KETIK, JAKARTA – Kanker payudara masih menjadi salah satu persoalan kesehatan serius yang dihadapi perempuan. Penyakit ini terjadi ketika sel abnormal atau ganas tumbuh secara tidak terkendali di jaringan payudara. Meski perkembangan teknologi medis telah membuka peluang deteksi dan penanganan lebih dini, kesadaran masyarakat untuk mengenali faktor risiko masih menjadi bagian penting dalam upaya menekan dampak penyakit tersebut.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 2,4 juta perempuan didiagnosis kanker payudara setiap tahun dan sekitar 694 ribu di antaranya meninggal dunia. Data tersebut sekaligus menunjukkan adanya kesenjangan dalam penanganan kanker payudara di berbagai negara.
WHO mencatat negara dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tinggi cenderung memiliki angka diagnosis kanker payudara lebih tinggi. Namun, negara-negara tersebut justru mencatat risiko kematian yang lebih rendah dibandingkan negara dengan IPM rendah. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya akses terhadap pemeriksaan, deteksi dini, dan pengobatan yang memadai.
Dosen Departemen Biostatistika, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), Dr. dr. Prima Dhewi Ratrikaningtyas, M.Biotech., mengatakan masyarakat perlu memahami faktor risiko kanker payudara agar dapat meningkatkan kewaspadaan sejak awal.
Menurutnya, seseorang yang mengetahui dirinya memiliki faktor risiko tertentu dapat mengambil langkah pemeriksaan secara lebih tepat. Kesadaran tersebut juga penting agar masyarakat tidak menunggu munculnya keluhan berat sebelum mencari pertolongan medis.
Baca Juga:
Deteksi Dini Kanker Payudara Penting, Kenali Cara Pemeriksaan SADARI Sejak Muda"Jadi sangat penting kita sejak awal itu menyadari kita itu punya faktor risiko yang tinggi atau tidak. Kalau punya faktor risiko yang tinggi itu harus lebih aware, lebih rajin untuk periksa atau memeriksa payudaranya sendiri," tutur Prima.
Faktor Risiko yang Tidak Bisa Diubah
Prima menjelaskan faktor risiko kanker payudara secara umum dapat dibagi menjadi faktor yang tidak dapat dikendalikan dan faktor yang masih dapat dikendalikan. Jenis kelamin, riwayat keluarga, dan faktor genetik termasuk kelompok risiko yang tidak dapat diubah seseorang.
Baca Juga:
Keluarga Pasien Kanker di Jember Harapkan Layanan Perawatan di RumahPerempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker payudara dibandingkan laki-laki. Meski demikian, laki-laki tetap memiliki kemungkinan mengalami penyakit tersebut sehingga kewaspadaan tidak hanya diperlukan pada perempuan.
Riwayat kanker dalam keluarga juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Risiko dapat meningkat ketika seseorang memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami kanker, terutama kanker payudara.
Faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang mengalami kanker payudara. Karena itu, perempuan yang memiliki riwayat kanker dalam keluarga sebaiknya menyampaikan informasi tersebut kepada tenaga kesehatan agar dapat memperoleh saran mengenai pemeriksaan yang sesuai.
Mengetahui adanya faktor risiko bukan berarti seseorang pasti akan mengalami kanker payudara. Namun, informasi tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempertimbangkan pemeriksaan secara lebih teratur sesuai kondisi masing-masing.
Pola Hidup Juga Perlu Diperhatikan
Selain faktor yang tidak dapat diubah, terdapat sejumlah faktor yang berkaitan dengan pola hidup dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut masih memungkinkan untuk dikendalikan sehingga upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh tetap penting dilakukan.
Prima menilai masyarakat perlu membangun kesadaran bahwa pencegahan penyakit tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah mengalami gangguan kesehatan. Kebiasaan hidup sehat dan perhatian terhadap perubahan kondisi tubuh menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dalam jangka panjang.
Kesadaran tersebut juga perlu diperkuat karena masyarakat Indonesia masih memiliki kecenderungan menunda pemeriksaan sampai muncul keluhan.
"Budaya di Indonesia itu kalau belum sakit, belum ingin diperiksa. Jadi, belum banyak kesadaran untuk check up rutin," katanya.
Menurut Prima, kebiasaan tersebut dapat membuat sebagian pasien baru mendapatkan diagnosis ketika kanker telah memasuki stadium lanjut. Padahal, kanker payudara memiliki peluang penanganan yang lebih baik apabila ditemukan pada tahap awal.
Ia juga memahami bahwa ketakutan terhadap diagnosis, tindakan operasi, dan biaya pengobatan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk memeriksakan diri. Namun, rasa takut tersebut seharusnya tidak membuat masyarakat menghindari pemeriksaan medis.
Jangan Abaikan Riwayat Kanker dalam Keluarga
Pemahaman terhadap faktor risiko menjadi semakin penting bagi seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker. Informasi tersebut dapat menjadi pertimbangan ketika menentukan langkah pemeriksaan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan pada tubuh.
Di sisi lain, masyarakat perlu memahami bahwa kanker payudara tidak hanya berkaitan dengan faktor keturunan. Keberadaan faktor risiko tertentu tidak otomatis berarti seseorang akan terkena kanker. Sebaliknya, tidak memiliki riwayat keluarga juga bukan jaminan seseorang terbebas dari penyakit tersebut.
Karena itu, Prima mendorong masyarakat untuk tidak membangun kesimpulan sendiri berdasarkan ada atau tidaknya faktor risiko. Pemeriksaan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap diperlukan apabila muncul perubahan pada payudara atau terdapat kekhawatiran mengenai risiko kanker.
Upaya meningkatkan kesadaran juga membutuhkan dukungan keluarga. Lingkungan terdekat dapat membantu seseorang tidak menunda pemeriksaan ketika menemukan perubahan pada tubuh. Dukungan tersebut menjadi penting karena ketakutan dan stigma sering kali membuat seseorang memilih diam daripada mencari pertolongan.
Prima juga mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan pengobatan alternatif sebagai pengganti pemeriksaan dan penanganan medis. Jika seseorang memilih menjalani pengobatan alternatif, langkah tersebut tidak semestinya membuat pemeriksaan atau pengobatan medis ditinggalkan.
Pada akhirnya, mengenali faktor risiko merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker payudara. Riwayat keluarga, faktor genetik, serta berbagai faktor lain perlu dipahami agar masyarakat dapat mengambil keputusan kesehatan secara lebih tepat dan tidak terlambat mencari bantuan.
Kesadaran terhadap faktor risiko juga perlu diikuti dengan tindakan nyata. Perempuan tetap perlu memperhatikan kondisi payudara secara rutin dan melakukan deteksi dini, termasuk melalui pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI. Jika menemukan benjolan maupun perubahan yang mencurigakan, pemeriksaan kepada tenaga kesehatan perlu segera dilakukan. (*)