KETIK, MALANG – Sejumlah kelompok yang tergabung dalam Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) menggelar pertemuan bertajuk "Muktamar Rakyat An-Nahdliyin" di Pesantren Rakyat, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Sabtu malam, 1 Agustus 2026.

Hal menarik dari forum yang dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai latar belakang tersebut adalah penandatanganan petisi oleh seluruh peserta. Mereka yang hadir berasal dari unsur ulama, kiai muda, petani, modin, wartawan, pembuat konten, hingga guru.

Ini merupakan kali kedua acara dikemas sebagai Jagongan Jelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, setelah sebelumnya diselenggarakan di Bahrul Ulum Al-Hamid pada 9 Juli lalu.

Total ada 5 poin petisi yang dihasilkan dalam pertemuan tersebut, yakni:

1. Seyogyanya NU kembali semangat pada pemberdayaan melalui Masjid dan Mushola. Diharapkan semua santri dan intelektual NU, kembali pada Masjid dan Mushola.

Baca Juga:
Pesantren sebagai Rumah NU: Menyambut Muktamar Ke-35

2. Menjadikan pesantren sebagai basis pemberdayaan dan kemaslahatan umat sebagaimana mestinya. 

3. Bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, maka revitalisasi di bidang pendidikan perlu ditingkatkan baik di bidang formal dan informal. 

4. NU harus menerapkan gerakan filantropi yang berkelanjutan.

5. Momentum Muktamar NU ke-35 adalah waktu yang tepat untuk kembali ke jati diri dengan revolusi ruhani.

Baca Juga:
Ratusan Massa Geruduk Bendungan Lahor, Buka Paksa Portal hingga Akses Jalan Kembali Gratis

Bismillahhirrohmannirohim, dengan ini kita membuat petisi untuk NU yang semakin lebih baik lagi dari waktu ke waktu,” kata KH Abdullah Sam, tuan rumah kegiatan.

Kiai Sableng Beri Kritik Sosial Melalui Permainan Wayang

Dalam acara yang berlangsung gayeng selama sekitar tiga jam tersebut, KH Abdullah Sam menyampaikan gagasannya dengan cara yang unik, yakni memainkan wayang berdialog antara tokoh Bagong dan Petruk. Lewat lakon ini, ia menyisipkan berbagai kritik sosial, khususnya mengenai dinamika di tubuh NU.

Salah satunya, ia menyoroti bahwa warga kultural NU tidak perlu diajari soal Makan Bergizi Gratis (MBG).

”Karena kita sudah banyak melakukan itu dengan adanya slametan orang wafat, brokohan, manaqib-an dan lain sebagainya,” katanya.

Begitu pula soal pemberdayaan, warga NU dinilainya sudah terbiasa menjalankan praktik tersebut secara mandiri.

”Karena kita sudah terbiasa saling tolong menolong dan kerja bakti,” katanya melalui tokoh Bagong.

Sementara itu, melalui tokoh Petruk, KH Abdullah Sam mengimbau para alumni pesantren, santri, dan tokoh NU untuk kembali memakmurkan rumah ibadah.

”Ramaikan masjid dengan mengajar mengaji, kalau perlu tidak masalah kalau harus membersihkan WC masjid,” pungkasnya.

Gus Atok: Ada 5 Hal yang Menjadi Daya Ungkit Pesantren

Pengasuh dan Pendiri Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, KH Athok Lukman Hakim, menyampaikan NU perlu daya ungkit agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat. 

Sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia dan mungkin dunia, dengan jama’ah mencapai 140-160 juta (hasil survei), kata dia daya ungkit pertama adalah Mushola dan Masjid.

”Keduanya bisa menghubungkan kita pada Allah, pada Nabi, juga pada gerakan wakaf yang seharusnya bisa efektif memberdayakan umat,” katanya.

Sedangkan daya ungkit kedua adalah pesantren. Selanjutnya adalah pendidikan. Filantropi atau wakaf yang produktif.

”Dan yang terakhir saya menyebutnya revolusi ruhani, jadi bagaimana yang semua kita lakukan, yang semua dilakukan pengurus NU, semata untuk khidmah dan untuk Allah, tidak untuk yang lain misal untuk ambisi politik dan lain sebagainya,” katanya.

”Jika revolusi ruhani dilakukan, maka ulama bisa menjalankan perannya sebagai pembimbing ruhani ummat dan pengingat bagi kekuasaan,” pungkasnya. 

Keluhan Modin

Hadir dalam kegiatan ini salah seorang modin atau petugas keagamaan dari Lowokwaru, Kota Malang yakni Sulis. Dalam kegiatan itu, dia menyampaikan unek-uneknya agar modin diperhatikan intensifnya.

“Di kota itu, ada anggapan kalau mudin itu gak ada gak masalah, itu kan berbahaya, jadi aspirasi saya itu,” pungkasnya.

NU Harus Punya Perbankan untuk Kaum Dhuafa

CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq, membuka pembicaraannya dengan mengenang pesantren rakyat yang dia kunjungi pada 2008 silam.

“Dua tahun lagi sudah 20 tahun, dulu pesantren rakyat ada di kontrakan kecil. Jadi, siapapun yang mengingat ketika awal dia berdiri serta apa niat baiknya, maka akan baik-baik semua, kalau NU mengingat apa niat dia didirikan, maka akan baik-baik saja semuanya,” katanya.

Thoriq, demikian dia akrab disapa, mengemukakan gagasan agar pemberdayaan di NU lebih terstruktur, maka menarik jika NU membuat bank untuk kaum dhuafa.

Ini juga sebagaimana yang dilakukan Muhammad Yunus di Bangladesh. Bagaimana, orang tak mampu diberi pinjaman tanpa agunan.

”Kan banyak penjual gorengan, UMKM yang kecil banget, dan semuanya tidak punya agunan, misal NU memberi pinjaman dan tanpa bunga bagi mereka, akan sangat membantu, bukan tak mungkin orang yang dibantu modal 5 juta misalnya, 5-10 tahun lagi bisa mempekerjakan banyak orang, maka di situ ekonomi berputar,” pungkasnya.

Sementara itu, hadir juga dalam pertemuan itu adalah Kholiq S.Pd (guru), H Zaenuddin (Kepala Sekolah SMA Al Rifa’i 2), Abdurrohman Al Mubarok, Lintar Bayu (Mubalikh Muda), Muhammad Mahrus (Koordinator JNM dan juga moderator), Yasin Arief (CEO Sabda Academy), Pengasuh Pondok Pesantren Dzunuroin Arrofiqi Pakis Gus Arif Billah, Alaudin Alex (Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Malang) dan sejumlah tokoh lain.(*)