KETIK, MANGGARAI BARAT – LAZNAS Dewan Dakwah berkolaborasi dengan Dana Kebajikan dan Zakat CIMB Niaga Syariah meresmikan program kesehatan Nurhealth Connection di wilayah pedalaman Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Program ini hadir untuk menjawab keterbatasan akses layanan kesehatan akibat jarak yang jauh dan minimnya fasilitas di daerah pedalaman.

Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan LAZNAS Dewan Dakwah, Ustadz Ramdani, menegaskan bahwa peresmian ini adalah wujud nyata dari kemerdekaan akses kesehatan bagi seluruh rakyat.

"Hadirnya fasilitas kesehatan ini adalah jawaban atas doa-doa yang terpanjatkan dari masyarakat Nanga Bere, mengingat kesehatan merupakan instrumen yang sangat penting," ucap pengurus Laznas Dewan Dakwah Ustadz Ramdani saat peresmian program di Dusun Bangko, Desa Nangabere, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Selasa,11 Agustus 2026.

Ramdani mengatakan, acara yang bekerja sama dengan Puskesmas Nangalili ini hadir untuk memecahkan masalah keterbatasan akses transportasi, komunikasi, dan fasilitas kesehatan di wilayah 3T.

Bahkan, fasiilitas yang terbuka untuk semua kalangan ini telah dilengkapi dengan teknologi modern seperti teleconference.

Baca Juga:
Kampanye “Bismillah Bisa Qurban” Semarakkan CFD Jakarta, Laznas Dewan Dakwah Ajak Warga Tebar Kepedulian

Sementara itu, Pembina Nurhealth Connection sekaligus Dokter Spesialis Bedah, dr. Muhammad Iqbal El-Mubarak, S.pB mengatakan kehadiran ekosistem canggih ini diibaratkan sebagai oase di tengah padang pasir.

"Seperti ikhtiar Siti Hajar dalam mencari air zamzam, mulai hari ini telah hadir 'zamzam' sebagai sumber kesehatan bagi masyarakat. Melalui optimalisasi sarana telekomunikasi, kini setiap keluhan warga akan langsung diarahkan dan ditangani oleh dokter spesialis yang tepat," ujar dr. Iqbal.

Selain sarana kesehatan, di wilayah ini juga bersamaan dihadirkan panel surya, internet satelit, teknologi Artificial Intelligence (AI) dan dai pedalaman.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Desa Nangabere, Hudzaifah, menceritakan kenyataan memilukan yang selama ini harus dihadapi warganya. Terutama persoalan yang kerap dihadapi kaum wanita.

Baca Juga:
Laznas Dewan Dakwah Sebar 225 Da'i ke Pedalaman di Indonesia

"Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan ini. Selama ini, ibu-ibu di desa kami yang hendak melahirkan harus bersusah payah melewati sungai sehingga perjalanannya menuju rumah sakit tertahan. Kondisi ini juga menyebabkan evakuasi pasien selalu terlambat, sehingga masyarakat kami kerap tidak mendapatkan penanganan medis yang optimal," ujar Hudzaifah penuh haru.

Iqbal juga mengatakan, melalui teknologi telemedicine, warga di pelosok kini tak lagi terisolasi. Layanan ini didukung oleh jaringan internet satelit untuk konektivitas stabil dan panel surya sebagai sumber energi utama yang mandiri.

Selain konsultasi jarak jauh, sistem ini mencakup edukasi kesehatan berbasis AI, penyediaan obat generik, hingga pelayanan dokter umum, spesialis, dan USG. Bagi pasien dengan kondisi berat, sistem akan langsung merujuk mereka ke fasilitas lanjutan yang tepat.

Program ini turut melibatkan dai pedalaman dari Dewan Dakwah sebagai fasilitator di lapangan. Para dai hadir tidak sekadar berdakwah, melainkan menjadi pendamping warga saat menggunakan layanan telemedicine, membantu edukasi, dan menepis ketakutan warga untuk berobat sejak dini.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Nangalili, Sariman Syukur, S.Kep., menyambut optimis sinergi yang terbangun. Warga di sini, katanya, merasa terbantu dan mendapat perhatian dari sisi kesehatan.

"Kehadiran ini menjadi simbol nyata bahwa masyarakat kita diperhatikan, didengar, dan tidak berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan kesehatan. Mari kita rawat dan jaga bersama fasilitas maupun kepedulian ini, karena kesehatan adalah tanggung jawab kita bersama. Jika masyarakat sehat, maka mereka akan semakin produktif dan kualitas hidupnya pun menjadi jauh lebih baik," tuturnya.

Sebagai informasi, inovasi strategis pertama di Indonesia, Nurhealth Connection ini tidak dirancang untuk menggantikan rumah sakit atau layanan medis tatap muka seutuhnya. Namun, program ini hadir sebagai garda terdepan dan pintu akses pertama yang menghubungkan masyarakat terisolir dengan hak kesehatan yang layak, merdeka dari segala keterbatasan.(*)