KETIK, JAKARTA – Realisasi investasi nasional di luar Pulau Jawa semakin menguat seiring meningkatnya kontribusi program hilirisasi. Hingga semester I-2026, lebih dari 75 persen investasi tercatat terealisasi di luar Jawa, sejalan dengan berkembangnya industri pengolahan berbasis sumber daya alam.

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan hilirisasi menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan persebaran investasi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.

Hal itu diungkapkan Rosan pada Groundbreaking dan Komersialisasi 11 Ekosistem Hilirisasi Nikel serta Ekspor Perdana Baterai Kendaraan Listrik di Kawasan Industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Kamis, 22 Oktober 2026.

“Dan lebih dari 75 persen terealisasi di luar Jawa, Bapak Presiden. Kita melihat hilirisasi ini akan terus meningkat ke depannya,” kata Rosan seperti dilansir Suara.com, jaringan Ketik.com, Jumat, 23 Oktober 2026.

Menurut Rosan, kontribusi investasi hilirisasi terhadap total investasi nasional juga mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Dari sebelumnya sekitar 25 persen, porsinya kini mencapai 30 persen.

Baca Juga:
Investor Lirik Mal Saruma di Halmahera Selatan, Bupati Penentu

“Dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat, Bapak. Dalam dua tahun terakhir ini, kontribusi hilirisasi dari 25 persen sudah mencapai 30 persen dari total investasi yang masuk,” ujarnya.

Secara keseluruhan, realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut turut menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja.

“Memang investasi di semester pertama 2026 ini, alhamdulillah mencapai realisasi investasi Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta orang,” kata Rosan.

Dari sisi sektor usaha, investasi masih didominasi industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya.

Baca Juga:
Investasi Nasional Tembus Rp1.539 Triliun, Serap 2,19 Juta Tenaga Kerja

 Sektor lainnya yang turut berkontribusi meliputi jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran.

Rosan mencontohkan perkembangan hilirisasi di Maluku Utara sebagai gambaran perubahan struktur ekonomi daerah. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai penghasil bahan tambang kini berkembang menjadi salah satu pusat industri pengolahan nasional.

Perubahan tersebut juga terlihat dari jenis produk yang dihasilkan. Jika sebelumnya ekspor lebih bertumpu pada bijih mineral mentah, kini produk olahan nikel dari Maluku Utara semakin beragam, mulai dari feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate hingga cobalt.(*)