KETIK, MALANG – Mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan sebuah media edukasi bertajuk PlantCare Kit sebagai upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap isu perubahan iklim.
Inovasi ini dirancang agar pelajar dan masyarakat dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan melalui kegiatan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menanam tanaman dan mengolah limbah organik.
Lahir dari hasil pengamatan di kawasan Pemandian Dewi Sri, Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, PlantCare Kit hadir sebagai respons terhadap meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor.
Tim mahasiswa yang terdiri atas Misfalah Arum Syandana, Aprillia Dwi Tri Susanti, Johanna Kartika Adventina P. D., Khofifah Dwi Rahmawati, dan Sururin Masfufah melihat perlunya media pembelajaran yang mampu menghubungkan teori perubahan iklim dengan kondisi nyata di lapangan.
Pengembangan media ini merupakan bagian dari implementasi mata kuliah Pendidikan Biologi untuk Pembangunan Berkelanjutan yang dibimbing oleh Prof. Dr. Hadi Suwono, M.Si. dan Dr. Sueb, M.Kes. Selain sebagai sarana belajar, PlantCare Kit diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Baca Juga:
Dipanggil Pemkot, Pemilik Bangunan di Atas Sungai Jalan Semeru Kota Malang Akui Salah dan Siap BongkarBerdasarkan hasil observasi, kawasan Pemandian Dewi Sri menghadapi sejumlah persoalan ekologis, seperti alih fungsi lahan hutan menjadi area pertanian, tingginya curah hujan, kemiringan lereng yang curam, serta saluran air yang tersumbat sampah. Faktor-faktor tersebut dinilai memperbesar potensi terjadinya banjir dan longsor yang berdampak pada aktivitas masyarakat maupun sektor pariwisata.
Melalui pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, PlantCare Kit mengajak peserta didik untuk memahami bahwa perubahan iklim bukan sekadar konsep dalam buku pelajaran, melainkan persoalan nyata yang membutuhkan aksi bersama.
Anggota tim pengembang, Misfalah Arum Syandana, mengatakan bahwa media tersebut dirancang agar masyarakat dapat melihat secara langsung hubungan antara aktivitas manusia dan kondisi lingkungan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa tindakan sederhana, seperti menanam tanaman, mengolah limbah organik, dan menjaga daerah resapan air, dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar dalam mengurangi risiko bencana akibat perubahan iklim," ujarnya.
Baca Juga:
Berawal dari Bantu Teman Nikah, Ibu Rumah Tangga di Kota Malang Raup Rezeki dari Bisnis Mahar dan SeserahanPlantCare Kit dilengkapi dengan beberapa komponen, seperti bibit tanaman, eco-enzyme, arang sekam, sekop mini, dan buku panduan penggunaan. Setiap perlengkapan memiliki fungsi edukatif untuk mengenalkan pentingnya vegetasi, pengelolaan limbah organik, dan peningkatan daya serap tanah terhadap air.
Keunggulan media ini terletak pada penerapan pembelajaran berbasis praktik. Siswa tidak hanya mempelajari teori perubahan iklim, tetapi juga diajak melakukan pengamatan, eksperimen, dan menyusun solusi atas permasalahan lingkungan di sekitar mereka. Dengan demikian, kemampuan berpikir kritis dan kepedulian terhadap lingkungan dapat tumbuh sejak usia sekolah.
Dalam implementasinya, PlantCare Kit digunakan pada pembelajaran perubahan iklim bagi siswa kelas X SMA. Melalui demonstrasi menggunakan diorama, peserta didik diajak memahami keterkaitan antara vegetasi dan risiko bencana, kemudian merancang proyek mitigasi yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar.
Aprillia Dwi Tri Susanti menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis proyek menjadi salah satu keunggulan dari media ini.
"Harapan kami, siswa tidak hanya memahami konsep perubahan iklim secara teoritis, tetapi juga mampu mengenali persoalan lingkungan di sekitarnya dan terlibat dalam upaya mencari solusi yang nyata," katanya.
Bagi tim mahasiswa, pengembangan PlantCare Kit juga menjadi pengalaman yang memperlihatkan bahwa ilmu biologi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Johanna Kartika Adventina P. D. menilai bahwa pendidikan biologi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran lingkungan.
"Melalui proyek ini, kami belajar bahwa pendidikan biologi bukan hanya tentang materi di ruang kelas, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan," ungkapnya.
Selain memberikan manfaat edukatif, PlantCare Kit juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDGs 13 tentang penanganan perubahan iklim, SDGs 15 mengenai pelestarian ekosistem daratan, serta SDGs 11 tentang pembangunan kota dan komunitas yang berkelanjutan.
Ke depan, PlantCare Kit diharapkan dapat dimanfaatkan oleh lebih banyak sekolah, komunitas, hingga kawasan wisata berbasis alam. Inovasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas mahasiswa mampu menghadirkan solusi sederhana yang berdampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat upaya menghadapi tantangan perubahan iklim di masa mendatang.(*)