KETIK, SLEMAN – Kabupaten Sleman kembali membuktikan diri sebagai pusat mahakarya sejarah dan sport tourism dunia. Melalui ikon "Kabupaten Seribu Candi", Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersiap menyambut ribuan pelari dari berbagai penjuru dalam ajang lari lintas alam paling unik di dunia, Sleman Temple Run (STR) 2026.
Mengusung konsep Running Around Temples, event yang telah memasuki penyelenggaraan ke-11 ini dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 23 Agustus 2026, dengan mengambil garis start dan finis di Kompleks Candi Banyunibo, Bokoharjo, Prambanan. Digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, ajang ini menargetkan 1.000 peserta.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, menegaskan bahwa promosi pariwisata berbasis event terbukti memberikan dampak signifikan, baik dalam memacu pertumbuhan ekonomi masyarakat maupun menghadirkan pengalaman berkesan bagi para wisatawan.
"Promosi destinasi wisata melalui event lari merupakan salah satu strategi utama kami. Kegiatan semacam ini tidak hanya mendongkrak aktivitas ekonomi lokal, tetapi juga memberikan kenangan dan pengalaman yang mendalam bagi setiap wisatawan yang hadir," ujar Abu Bakar.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Edy Winarya, yang menyoroti keunikan ajang tersebut. Sleman Temple Run merupakan satu-satunya event sport tourism di dunia yang menawarkan rute berlari melintasi candi-candi peninggalan abad ke-9 Masehi, dipadukan dengan panorama alam yang memukau serta kekayaan seni tradisi lokal.
Baca Juga:
Bupati Sleman Tegaskan Komitmen Pemerintahan Bersih, Pamong Kalurahan Wajib Profesional dan Utamakan Rakyat!Keunikan rute tersebut juga dijelaskan Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Irawati Palupi Dewi. Para peserta nantinya akan melintasi warisan budaya seperti Candi Banyunibo, Candi Barong, Candi Ratu Boko, Candi Miri, dan Candi Ijo, serta melewati destinasi ikonik lainnya, seperti Tebing Breksi, Spot Riyadi, hingga Arca Gupala.
"STR 2026 bukan sekadar lomba lari, melainkan sebuah perjalanan spiritual dan budaya. Event ini telah mengantongi rekomendasi resmi dari Asosiasi Lari Trail Indonesia serta terdaftar secara internasional di International Trail Running Association," tutur Irawati Palupi Dewi.
Kompetisi terbagi dalam tiga kategori jarak, yakni 7 kilometer, 15 kilometer, dan 30 kilometer untuk kategori putra maupun putri. Panitia menyiapkan total hadiah belasan juta rupiah bagi para juara di setiap kategori. Juara I kategori 30K akan memperoleh hadiah sebesar Rp7 juta, Juara I kategori 15K sebesar Rp4 juta, dan Juara I kategori 7K sebesar Rp3 juta. Selain itu, panitia juga menyediakan hadiah bagi peringkat kedua dan ketiga di setiap kategori.
Tidak hanya menyuguhkan rute bersejarah yang menantang, daya tarik utama STR #11 tahun ini adalah pelibatan aktif masyarakat lokal dari berbagai dusun yang dilalui peserta. Warga setempat telah menyiapkan panggung seni budaya untuk menyambut sekaligus menghibur para pelari di sepanjang rute.
Baca Juga:
Pemkab Sleman Luncurkan Aplikasi Gandheng ATS untuk Tekan Angka Anak Tidak SekolahBerbagai kesenian tradisional siap memanjakan mata peserta, mulai dari penampilan Jathilan Kudho Song Pace di Sambirejo, Tari Sembagi Aruntala di Wukirharjo, pertunjukan tari dan karawitan dari Sanggar Jagadhita di Madurejo, Tari Edan-Edanan di Bokoharjo, Sanggar Mintorogo dengan Tari Jaran Gaul dan Menak Koncar di Gayamharjo, hingga sajian megah Tari Sasmito Manunggal di Sumberharjo.
Bagi peserta yang telah mendaftar, panitia memastikan kenyamanan melalui berbagai fasilitas, meliputi race pack, jersey resmi, BIB Number, medali finisher, titik air minum, dokumentasi foto profesional, tim medis siaga, fisioterapis, marshal pengarah jalur, hidangan pemulihan setelah berlari, hingga panggung hiburan. Ajang hasil kolaborasi dengan komunitas Trail Runners Yogyakarta ini siap menjadi mahakarya sport tourism penutup bulan kemerdekaan yang tak terlupakan. (*)