KETIK, BLITAR – Turnamen sepak bola antar kampung (tarkam) Piala Ketua KONI Kabupaten Blitar di Desa Kedawung, Kecamatan Nglegok, mendadak kehilangan tensi pertandingan dan berubah menjadi insiden kericuhan.
Laga antara Sumberasri FC kontra Blue Wlingi yang semestinya menjadi bagian dari perayaan Hari Jadi Blitar ke-702 sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia itu harus dihentikan setelah seorang suporter diduga melakukan pemukulan terhadap wasit.
Persoalan bermula ketika pertandingan memasuki menit ke-87. Saat itu, Blue Wlingi masih unggul 2-1 atas Sumberasri FC.
Kubu Sumberasri FC kemudian memprotes keputusan wasit setelah sebuah peluang di depan gawang dianggap telah melewati garis dan seharusnya menjadi gol penyama kedudukan.
Namun, wasit memutuskan bola belum sepenuhnya melewati garis gawang sehingga gol tidak disahkan.
Baca Juga:
121 Tim Ikuti Kapolres Asahan Cup, Wabup Rianto Dorong Pembinaan Talenta BerkelanjutanPerdebatan di lapangan kemudian berkembang menjadi kericuhan setelah seorang suporter menerobos masuk ke area permainan dan melakukan pemukulan terhadap wasit.
Situasi yang semakin tidak kondusif membuat pengawas pertandingan mengambil keputusan untuk menghentikan laga.
Ketua Harian KONI Kabupaten Blitar, Fatatoh Hironi Ulya, mengatakan penghentian pertandingan dilakukan karena kondisi di lapangan sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan permainan.
“Ada salah satu dari suporter yang masuk ke lapangan dan terjadi pemukulan wasit. Terus akhirnya, karena ada protes dari pihak Sumberasri FC untuk menginginkan kejadian di menit terakhir itu menjadi sebuah gol,” kata Fatatoh, Selasa 18 Agustus 2026.
Baca Juga:
Persebaya Tutup Pramusim Tanpa Kekalahan, Taklukkan Penang FC 1-0 di GBTMenurutnya, keputusan wasit terkait gol tersebut tetap mengacu pada pengamatan perangkat pertandingan di lapangan.
“Tapi sesuai dengan keputusan wasit, memang bola itu belum melewati garis dari gawang. Akhirnya, karena ada sesuatu, pihak dari pengawas pertandingan menyatakan ini adalah force majeure dan itu tidak bisa dilanjutkan,” lanjutnya.
Penghentian laga membuat pertandingan tidak menghasilkan penyelesaian di lapangan. Persoalan mengenai apakah bola telah melewati garis gawang maupun konsekuensi dari insiden pemukulan akhirnya harus dibawa ke ranah disiplin organisasi sepak bola.
Fatatoh menjelaskan, sengketa pertandingan selanjutnya akan ditangani Komisi Disiplin (Komdis) PSSI Kabupaten Blitar.
“Karena pertandingan tidak bisa dilanjutkan dan tidak ada titik temu, nasib laga ini dibawa ke Komisi Disiplin PSSI Kabupaten Blitar,” tegasnya.
Pihak Sumberasri FC juga diberikan kesempatan untuk menyampaikan keberatan secara resmi. Mereka diminta melengkapi laporan dengan bukti yang dapat memperkuat klaim terkait gol yang dipersoalkan.
“Pihak Sumberasri FC diberi waktu 1×24 jam untuk melampirkan berkas aduan beserta bukti video yang menunjukkan apakah bola sudah melintasi garis gawang atau belum,” imbuh Fatatoh.
Dengan demikian, hasil akhir pertandingan belum ditentukan hanya berdasarkan keputusan di lapangan.
Komdis PSSI Kabupaten Blitar nantinya akan memeriksa laporan serta bukti yang diajukan untuk menentukan status pertandingan, termasuk persoalan gol yang diprotes Sumberasri FC.
Selain itu, tindakan terhadap pihak yang diduga melakukan pemukulan terhadap perangkat pertandingan juga menjadi bagian yang dapat diperiksa dalam proses disiplin tersebut.
Insiden ini sekaligus menjadi catatan bagi penyelenggaraan turnamen sepak bola tingkat lokal yang kerap mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Panitia dan penyelenggara pun didorong melakukan evaluasi, terutama berkaitan dengan pengamanan pertandingan dan pengendalian suporter.
Sebab, semangat kompetisi dalam turnamen tarkam seharusnya tidak berhenti pada perebutan kemenangan.
Ketika keputusan wasit mulai dipersoalkan dan emosi penonton masuk ke lapangan, pertandingan yang seharusnya menjadi hiburan justru dapat berubah menjadi persoalan yang lebih serius.
KONI Kabupaten Blitar memastikan proses selanjutnya akan mengikuti mekanisme yang berlaku. Keputusan mengenai nasib pertandingan dan kemungkinan sanksi akan menunggu hasil pemeriksaan Komdis PSSI Kabupaten Blitar.