KETIK, MALANG – Keraton Gunung Kawi di Kabupaten Malang selama bertahun-tahun kerap dikaitkan dengan praktik pesugihan. Anggapan itu kembali ramai di media sosial melalui berbagai konten yang menyebut kawasan tersebut sebagai tempat mencari kekayaan secara gaib.

Namun, narasi tersebut dibantah oleh warga sekitar maupun juru kunci Keraton Gunung Kawi.

Yudi, salah seorang warga sekitar, mengatakan aktivitas utama yang dilakukan para peziarah adalah berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, bukan mencari pesugihan ataupun meminta tumbal seperti yang sering beredar di media sosial.

"Di sini tempat berdoa, bukan mencari pesugihan. Mintanya tetap kepada Tuhan sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Tidak ada minta tumbal atau hal-hal seperti yang viral di media sosial," ujarnya.

Menurut Yudi, kawasan Keraton Gunung Kawi juga menyediakan tempat ibadah bagi berbagai agama sehingga siapa pun dipersilakan datang untuk berdoa.

Baca Juga:
Kuliner Jalur Gunung Kawi, Menikmati Kesejukan Alas Pakis

"Di sini ada tempat ibadah sesuai agama masing-masing. Semua agama dan golongan dipersilakan datang ke sini. Memintanya tetap kepada Tuhan," katanya.

Ia menjelaskan, alasan banyak orang datang ke Gunung Kawi bukan karena praktik mistis, melainkan karena lokasi tersebut dipercaya memiliki suasana yang mendukung kekhusyukan berdoa.

"Leluhur kita tidak sembarangan menentukan tempat menyepi atau bertapa. Ada tempat yang frekuensinya kuat sehingga membantu seseorang lebih fokus saat berdoa," jelasnya.

Senada, juru kunci Keraton Gunung Kawi, Purnomo, menegaskan istilah pesugihan yang selama ini melekat pada Keraton Gunung Kawi lebih banyak muncul dari narasi yang berkembang di media sosial.

Baca Juga:
Keraton Gunung Kawi, Dari Tempat Muksa Mpu Sindok hingga Pertapaan Raja Kediri

"Kalau memang di keraton itu, namanya sebenarnya Keraton Gunung Kawi. Tapi kalau orang media sosial atau kreator konten menyebutnya tempat pesugihan atau mitos pesugihan. Di sini tidak ada namanya pesugihan," tegas Purnomo.

Menurutnya, para peziarah datang untuk memohon berkah kepada Tuhan sesuai keyakinan masing-masing. Tokoh-tokoh yang dihormati di Keraton Gunung Kawi dipandang sebagai perantara penghormatan kepada leluhur, bukan objek pemujaan.

"Yang ada di sini adalah memohon berkah kepada Yang Mahakuasa. Kalau orang Islam kepada Allah SWT, kalau Hindu kepada Sang Hyang Widhi, kalau Kristen kepada Tuhan Yesus. Perantaranya adalah Eyang Prabu Kameswara atau Eyang Tunggul Manik dan Tunggul Wati," ujarnya.

Purnomo juga membantah berbagai cerita mengenai pesugihan, tuyul, maupun praktik gaib lain yang kerap dikaitkan dengan Keraton Gunung Kawi.

"Kalau ada yang mengatakan di sini tempat pesugihan, tempat tuyul, itu hanya mitos. Tidak ada. Semua tetap memohon berkah kepada Tuhan, hanya melalui perantara penghormatan kepada para leluhur," pungkasnya.