KETIK, BLITAR – Semangat R.A. Kartini tak berhenti sebagai narasi sejarah. Di Kabupaten Blitar, nilai-nilai perjuangannya justru terus menemukan bentuk baru lebih hidup, lebih membumi, dan menyatu dengan realitas perempuan masa kini.
Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Blitar, Ufik Rohmatul Fitria, menegaskan bahwa Kartini hari ini bukan sekadar sosok yang dikenang setiap 21 April. Ia menjelma menjadi gerakan dalam langkah perempuan yang berani, dalam suara yang lantang, dan dalam aksi yang memberi dampak nyata di tengah masyarakat.
“Perempuan hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Kartini masa kini adalah mereka yang berjalan bersama, saling menggandeng, dan menguatkan satu sama lain,” ujar Ufik.
Baca Juga:
PSHT Blitar Desak Forkopimda Bertindak: Dualisme Sudah Inkrah, Stop Organisasi Abal-Abal!
Menurutnya, ruang perempuan kini semakin terbuka lebar. Tak hanya berkutat dalam ranah domestik, perempuan juga hadir sebagai aktor penting di berbagai sektor mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, hingga pemberdayaan masyarakat desa.
Di tubuh Fatayat NU sendiri, perempuan didorong menjadi lebih dari sekadar pelengkap pembangunan. Mereka diposisikan sebagai subjek penentu arah, penggerak perubahan, sekaligus penjaga nilai.
Baca Juga:
Pemkab Halsel Rayakan Hari Kartini Tanpa Seremoni, Utamakan Pesan Perempuan Berdaya
Dengan mengusung semangat “Fatayat Kuat, Keluarga Hebat”, organisasi ini membangun fondasi bahwa kekuatan bangsa berawal dari ketahanan keluarga. Namun, Ufik mengingatkan, kekuatan itu tidak boleh terkurung di dalam rumah.
“Perempuan hari ini harus berani tampil, berani bersuara, dan berani mengambil peran. Karena perubahan tidak akan datang kalau kita hanya diam,” tegasnya, Selasa, 21 April 2026.
Ia juga menyoroti keunggulan perempuan dalam membaca realitas sosial. Kepekaan yang dimiliki dinilai menjadi kekuatan tersendiri untuk menjembatani berbagai persoalan masyarakat mulai dari isu ekonomi, pendidikan, hingga dinamika sosial di tingkat akar rumput.
Dalam konteks ke-NU-an, perempuan memiliki peran strategis menjaga nilai Islam yang moderat, toleran, dan membawa rahmat bagi semesta. Fatayat NU menjadi salah satu ruang yang terus mendorong lahirnya perempuan-perempuan tangguh dengan perspektif tersebut.
Peringatan Hari Kartini tahun ini, lanjut Ufik, menjadi pengingat bahwa perjuangan belum usai. Tantangan zaman terus berubah, dan perempuan dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.
Kartini, pada akhirnya, bukan lagi tentang masa lalu. Ia adalah denyut yang hidup di hari ini dalam setiap perempuan yang memilih bangkit, bergerak, dan memberi arti.
Dan di Blitar, denyut itu terus berdetak. Pelan tapi pasti. Kuat, dan tak lagi bisa diabaikan.