untuk mencapai keinginannya tersebut. Ia tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Segala cara dan semua jalan ditempuh serta dianggap sah selama tujuan tercapai.

Pada hakikatnya, memiliki keinginan adalah satu hal yang wajar dan lumrah. Keinginan adalah tenaga dari dalam yang menjadi pendorong bagi seseorang untuk mengembangkan diri sekaligus berprestasi. Yang menjadi persoalan adalah, ketika keinginan tersebut menjadi pemicu kerakusan, ketamakan dan keserakahan. Di titik itulah, manusia akan kehilangan kendali dan menggilas-melindas yang lain. Di saat itulah, seharusnya manusia ingat akan semboyan hidup, Melik nggendhong Lali.

Dalam konteks kekinian, dapat kita lihat, bahwa banyak orang bergaya hidup hedon, flexing bahkan berani hutang hanya untuk mendapatkan pengakuan status. Mereka berani bertindak di luar batas etika dan norma hanya untuk mendapatkan validasi dari yang lain. Mereka ingin mendapatkan citra yang sebenarnya semu. Keinginan mendapatkan status sosial pada akhirnya “menggendong” mereka hingga lupa akan kehormatan dan harga diri.

Situasi dan kondisi tersebut di atas, diperparah lagi dengan budaya konsumtif yang tinggi. Bahwa kebahagiaan dapat dicapai dengan kepemilikan barang. Plus, adanya persepsi, kebahagiaan identik dengan banyaknya aset yang dimiliki. Semakin banyak harta maka akan semakin dianggap sukses. Mereka merasa puas, padahal rasa puas hanyalah bersifat sementara.

Melik Nggendhong Lali, mengingatkan kepada kita, bahwa manusia harus mampu mengendalikan “melik” nya. Manusia boleh banyak memiliki keinginan, namun harus dikendalikan dengan akal sehat. Manusia berhak menjadi kaya, namun harus dengan cara-cara yang beradab. Adalah cara-cara yang tidak menggilas-melindas, serta dilandasi etika dan moral. Tanpa pengendalian diri, manusia akan menjadi budak atas keinginannya sendiri.

Leluhur negeri ini telah mengajarkan kepada kita dengan semboyan-semboyan hidupnya. Semuanya telah diwariskan dan menjadi pedoman hidup. Namun, semboyan-semboyan itu mulai pudar. Generasi sekarang lebih senang kepada sesuatu yang berasal dari negeri luar. Kalau ditelaah lebih jauh, Melik Nggendhong Lali, adalah sebuah semboyan hidup yang masih relevan.

Pesan yang termuat di dalamnya adalah jangan sampai kita sukses (baca: banyak aset), tetapi kehilangan kehormatan dan martabat. Jangan sampai kita telah memperoleh apa-apa yang kita inginkan, tetapi kehilangan nurani serta kemanusiaan. Terakhir, jangan sampai karena terlalu banyak yang ingin kita miliki, kita lupa akan jati diri kita, siapa diri kita sebenarnya.

“Majulah bangsaku, Jayalah negeriku!”. (*)

*) Erry Himawan adalah “Pak Guru” di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya untuk Program Studi Manajemen dan anggota Perkumpulan Ilmuwan Sosial Humaniora Indonesia (PISHI)

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email [email protected]
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)
Tombol Google News

Tags:

Tulisan Opini Melik Nggendhong Lali