KETIK, MALANG – Hari Buku Nasional yang diperingati setiap 17 Mei menjadi momen penting untuk merefleksikan kembali pentingnya menggencarkan budaya membaca. Di era modern ini, media membaca pun kini semakin variatif dan tidak lagi terbatas pada buku fisik semata
Pustakawan Muda Dinas Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah (Dispussipda) Kota Malang, Santoso Mahargono, menjelaskan bahwa masyarakat saat ini dapat memanfaatkan bacaan digital yang semakin mudah diakses. Menurutnya, sebuah negara mustahil maju dan memiliki daya saing yang kuat tanpa didasari oleh budaya literasi yang tinggi.
"Tanpa membaca, negara yang bisa dianggap maju tetapi ternyata daya saingnya enggak begitu kuat. Ya itu karena kita tidak memiliki pengetahuan," ujarnya.
Ia menganalogikan, dalam peperangan diperlukan senjata yang dapat dihasilkan dari pengetahuan. Dalam menangkal senjata pun tetap diperlukan pengetahuan.
Perpustakaan Kota Malang sendiri berupaya memperluas pengetahuan masyarakat dengan mempermudah akses bacaan. Tak hanya layanan langsung, namun juga melakukan perpustakaan digital hingga memperluas akses jangkauan masyarakat di MPP, MCC hingga taman kota.
Baca Juga:
Tergerus Perkembangan Digital Yang Kian Pesat, Pasar Buku Velodrome Kota Malang Kian Sepi Pembeli"Kalau tidak dimulai dari sekarang, ya kita akan terus terbelakang. Makanya di Hari Buku Nasional ini fokusnya adalah bagaimana kita memberikan kemudahan akses bacaan bagi masyarakat. Kita juga mengimbau kepada masyarakat untuk mempertahankan atau meningkatkan untuk kegemaran membacanya," sebutnya.
Santoso menggarisbawahi bahwa kegemaran membaca sebetulnya tidak dimulai dari perpustakaan. Lingkungan keluarga justru memegang peranan paling penting dalam menumbuhkan minat baca sejak dini.
"Kalau keluarganya sudah kuat memiliki kegemaran membaca, otomatis dia tidak hanya berkunjung ke perpus, dia nanti akan belanja buku di toko. Kemudian nanti dia akan memanfaatkan bacaannya itu di semua tempat," katanya.
Selain keluarga, institusi pendidikan atau sekolah juga memikul tanggung jawab besar dalam membangun budaya literasi ini. Pihak sekolah wajib memberikan pemahaman kepada para murid bahwa pengetahuan itu bersifat sangat luas dan tidak melulu terbatas pada materi yang diajarkan di dalam kelas.
Baca Juga:
Perpustakaan Kota Batu Tak Lagi Sekadar Tempat Baca, Kini Jadi Ruang Literasi Inklusif"Kalau minat baca itu dimulai dari keluarga, kemudian di sekolah juga dibentuk model atau konsep untuk membaca, itu akan menjadikan makna peringatan Hari Buku Nasional itu bisa benar-benar terealisasi," tutupnya. (*)