“Hari ini siswa bisa menyelesaikan tugas dalam 30 detik. Tapi belum tentu mampu menjelaskan maknanya.”

Kalimat itu kini tidak lagi terdengar sebagai hiperbola. Ia mulai terasa seperti potret nyata ruang belajar kita hari ini.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), ruang kelas di Indonesia mengalami perubahan yang cukup cepat. Di sekolah maupun kampus, AI generatif sudah menjadi bagian dari keseharian siswa.

Tugas bisa selesai dalam hitungan detik, rangkuman tersedia instan, bahkan esai dapat dihasilkan tanpa proses berpikir yang panjang.

Teknologi membuat segalanya terasa lebih mudah, lebih cepat, dan lebih efisien. Namun di titik yang sama, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar dari guru: apakah siswa masih benar-benar memahami apa yang mereka kumpulkan?

Baca Juga:
Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

Ironisnya, semakin cepat jawaban diperoleh, semakin dangkal proses memahami.

Fenomena ini mulai terasa nyata di ruang kelas. Tidak sedikit guru yang curiga ketika tulisan siswa tiba-tiba terlihat terlalu rapi, terlalu sistematis, dan terlalu “sempurna”. Dalam beberapa kasus, ketika diminta menjelaskan ulang isi tugasnya, siswa justru tidak mampu menguraikannya.

Jawaban ada, tetapi pemahaman belum tentu ada.

Di perguruan tinggi, situasinya bahkan lebih jelas. Mahasiswa mampu mengumpulkan esai dalam waktu singkat dengan bantuan AI, tetapi kesulitan menjelaskan kembali argumen dasarnya saat diskusi berlangsung. Salah satu pola yang sering muncul sederhana: tugas dibuat dengan ChatGPT, tetapi ketika ditanya alasan pemilihan argumen, jawabannya tidak muncul.

Baca Juga:
Kasihan Anak-Anak Itu

Fenomena ini juga terlihat dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Siswa lebih sering meminta AI merangkum teks daripada membaca secara utuh. Menulis tidak lagi menjadi proses berpikir, tetapi berubah menjadi proses instan menyusun jawaban. Budaya copy-paste perlahan dianggap hal yang biasa dalam dunia pendidikan.

Padahal bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah cara manusia berpikir, menyusun logika, memahami realitas, dan membangun empati sosial. Ketika proses memahami digantikan oleh jawaban instan, pendidikan perlahan kehilangan ruang refleksinya.

Kondisi ini juga berkaitan dengan tantangan literasi di Indonesia. Data PISA OECD menunjukkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia masih berada pada kategori yang perlu perhatian serius. Di tengah banjir informasi digital, persoalan utama bukan lagi akses pengetahuan, tetapi kemampuan memahami dan mengkritisi informasi itu sendiri.

Teknologi ternyata tidak selalu membuat manusia lebih reflektif. Banyak siswa mengetahui banyak hal secara cepat, tetapi kesulitan menjelaskan kembali makna dari apa yang mereka baca atau hasilkan. Mereka cepat mendapatkan jawaban, tetapi lambat membangun pemahaman.

Dalam filsafat ilmu, Karl Popper menegaskan bahwa pengetahuan tidak pernah lahir secara instan. Ilmu berkembang melalui proses kritik, pengujian, dan koreksi yang terus-menerus. Artinya, mengetahui bukan sekadar menerima jawaban, tetapi mempertanyakannya kembali.

Sementara itu, Paulo Freire dalam gagasan pendidikan kritis menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membangun kesadaran reflektif, bukan sekadar menumpuk jawaban di kepala siswa (Freire, 1970). Jika proses itu hilang, pendidikan hanya tinggal aktivitas mekanis: cepat, tetapi dangkal.

Namun persoalan ini tidak bisa disederhanakan menjadi “AI adalah masalah”. AI bukanlah sesuatu yang sepenuhnya salah atau benar, melainkan alat yang sangat bergantung pada cara manusia menggunakannya. Masalah muncul ketika AI menggantikan proses berpikir, bukan memperkuatnya.

Ketika siswa berhenti bertanya “mengapa” dan hanya mengejar “apa jawabannya”, di situlah perubahan besar terjadi dalam cara belajar.

Di sinilah pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki posisi strategis. Bahasa tidak hanya soal menulis dan membaca, tetapi juga membangun cara berpikir, menyusun argumen, dan memahami perspektif orang lain. John Dewey menekankan bahwa pendidikan adalah pengalaman hidup yang reflektif, bukan sekadar transfer pengetahuan satu arah (Dewey, 1938).

Jika pembelajaran hanya berorientasi pada hasil akhir, maka pengalaman berpikir itu perlahan hilang. Di ruang kelas hari ini, tantangannya bukan lagi sekadar mengajar materi, tetapi menjaga agar siswa tetap berpikir di tengah kemudahan berpikir yang ditawarkan mesin.

Teknologi boleh membantu, tetapi tidak boleh menggantikan proses memahami.

Karena itu, guru tidak cukup hanya menilai jawaban akhir. Yang lebih penting adalah bagaimana siswa sampai pada jawaban itu, apakah melalui proses berpikir atau sekadar menyalin.

Sekolah perlahan berisiko kehilangan ruang berpikir jika budaya instan terus dibiarkan.

Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat menjawab, tetapi siapa yang paling mampu memahami. Bangsa tidak dibangun oleh mereka yang sekadar cepat menjawab, tetapi oleh mereka yang mampu berpikir, meragukan, dan memahami makna di balik setiap jawaban.

Tulisan ini ditujukan kepada guru, siswa, orang tua, dan pengambil kebijakan pendidikan agar bersama-sama membangun ekosistem pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga bijak secara kemanusiaan.

*) Umu Nafisatul Munawaroh merupakan Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Islam Malang

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)