KETIK, MALANG – Menjelang Hari Raya Iduladha, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) melepas Tim Kesehatan Pemeriksa Hewan Kurban pada Senin, 25 Mei 2026. Tim yang terdiri dari ratusan mahasiswa dan puluhan dosen ini bertugas memastikan kesehatan hewan kurban serta kelayakan dagingnya untuk dikonsumsi masyarakat.

Hari Raya Iduladha menjadi momen spesial bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat Muslim. Kesiapan dan kesehatan hewan kurban menjadi salah satu yang terus dipersiapkan hingga hari H. 

Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Brawijaya (UB) sebagai salah satu instansi pendidikan yang berfokus pada kesehatan hewan menjadi pihak yang memiliki tugas dan fungsi dalam mempersiapkan kesehatan dari hewan kurban.

Kegiatan Pelepasan Tim Kesehatan Pemeriksa Hewan Kurban yang digelar oleh FKH UB bertujuan untuk mempersiapkan mahasiswa yang akan dikirim ke daerah-daerah di Malang dan sekitarnya hingga ke Kota Mojokerto untuk memastikan kesehatan hewan kurban hingga distribusi daging kepada masyarakat.

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menuturkan jika pada momentum Iduladha ini FKH UB memiliki fungsi dan tugas untuk membantu masyarakat dalam memastikan kesehatan hewan kurban. Menurutnya, menugaskan mahasiswa untuk langsung turun pada masyarakat adalah suatu hal yang bagus.

Baca Juga:
Dalami Pembobolan Toko HP di Kota Malang, Polisi Kantongi Bukti Rekaman CCTV

"Fakultas Kedokteran Hewan itu memiliki salah satu tugas dan fungsi, di antaranya adalah untuk menjaga agar masyarakat kita juga terhindar dari penyakit-penyakit yang menular, khususnya dari hewan kepada manusia. Dan ini menjadi bagian penting bahwa perguruan tinggi itu memiliki manfaat langsung kepada masyarakat dan ini menjadi living laboratory bagi universitas," tuturnya.

Dalam tugas kemasyarakatan ini, FKH UB mengirim 960 mahasiswa dan 41 dosen ke berbagai daerah Malang Raya dan Mojokerto. Dengan pembagian mahasiswa, 400 mahasiswa dan 15 dosen di Kota Malang, 100 mahasiswa dan 5 dosen di Kabupaten Malang, serta 300 mahasiswa dan 4 atau 5 dosen di Kota Batu.

Kegiatan penyembelihan hewan kurban dapat berjalan sesuai syariat dan pastinya hasil dagingnya layak untuk dikonsumsi. Drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed selaku Ketua Pelaksana Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026 mengungkapkan jika nantinya pengecekan hewan difokuskan pada beberapa organ.

"Kami nanti terfokus di beberapa organ yang nanti akan diperiksa oleh mahasiswa apakah di situ nanti ada temuan abnormalitas, ini layak dimakan atau tidak, dan apakah ini perlu dieliminasi atau dibuang atau tidak karena mungkin tidak layak makan karena untuk beberapa tahun terakhir ini ada beberapa kasus yang membuat kadang daging itu tidak layak makan," ujar drh. Yulinar.

Baca Juga:
Orang Tua Jangan Khawatir! Anak Usia di Bawah 7 Tahun Tetap Bisa Masuk SD Negeri Kota Malang

Ia mengatakan, dari tahun ke tahun cacing hati menjadi temuan yang paling sering ditemukan pada sapi saat penyembelihan hewan kurban. Selain itu, penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) dan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) juga masih banyak dijumpai pada hewan kurban. Karena itu, FKH UB bertugas memeriksa kondisi kesehatan hewan sebelum proses penyembelihan dilakukan.

Dengan berkoordinasi langsung bersama sejumlah daerah di Malang dan sekitarnya, tim FKH UB mulai melakukan pemeriksaan sehari sebelum penyembelihan untuk memastikan hewan kurban memenuhi syariat Islam, dalam kondisi sehat, dan tidak mengalami cacat.

Dekan FKH UB, drh. Dyah Ayu Oktavianie AP., M.Biotech., AP.Vet., menyampaikan jika tahun ini berupaya untuk melakukan pencegahan pada hewan-hewan kurban dari penyakit-penyakit menular. Ia mengatakan bahwa beberapa tempat di Malang Raya masih ditemukan virus PMK dan LSD. Sehingga dari FKH UB akan bersinergi dalam mengamankan hewan-hewan kurban supaya tidak tertular ketika ada salah satu hewan yang mulai terjangkit penyakit tersebut.

"Kami juga berusaha untuk mengamankan agar supaya bukan hanya hewan kurbannya yang aman, namun juga bagaimana tidak sampai menimbulkan penularan dari wilayah-wilayah tersebut," jelasnya.

Dengan kolaborasi bersama pemerintah, FKH UB bersinergi dalam pemeriksaan hewan kurban dengan rekapan data yang sudah dimiliki. Data tersebut bisa menjadi suatu arsip file yang nantinya dapat digunakan untuk menciptakan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan hewan kurban ke depannya.(*)