KETIK, SURABAYA – Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau yang akrab disapa Gus Irfan mengaku malu mendengar kondisi internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar 2026.

Rasa kecewanya itu dikarenakan semangat dalam forum yang berjalan lima tahunan tak berjalan seperti semangat para ulama terdahulu. Kini diwarnai perebutan jabatan.

Ungkapan rasa kecewanya itu disampaikan di sela kunjungannya di Asrama Haji Surabaya pada Rabu, 1 Juli 2026. Sekaligus menutup operasional haji 2026.

"Saya berharap Muktamar nanti bisa menjadi Muktamar yang sejuk. Muktamar yang menggambarkan bahwa itulah Nadhlatul Ulama, itulah NU, itulah ulama," tegasnya.

Ia tak ingin Muktamar NU menjadi Muktamar partai politik. Di mana saling berebut, saling menolak hingga saling menjegal dimana tak sesuai dengan semangat Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:
Kurangi Beban Embarkasi Surabaya, Menhaj Operasikan Bandara Dhoho untuk Layani Jemaah Haji Mulai 2027

Cucu pendiri Organisasi NU ini berharap para petinggi NU bisa bercermin kepada para kiai pendahulu. Mereka justru menolak ketika diminta menjadi pengurus, karena menganggap jabatan sebagai amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat.

"Para petinggi-petinggi NU berkaca pada para pendahulu-pendahulu, kiai-kiai terdahulu di mana mereka saling menolak untuk dipilih menjadi pengurus karena merasa bahwa itu tanggung jawab yang berat," tegasnya.

Lebih lanjut melihat kondisi ini, ia mengungkapkan rasa kecewanya terhadap dinamika yang terjadi di internal menjelang Muktamar.

"Saya sebagai bagian dari keluarga besar Nahdliyin, ya, bisa dikatakan saya sebagai keluarga dari pendiri sangat malu. Sangat kecewa, bahkan dalam tanda petik, 'sangat marah' dengan apa yang terjadi di sini. Mudah-mudahan mereka ini sadarlah," ungkapnya. 

Baca Juga:
Menjaga Sanad Adab Menjelang Muktamar NU

Sebagai informasi, Muktamar NU dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026. Menjelang pelaksanaan, terjadi dinamika internal. Salah satu isu yang muncul mengenai persaingan menuju kepengurusan baru. (*)