KETIK, SURABAYA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia berdasarkan pemutakhiran data mulai Kamis, 1 Oktober 2026 hingga Jumat, 2 Oktober 2026. Sejumlah kejadian yang menjadi perhatian meliputi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, serta angin kencang.
Salah satu kejadian karhutla terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur, Provinsi Maluku, pada Selasa, 29 September 2026, tepatnya di Desa Saalas, Kecamatan Bula, dan Desa Silohan, Kecamatan Bula Barat. Cuaca panas disertai tiupan angin kencang membuat api cepat membakar vegetasi yang mengering akibat kemarau berkepanjangan. Berdasarkan pemutakhiran data pada Kamis, 1 Oktober 2026, sekitar 40 hektare lahan terbakar. BPBD Kabupaten Seram Bagian Timur bersama tim gabungan mengerahkan satu unit mobil pemadam untuk melakukan pemadaman dan pendinginan. Per Kamis, 1 Oktober 2026, api dilaporkan telah padam.
Di Jawa Tengah, karhutla tercatat terjadi di Kabupaten Rembang pada Rabu, 30 September 2026 pukul 11.15 WIB, tepatnya di Desa Karasgede, Kecamatan Lasem. Kebakaran membakar kawasan rumpun bambu, lahan jati, dan lahan tebu dengan luas sekitar satu hektare. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Rembang bersama perangkat daerah lainnya melakukan pemadaman menggunakan satu unit mobil tangki. Setelah itu, petugas melakukan pendinginan dan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat titik api yang berpotensi kembali menyala. Berdasarkan laporan pada Kamis, 1 Oktober 2026, api telah padam.
Kebakaran juga terjadi di Kabupaten Wonogiri pada Rabu, 30 September 2026 pukul 13.05 WIB. Lokasi kejadian berada di kawasan hutan Petak 23 D dan 23 A, tepatnya di Desa Giriwono, Kecamatan Wonogiri, serta Desa Sendangijo, Kecamatan Selogiri. Kebakaran membakar serasah, kirinyuh, dan alang-alang kering dengan luas sekitar empat hektare. BPBD Kabupaten Wonogiri bersama tim gabungan dan masyarakat setempat melakukan pemadaman. Hingga Kamis, 1 Oktober 2026, api telah padam.
Penanganan karhutla di Jawa Tengah juga dilakukan di Kabupaten Grobogan. Kejadian berlangsung pada Kamis, 1 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB dan membakar lahan pertanian jagung di Dusun Juwono, Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan sekitar dua hektare. BPBD Kabupaten Grobogan bersama unsur terkait melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan tidak terdapat bara api maupun titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali. Pada hari yang sama, api berhasil dipadamkan dan pemantauan terhadap kondisi di lokasi kejadian masih dilakukan.
Baca Juga:
BNPB Pastikan Pemulihan Pascagempa Ngada NTT BerlanjutSementara itu, karhutla juga terjadi di Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, pada Kamis, 1 Oktober 2026 sekitar pukul 14.30 WIT di Desa Kayasa dan Desa Gosale, Kecamatan Oba Utara. Kebakaran bermula dari lahan kosong milik warga yang ditumbuhi pohon bambu dan sagu. Api kemudian menyebar dengan cepat akibat tiupan angin kencang. Diperkirakan sekitar sembilan hektare hutan dan lahan terbakar. Berdasarkan laporan pada Kamis, 1 Oktober 2026, masih terdapat beberapa titik api dan tim TRC BPBD Provinsi Maluku Utara terus melakukan pemadaman di lokasi terdampak.
Selain karhutla, musim kemarau juga berdampak pada ketersediaan air bersih di Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku. Debit sumber air dan sumur warga menurun di Desa Piru, Kecamatan Seram Barat, sehingga sekitar 80 kepala keluarga terdampak. BPBD Kabupaten Seram Bagian Barat telah melakukan asesmen dan pendistribusian air bersih. Pada Kamis, 1 Oktober 2026, sebanyak 8.000 liter air bersih didistribusikan kepada masyarakat terdampak.
Kebutuhan air bersih juga menjadi perhatian di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, akibat sejumlah sumber air mulai mengering selama musim kemarau. Kondisi tersebut berdampak pada sekitar 1.327 kepala keluarga atau 4.242 jiwa di Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo, dan Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum. BPBD Kabupaten Kendal bersama unsur perangkat daerah terkait terus mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terdampak.
Pada Kamis, 1 Oktober 2026, BPBD Kabupaten Kendal dan PMI Kabupaten Kendal mendistribusikan 20.000 liter air bersih di Dusun Kalipuru dan Dusun Surak, Desa Kalirejo, Kecamatan Singorojo. Selain itu, bantuan CSR (KIK) sebanyak 34.000 liter disalurkan ke Dusun Jatigowok, Desa Kedungasri, Kecamatan Ringinarum. Hingga Kamis, 1 Oktober 2026, total distribusi air bersih telah mencapai 900.000 liter, termasuk dukungan dari berbagai unsur terkait.
Baca Juga:
BNPB Catat Karhutla di Sejumlah Wilayah, Begini Upaya PenanganannyaDi sisi lain, angin kencang terjadi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa, 29 September 2026. Kejadian tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah serta perahu milik warga di Desa Hiligeho Sogawu, Kecamatan Tabag Nasa. Sekitar sembilan kepala keluarga terdampak dan sembilan unit rumah mengalami kerusakan. BPBD Kabupaten Nias telah melakukan pendataan dan berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk penanganan kerusakan rumah warga terdampak. Berdasarkan laporan pada Kamis, 1 Oktober 2026, kondisi wilayah terdampak telah kondusif.
Pada skala yang lebih luas, upaya pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat, terus dilakukan secara terpadu. Operasi darat, operasi udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilaksanakan sesuai kondisi di lapangan. Pemadaman, pendinginan, pemantauan, dan pengendalian perluasan kebakaran terus diperkuat untuk menangani titik api yang masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Kondisi cuaca dalam beberapa hari ke depan turut menjadi perhatian dalam upaya pengendalian karhutla dan penanganan kekeringan. Berdasarkan prediksi Curah Hujan Kumulatif Dasarian I Oktober 2026, yakni periode 1–10 Oktober 2026, yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sejumlah wilayah diprakirakan mengalami curah hujan dominan pada kategori rendah dan menengah.
Wilayah tersebut meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan kekeringan di sejumlah wilayah. Masyarakat diharapkan tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan dan segera melaporkan kepada petugas berwenang apabila menemukan titik api agar dapat segera ditangani serta mencegah api meluas. Masyarakat juga diimbau menggunakan air secara efisien, mewaspadai potensi cuaca ekstrem, serta mengikuti informasi resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah setempat. (*)