KETIK, MALANG – Ketua PCNU Kota Malang, Isroqunnajah menanggapi kehadiran penceramah kontroversial Zakir Naik yang datang ke Kota Malang, Kamis 10 Juli 2025 malam nanti. Ia menjelaskan kegiatan tersebut seharusnya dilaksanakan secara tertutup.
Menurutnya, ceramah yang disampaikan oleh Zakir Naik seringkali menyisakan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Kendati demikian, ia tetap tak memberikan penolakan terhadap kehadiran Zakir Naik di Kota Malang.
"Sepanjang tidak ada provokasi, jangan ada klaim saya yang paling benar. Kalau forum debat, boleh saja, ini kan forum ceramah. Tapi yang saya sayangkan, kalau tertutup jauh lebih baik," ujarnya.
Is mengaku telah melakukan komunikasi dengan panitia maupun pihak kepolisian. Mitigasi yang dilakukan panitia dengan membatasi jumlah pertanyaan oleh pengunjung.
Baca Juga:
Usai Visum, Jenazah Yai Mim Dimakamkan di Blitar"Kemarin sudah ada mitigasi, pertanyaan enggak sembarang orang, hanya dibatasi 3 orang. Itu saja yang membacakan pertanyaan adalah panitia sehingga tidak akan keluar konteks," lanjutnya.
Berdasarkan informasi yang dibagikan oleh panitia, open gate dimulai sejak pukul 15.00 WIB di Stadion Gajayana. Kegiatan sendiri dimulai pada sekitar pukul 17.45 WIB yang tak hanya diisi oleh Zakir Naik, namun juga putranya, Fariq Naik.
Menurutnya, waktu tersebut terlampau lama, mengingat acara diestimasikan selesai pada 23.00 WIB. Ia menyarankan agar kegiatan dapat lebih diperpendek.
"Bayangan crowded, sholat bagaimana, makannya. Tadi malam ada yang ngajak diskusi, gimana kalau waktunya dipercepat sampai jam 21.00 sehingga gak terlalu lama, cukup fokus pada beliau," jelasnya.
Baca Juga:
DPRD Kota Malang Soroti Krisis Guru dan Ribuan Anak Tidak Sekolah di LKPJ Wali KotaIa menambahkan selama ini Kota Malang memiliki indeks kerukunan tertinggi di Jawa Timur. Ia berpesan agar usai kehadiran Zakir Naik, tidak menyebabkan tingkat kerukunan di Kota Malang justru menurun.
"Ada catatan dari teman-teman yang menolak. Salah satunya Pak Zakir Naik di India itu ditolak. Apalagi Islam sebagai minoritas di sana, kita mencoba memahami itu semua," pungkasnya. (*)