KETIK, BATU – Di tengah-tengah kegiatan pengabdian masyarakat di Malaysia, peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyempatkan berkunjung ke kampus Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Ini merupakan kegiatan komplemen untuk menambah pengalaman dan wawasan mahasiswa.

Sebelas peserta KKN UMM didampingi Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Nasrullah, Ph.D, diterima hangat dosen fakultas Syariah dan Hukum USIM, Assoc Professor Dr Mualimin Mochammad Sahid, di kampus USIM kawasan Nilai, Negeri Sembilan, Rabu, 29 Juli 2026.

Sebelum melakukan campus tour, mahasiswa diterima di Bilik Mesyuarat Utama. Selama hampir satu jam Mualimin memberikan pengenalan mengenai kampus dan wawasan hukum dan syariah di Malaysia.

Dijelaskannya, USIM merupakan kampus negeri yang memiliki kekhasan sains berbasis Islam. Sebelum menjadi USIM, kampus ini bernama College Universiti Islam Malaysia (CUIM). Tahun ini USIM memasuki usia 25 tahun.

Untuk menjadi mahasiswa USIM harus menguasai bahasa Arab dan hafalan Alqur’an.

Baca Juga:
Mahasiswa Unikama Bawa Budaya Jawa ke Malaysia, KKN Internasional Perkuat Ikatan dengan Diaspora di Melaka

“Bahasa pengantar kuliah di sini menggunakan Arab dan Inggris, bahkan bahasa Melayu relatif tidak digunakan,” kata Mualimin.

Fakultas Syariah dan Undang undang, merupakan fakultas tertua dari 9 fakultas di USIM. Uniknya kuliah Syariah dan Hukum di kampus ini ditempuh selama lima tahun untuk memperoleh dua keahlian sekaligus, yakni sebagai lawyer hukum Islam (syariah) dan lawyer hukum sipil.

Malaysia menerapkan dua sistem hukum, yakni hukum Islam (syariah) dan hukum sipil (civic law). Menurut Mualimin, Mahkamah Syariah menangani isu-isu hukum Islam seperti wasiat, warisan, pernikahan dan perceraian, bahkan pengajaran agama serta khutbah Jumat, harus mengikuti hukum Islam yang setiap negeri (propinsi) diketuai oleh Sultan atau Raja.

Sementara di tingkat nasional (federal) hukum ini tunduk kepada Raja Besar. Sedangkan mahkamah sipil semuanya mengikuti undang-undang federal.

Baca Juga:
Mahasiswa KKN UINSA Kelompok 192 Kembangkan Pembibitan Cabai Putih di Kampung Oksigen Bondowoso, Dukung Ketahanan Pangan

Meski menerapkan sistem monarki untuk penentuan raja di setiap negeri, Malaysia juga menerapkan sistem demokrasi untuk memilih pemimpin legislatif dan eksekutif.

Di Negeri Sembilan sendiri meski ada sultan atau raja, raja itu dipilih mengikuti demokrasi oleh pemimpin daerah dibawah Negeri Sembilan, bukan dari garis keturunan karena pemangku adat yang lebih dinamis.

Diskusi semakin menarik karena sebagian besar peserta KKN berasal dari prodi Hukum UMM. Lima mahasiswa dari sebelas mahasiswa dari fakultas Hukum itu adalah Muhammad Arya Dwipa Ananta Finanda Salsa Fella Octavia, Vika Julyanti Sundiasih, Mohammad Khodaifi Mubarak dan Dian Nur Citra.

Kemudian Naura Venda Aulia, Mochamad Galuh Rachmadany dan Callista Jevira Wijaya ketiganya dari prodi PGSD.

Sedangkan Andi Auliyah Shafirah, Nur Rahmatia Luturlean dan Andi Auliyah Shafirah merupakan mahasiswa Hubungan Internasional. Nur Rahmatia Luturlean menjadi satu-satunya mahasiswa asal prodi psikologi.

Kunjungan ke kampus sebenarnya bukan meruakan mandatori kegiatan KKN Internasional. Tetapi atas saran Wakil Rektor IV Salis Yanuardi, Ph.D, sebaiknya mahasiswa dikenalkan dengan kampus-kampus di luar negeri.

“Selain itu agar ada diskusi-diskusi menambah wawasan internasional dengan mahasiswa atau dosen di sana serta menambah perspektif untuk studi lanjut,” saran Salis usai melepas KKN Internasional ke Malaysia, Thailand dan Taiwan di kampus UMM, pekan lalu.

Karena tidak diagendakan sejak awal, semula kelompok KKN Selangor Malaysia kesulitan mendapatkan kampus untuk dikunjungi.

Beruntung berkat pertemanan DPL dengan dosen USIM yang merupakan teman masa kecilnya di kampung asal Lamongan, kunjungan ke USIM terwujud secara spontan tanpa diawali surat menyurat.

Mualimin adalah dosen Usul Fiqih, Maqasid Syariah, Fiqih Usrah, dan Contemporary Issues of Fiqh di USIM. Pria asal Bancar Tuban Jawa Timur ini menghabiskan masa kecilnya di Pondok Pesantren Karang Asem Muhammadiyah Paciran Lamongan.

Lulus pondok, ia melanjutkan studi dan memperoleh beasiswa di Madinah Saudi Arabia. Studi S2 dan S3 dilanjutkan di International Islamic University Malaysia.

“Walau dosen di Malaysia, saya tetap orang Indonesia, Garuda di dadaku,” aku Mualimin. (*)