Krisis di Balik Brankas: Ketika Uang Cuma Disimpan, Ekonomi Tidak Bergerak

Jurnalis: Iwa AS
Editor: Akhmad Sugriwa

2 Agt 2025 21:52

Thumbnail Krisis di Balik Brankas: Ketika Uang Cuma Disimpan, Ekonomi Tidak Bergerak
Oleh: Tubagus Raditya Indrajaya, Pengamat Ekonomi & Keuangan Publik

Uangnya Ada. Tapi Diam Seperti Patung Pancoran. Bayangkan. Negeri ini seperti rumah mewah penuh laci. Di tiap laci ada uang, di tiap lemari ada brankas. Tapi dapurnya kosong dan anak-anaknya makan mie instan setiap hari. Inilah realitas ekonomi kita hari ini: uang beredar, tapi tidak bergerak.

Data Bank Indonesia mencatat uang beredar (M2) per April 2025 mencapai Rp 9.390 triliun, naik menjadi Rp 9.406,6 triliun di Mei. Dan diperkirakan menembus Rp 9.598 triliun pada Juni 2025. Tapi UMKM tetap kesulitan modal, masyarakat tetap menunda belanja, dan kredit produktif jalan di tempat.

Saya menyebut fenomena ini sebagai “Velocity Economic Suspend” — kondisi di mana uang hanya jadi angka statistik, bukan alat tukar yang menghidupi ekonomi rakyat.

Uang Tersimpan, Dompet Rakyat Kering

Baca Juga:
Tiket Pesawat Berpotensi Naik, Ekonomi Jatim Terancam Melambat: DPRD Desak Mitigasi

Sementara uang para elite “beristirahat” di brankas pribadi, di balik tembok-tembok rumah. Sedangkan rakyat bawah sudah memakan tabungan. Bukan untuk jalan-jalan ke luar negeri, tapi untuk bertahan hidup. Belum lagi bayar listrik, beli sembako, dan nyekolahin anak.

Kondisi ini diperparah dengan gejala Non Perfomance Loan (NPL) atau kredit macet yang mulai naik di banyak sektor. Tabungan menipis, cicilan macet, UMKM kehilangan daya beli. Ekonomi rakyat seperti kereta mogok di tengah rel panjang — tidak bisa maju, tapi tidak boleh mundur.

Statistik Tak Selalu Jujur

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat kemiskinan nasional Indonesia per Maret 2024 adalah 9,36%, turun dari 9,57% pada September 2023. Sekilas menggembirakan.

Baca Juga:
Perkuat Daya Tahan Ekonomi di Tengah Tekanan Pendapatan, Gubernur Khofifah Bagi-Bagi Bensin Gratis untuk 200 Ojol

Tapi menurut standar Bank Dunia, realitasnya jauh lebih keras. Dengan garis kemiskinan US$3,65 per hari (PPP), angka kemiskinan Indonesia adalah 15,6%.

Dengan standar negara menengah atas US$6,85 per hari, 60,3% rakyat Indonesia masuk kategori miskin relatif.

Jadi jangan tertipu statistik nasional. Bisa jadi secara angka, kita kaya. Tapi secara hidup, rakyat tetap susah.

Rekening Dormant atau Rekening Rahasia?

Di tengah keresahan ini, publik makin bingung ketika muncul kabar bahwa pemerintah ingin memblokir rekening dormant, alias rekening tidak aktif. Seolah-olah rakyat yang lupa top up rekening bank Rp 100 ribu selama setahun sedang dicurigai sebagai penjahat keuangan.

Padahal seperti dijelaskan oleh Salamuddin Daeng, masalah sesungguhnya bukan di rekening dormant. Tapi di rekening-rekening rahasia — rekening gelap yang menyimpan uang hasil korupsi, tambang ilegal, narkoba, judi online, hingga perdagangan manusia.

Data PPATK (April 2025) menyebut ada Rp 1.459 triliun transaksi mencurigakan, termasuk Rp 984 triliun yang diduga berkaitan dengan korupsi. Dan sayangnya, sebagian besar rekening itu tidak dormant — justru sangat aktif, tapi di luar radar publik dan banyak juga disimpan dalam brankas rumah ! 

Uang Kotor dan Panggung Ekonomi Bayangan

Uang ini bukan hanya diam. Ia menyelinap dalam sistem. Ia digunakan untuk operasi politik, kampanye gelap, bahkan mendanai kekuatan yang hendak menggulingkan pemerintahan sah. Ini bukan sekadar urusan ekonomi — ini soal kedaulatan negara.

