KETIK, JAKARTA – Kementerian Agama Republik Indonesia memperkuat langkah harmonisasi dan pengawasan pengelolaan zakat nasional melalui forum strategis bersama sejumlah Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas), Kamis, 21 Mei 2026, di Gedung Kementerian Agama RI, Jakarta.

Agenda bertajuk “Pembinaan, Pengawasan, dan Pemenuhan Harmonisasi Rencana Strategis Bidang Zakat” yang digelar Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam itu menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi negara dan lembaga zakat untuk menjawab tantangan sosial-ekonomi umat yang semakin kompleks.

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memastikan arah strategis zakat nasional berjalan terintegrasi dan terukur.

“Tugas dari Kemenag, khususnya pada Direktorat Jenderal Bimas Islam di bawah tanggung jawab Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, adalah melakukan fungsi pengawasan dan pemenuhan harmonisasi rencana strategis bidang zakat,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, Kementerian Agama juga memaparkan sejumlah program prioritas nasional, mulai dari Program Kampung Zakat, pemberdayaan ekonomi berbasis KUA, beasiswa zakat, hingga pengembangan wakaf produktif yang dijalankan melalui pola kolaborasi antara pemerintah, BAZNAS, dan LAZ.

Baca Juga:
Gelar Grand Launching, Nusantara Palestina Center Kini Resmi Jadi Laznas

Salah satu peserta yang hadir, WIZSTREN, menekankan pentingnya membangun gerakan zakat dan wakaf berbasis kekuatan kolektif pesantren. Direktur Eksekutif WIZSTREN, Robert Edy Sudarwan, menyebut pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat penguatan ekonomi umat.

“Pesantren hari ini adalah tempat di mana nilai, tradisi, dan inovasi bertemu. Tempat di mana gotong royong, koperasi, dan ekonomi Islam bukan hanya konsep, tetapi praktik hidup. Dan lebih dari itu, kita harus bergerak bersama,” ujarnya.

Menurutnya, sejarah perubahan besar selalu lahir dari gerakan kolektif yang terorganisasi dengan baik.

“Tidak pernah ada kemenangan besar yang lahir dari kerja sendiri-sendiri. Kemenangan selalu lahir dari kekuatan kolektif yang terorganisasi. Hari ini, pesantren telah memiliki semua fondasi itu. Tinggal satu hal yang dibutuhkan, yakni keberanian untuk mengorkestrasi dan menggerakkannya,” tambah dosen Pascasarjana UNUJA berbasis pesantren tersebut.

Baca Juga:
Eri Cahyadi Kepala Daerah Pengumpul Zakat Terbanyak, Saat Pahala ASN Jadi Indikator Kinerja

Sementara itu, Kasubdit Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Muhibuddin, menilai model kolaborasi berbasis ekosistem yang dibangun WIZSTREN memiliki nilai strategis karena memadukan fungsi sebagai LAZ sekaligus nadzir nasional.

“Sinergi bersama ini harus terjadi, apalagi WIZSTREN memiliki dua modal, sebagai LAZ dan juga sebagai nadzir nasional. Pemerintah tinggal menjadi orchestrator,” ungkapnya.

Selain membahas penguatan sinergi, rapat tersebut juga menyoroti pentingnya integrasi data nasional, penguatan dashboard digital zakat, peningkatan kualitas SDM, hingga percepatan perluasan Program Kampung Zakat yang ditargetkan menjangkau ribuan titik bersama BAZNAS dan LAZ di seluruh Indonesia.

Melalui forum ini, Kementerian Agama berharap lahir tata kelola zakat dan wakaf yang lebih profesional, terintegrasi, dan berdampak nyata terhadap pemberdayaan masyarakat, khususnya di lingkungan pesantren dan komunitas akar rumput.