KETIK, PACITAN – Aktivitas bongkar hasil tangkapan tuna terlihat di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kabupaten Pacitan. 

Sejumlah tuna berukuran jumbo tampak memenuhi area pendaratan ikan sebelum dilakukan penanganan dan proses distribusi.

Pantauan Ketik.com di lokasi, Rabu, 23 September 2026, puluhan ekor tuna terlihat ditata di area pendaratan. 

Para pekerja tampak melakukan aktivitas pemindahan dan penanganan ikan menggunakan wadah berukuran besar serta peralatan yang tersedia di pelabuhan.

Ikan-ikan tuna tersebut memiliki ukuran yang cukup beragam. 

Baca Juga:
Rerata Jatah BBM Bersubsidi Nelayan Kecil Pacitan 1.000 Liter per 3 Bulan, Begini Penyalurannya

Beberapa ekor tampak berukuran besar dengan bobot puluhan kilo yang membutuhkan tenaga beberapa orang untuk memindahkannya. 

Hasil tangkapan tuna menjadi salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi bagi nelayan Pacitan. 

Berdasarkan keterangan sala satu pengelola Kapal Mandiri Sukses, Joko Suyanto, hasil tangkapan tuna di wilayah tersebut mengalami peningkatan sejak Mei 2026 hingga September 2026.

"Panen tuna terjadi sejak bulan Mei 2026 sampai sekarang. Tapi sekarang sudah mulai sudo (turun)," kata Joko saat ditemui di PPP Tamperan Pacitan, Rabu, 23 September 2026.

Baca Juga:
Minta Tarif Kios Pasar Minulyo Pacitan Turun, Disdagnaker Arahkan Pedagang Usul ke DPRD

Besarnya hasil tangkapan bergantung pada ukuran kapal. 

Dalam satu kali melaut, kapal sekoci disebut dapat memperoleh sekitar 6 ton tuna. 

Kapal slerek berukuran sedang dapat mencapai sekitar 30 ton, sedangkan kapal berukuran lebih besar dapat menghasilkan sekitar 200 hingga 300 ton. 

"Paling lama, bisa sampai 9 bulan melaut," ungkapnya.

Tuna hasil tangkapan dari Pacitan tidak seluruhnya berhenti di pasar domestik. 

Joko mengatakan sebagian hasil tangkapan dipasarkan untuk kebutuhan ekspor ke sejumlah negara, di antaranya China, Jepang, dan Vietnam.

"Ya ada yang ke Cina, ada yang ke Jepang, ada yang ke Vietnam," ujarnya.

Dari sisi harga, tuna berukuran kecil disebut berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram.

Menyasar konsumen partai kecil, seperti pedagang keliling, hingga pengolahan Tahu Tuna.

Sementara tuna berukuran besar memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dan dapat mencapai jutaan rupiah, bergantung pada ukuran dan kualitasnya.

Untuk mendapatkan hasil tangkapan tersebut, nelayan harus melaut hingga ratusan kilometer dari garis pantai. 

Joko menyebut wilayah pencarian tuna dapat mencapai sekitar 270 kilometer dari bibir pantai.

Dalam proses penangkapan tuna dilakukan menggunakan pancing. 

Nelayan menggunakan pemberat yang disebut andong serta umpan berupa cumi-cumi atau umpan buatan. 

Sistem pelampung dengan beberapa ukuran digunakan untuk membantu menghadapi tarikan ikan yang berbeda-beda.(*)