"Jadi, kalau negara mau blokir rekening, blokirlah yang menyembunyikan kejahatan. Jangan sampai rekening petani, buruh, dan tukang sayur yang malah kena sasaran"

Harapan Itu Masih Ada (Tapi Tidak Otomatis)

Kini, kita berharap kepada pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto. Beliau dikenal tegas, berani, dan siap “tabrak langsung” demi rakyat.

Namun kita harus jujur: kebijakan seperti pembekuan rekening dormant tanpa sosialisasi justru bisa merusak kepercayaan publik terhadap sistem keuangan.

"Jangan sampai rakyat makin takut menyimpan uang di bank. Karena uang yang takut, seperti manusia, akhirnya lebih suka sembunyi".

Kalau Prabowo mau menang dalam perang ini, maka musuhnya bukan rakyat kecil yang menabung Rp 500 ribu di BRI. Tapi sindikat keuangan gelap yang memegang ribuan rekening rahasia bernilai triliunan.

Buka Brankas, Gerakkan Uang

Ekonomi hanya hidup jika uang bergerak. Kalau uang diam, ekonomi beku. Kalau uang bersembunyi, negara kehilangan kendali.

Velocity Economic Suspend adalah alarm. Dan alarm ini tidak bisa dibungkam dengan kata-kata manis atau grafis presentasi.

Ia hanya bisa dijawab dengan keberanian menyapu bersih uang kotor, dan kebijakan yang membela rakyat kecil.

Presiden Prabowo harus bisa membedakan: "Mana rekening harapan rakyat, dan mana rekening yang menyimpan ancaman negara".

*) Tubagus Raditya Indrajaya adalah  Pengamat Ekonomi & Keuangan Publik

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Karikatur by Rihad Humala/Ketik.co.id
****) Ketentuan pengiriman naskah opini:
Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.co.id.
Berikan keterangan OPINI di kolom subjek

 

Baca Sebelumnya

WOW... Risma, Ahok, Ganjar Masuk Jajaran Elite! Intip Formasi Lengkap Pengurus DPP PDIP 2025-2030

Baca Selanjutnya

Grand Show BYF 2025 Meriahkan Alun-Alun Kanigoro, Beky Herdihansah: Bonus Demografi Harus Jadi Momentum Emas!

Tags:

Ekonomi uang duit Rekening nomor rekenig rekening diblokir Blokir Rekening Brankas

Berita lainnya oleh Iwa AS

Bupati Bandung Takziah ke Rumah Duka 2 Korban Meninggal Terseret Arus Sungai di Banjaran

16 April 2026 17:54

Bupati Bandung Takziah ke Rumah Duka 2 Korban Meninggal Terseret Arus Sungai di Banjaran

Ziarah Hari Jadi Kabupaten Bandung, Bupati Kang DS Tekankan Pentingnya Pengabdian dan Kepedulian Sosial

16 April 2026 15:53

Ziarah Hari Jadi Kabupaten Bandung, Bupati Kang DS Tekankan Pentingnya Pengabdian dan Kepedulian Sosial

Masih Dibutuhkan, Bupati Bandung Minta ke Presiden Aktifkan Lagi Satgas Citarum Harum

16 April 2026 00:23

Masih Dibutuhkan, Bupati Bandung Minta ke Presiden Aktifkan Lagi Satgas Citarum Harum

Bupati Bandung Pastikan Penanganan Banjir Berjalan Optimal, BNPB Segera Tinjau Titik Rawan

15 April 2026 20:50

Bupati Bandung Pastikan Penanganan Banjir Berjalan Optimal, BNPB Segera Tinjau Titik Rawan

Kasus Dirut PT BDS Jadi Tersangka, DPRD Kabupaten Bandung Soroti Lemahnya Pengawasan BUMD

15 April 2026 15:39

Kasus Dirut PT BDS Jadi Tersangka, DPRD Kabupaten Bandung Soroti Lemahnya Pengawasan BUMD

Dugaan Korupsi Rp128,5 Miliar di BUMD Kabupaten Bandung, Dirut PT BDS Ditahan Kejari

14 April 2026 17:44

Dugaan Korupsi Rp128,5 Miliar di BUMD Kabupaten Bandung, Dirut PT BDS Ditahan Kejari

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H