KETIK, TUBAN – Inisiatif masyarakat dalam menjaga kelestarian Sungai Bengawan Solo terus mendapatkan apresiasi positif. Salah satunya datang dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tuban, Tia Antika Pramesti, yang secara terbuka memberikan dukungannya terhadap hadirnya komunitas Sabhyanadipala.
Tia menilai pembentukan Sabhyanadipala bukan sekadar gerakan seremonial, melainkan wadah berkelanjutan bagi warga khususnya yang bermukim di sepanjang bantaran sungai untuk merawat ekologi, budaya, serta sejarah Bengawan Solo.
“Kami menyambut baik hadirnya Sabhyanadipala. Ini bentuk nyata kepedulian masyarakat secara berkesinambungan. Perhatiannya tidak hanya sebatas ekologi, tetapi juga mencakup aspek sejarah dan budaya,” ujar politisi muda kelahiran 19 November 2000 tersebut.
Menurut Tia keberadaan Bengawan Solo tak terpaut jauh dari urat nadi perekonomian warga lokal yang mengandalkan sungai untuk menangkap ikan, bercocok tanam, hingga beternak. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan sungai dari sampah dan limbah menjadi tanggung jawab moral bersama.
Dari sudut pandang sejarah, keberadaan sungai terpanjang di Pulau Jawa ini juga terekam dalam Prasasti Canggu tahun 1358 M peninggalan era Majapahit. Sejumlah desa penyeberangan kuno yang tercantum dalam prasasti diantaranya Desa Ngadirejo, Desa Kebomlati, dan Widang masih berdiri kokoh hingga hari ini.
Baca Juga:
KTH Karya Mandiri Tuban Siapkan 35 Ribu Bibit Penghijauan DAS Solo Lewat KBR, Harap Rangkulan Pertamina“Melihat warisan sejarah dan budaya yang begitu bernilai, kami di jajaran legislatif memiliki kewajiban mendukung penuh gerakan ini. Semoga Sabhyanadipala menjadi wadah positif dari Tuban untuk Tuban,” pungkasnya.
Informasi dihimpun, Deklarasi Sabhyanadipala dijadwalkan berlangsung di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang, pada Minggu 23 Agustus 2026.
Rangkaian kegiatan akan menyajikan perpaduan aksi lingkungan dan tradisi lokal mulai Ngintir Bengawan Solo yakni aksi menyusuri sungai menggunakan perahu yang dimulai dari Desa Ngadirejo, Kecamatan Rengel menuju titik lokasi acara di Desa Kebomlati, Kecamatan Plumpang.
Lalu, Ritual Budaya Tukon Banyu Nggawan yakni tradisi lokal sebagai simbol penghormatan dan ruang syukur atas keberadaan sumber daya air Bengawan Solo dan ditutup pentas seni tradisional.(*)