KETIK, YOGYAKARTA – Tanaman rempah dan herbal Nusantara bukan sekadar bumbu dapur, melainkan identitas budaya sekaligus potensi ekonomi yang menjanjikan. Identifikasi tanaman herbal di lingkungan pekarangan rumah memberikan manfaat besar dalam meningkatkan pengetahuan dan mencukupi kebutuhan kesehatan keluarga.
Meski telah lama dimanfaatkan sebagai bahan jamu dan pengobatan tradisional, pengetahuan masyarakat dalam mengenali jenis, ciri, dan manfaat tanaman herbal masih tergolong terbatas.
Keterampilan tersebut perlu terus dibagikan agar warga mampu menemukenali kembali khasiat rempah secara tepat, aman, dan berkelanjutan. Langkah ini sekaligus mendukung pelestarian kearifan lokal serta meningkatkan pendapatan warga melalui komoditas rempah dan produk olahannya.
Edukasi Praktis dan Pelestarian Kearifan Lokal
Upaya memperkuat pemahaman dan kecintaan terhadap kekayaan rempah Nusantara terus didorong melalui pemberdayaan kaum perempuan.
Untuk memelihara pengetahuan tradisional yang bermanfaat bagi keluarga, Yayasan SAMIN (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) bekerja sama dengan Yoga Djaya, Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Mupangati Kopi Samigaluh, dan Kelompok Desa Prima Kalurahan Wedomartani menggelar workshop bertajuk Rempah Nusantara Sebagai Identitas pada Sabtu 19 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Yayasan SAMIN, Jalan Menur No. 12 Blotan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman tersebut secara khusus menyasar para kader Desa Prima Wedomartani.
Acara diselenggarakan dengan tiga tujuan utama, yaitu meningkatkan pengetahuan peserta tentang jenis dan ciri tanaman herbal di lingkungan rumah, membekali kemampuan dasar produksi minuman rempah serta identifikasi tanaman yang aman, hingga mendorong peningkatan nilai rempah sebagai komoditas yang menghasilkan secara bijak.
Tiga narasumber ahli dihadirkan untuk memberikan pemahaman secara mendalam. Dosen Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Dr Yohanes Dwiatmaka MSi, menyampaikan materi mengenai Jalur Rempah. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi pentingnya teknik pengolahan yang benar bagi konsumsi harian.
"Bagi Ibu-Ibu, pengetahuan dalam mengenali manfaat dan mengolah secara tepat guna penting supaya khasiat bagi tubuh terutama kesehatan dan konsumsi keseharian menjadi maksimal," ujar Yohanes.
Sesi berikutnya diisi oleh Purnomo Widyo Nugroho dari Mupangati Kopi Samigaluh yang membawakan materi bertajuk Suket Godong Dadi Rewang. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan pengetahuan lokal tersebut dari kepunahan.
"Rempah selaku sumber kearifan dan pengetahuan lokal yang dipelihara sejak nenek moyang bisa tetap terjaga manfaatnya secara turun temurun dan tidak punah," tutur Purnomo.
Sementara itu, materi mengenai Pemanfaatan Tanaman Herbal Secara Tepat, Aman, dan Berkelanjutan disampaikan oleh Santi Wijaya Hesti Utami dari Yoga Djaya. Tak sekadar menerima teori, para peserta juga mempraktikkan langsung cara mengolah bahan rempah menjadi minuman harian berkhasiat dengan panduan dari Santi.
Dampak Nyata Kesehatan Hingga Sarana Terapi
Manfaat nyata dari identifikasi tanaman rempah dirasakan langsung oleh peserta. Haryanti, anggota Desa Prima Wedomartani, memberikan kesaksian langsung mengenai khasiat tanaman di sekitar pekarangan rumahnya.
"Tanaman rempah di rumah, salah satunya daun kelor, sangat membantu mempercepat kesembuhan saat saya mengalami influenza," ungkap Haryanti.
Dukungan dan apresiasi senada disampaikan oleh Shifa Amalya selaku Ketua PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat). Menurutnya, workshop ini memberikan wawasan berharga terkait cara olah, produksi, dan potensi komoditas rempah, sekaligus menjadi sarana efektif untuk menggali kembali nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi keluarga.
Sebagai pemungkas acara, Arief Winarto dari Yayasan SAMIN menyampaikan arah pengembangan program ini ke depan bagi pendampingan anak dan keluarga.
"Bentuk pelatihan seperti ini adalah salah satu metode yang akan dikembangkan sebagai sarana terapi bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan beserta keluarganya," pungkas Arief. (*)
