KETIK, PALEMBANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terjadi di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) seiring masuknya musim kemarau.

Sedikitnya empat kabupaten telah terdeteksi mengalami kejadian kebakaran, sementara perusahaan perkebunan skala besar memperkuat langkah pencegahan guna mengantisipasi meluasnya titik api.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan wilayah yang mulai terdampak karhutla meliputi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Rawas Utara (Muratara), Muara Enim, dan Ogan Ilir.

"Hingga saat ini kami bersama tim gabungan telah melakukan pemadaman di sejumlah lokasi yang terdeteksi mengalami kebakaran," ujarnya saat dikonfirmasi via Whatsapp, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Ferdian, memasuki musim kemarau, patroli lapangan terus ditingkatkan untuk mencegah meluasnya kebakaran. Sebanyak 275 personel Manggala Agni di Sumatera Selatan saat ini berada dalam status Siaga 1 dan siap diterjunkan kapan saja.

Baca Juga:
Monsun Australia Aktif Jadi Faktor Penyebab Cuaca Panas di Sumsel, BMKG: Waspada Karhutla!

Selain dukungan personel darat, operasi pemantauan juga diperkuat melalui penggunaan satu pesawat patroli dan tiga helikopter yang disiagakan untuk mendukung pemadaman maupun pengawasan wilayah rawan kebakaran.

Di tengah meningkatnya ancaman karhutla, sektor korporasi perkebunan besar disebut telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal tahun.

Ferdian menilai perusahaan-perusahaan besar, termasuk grup perkebunan nasional seperti Sinar Mas dan sejumlah korporasi besar lainnya, telah menunjukkan kesiapan yang cukup baik dalam menghadapi musim kemarau tahun ini.

"Secara umum perusahaan perkebunan dan pertanian skala besar sudah sangat siap. Sejak awal tahun mereka telah mengikuti berbagai pelatihan serta menyiapkan sumber daya manusia dan sarana prasarana pemadam kebakaran yang memadai," katanya.

Baca Juga:
Nasib 4 Oknum TNI yang Siram Air Keras ke Aktivis KontraS, Dituntut 2,5 Tahun Bui

Kesiapan tersebut dinilai penting mengingat wilayah Sumatera Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan saat curah hujan mulai menurun.

Meski demikian, hasil pemantauan menunjukkan mayoritas titik api yang ditemukan saat ini justru berasal dari lahan perkebunan masyarakat dengan skala kecil.

Ferdian menjelaskan sebagian besar kebakaran terjadi pada lahan seluas sekitar 0,5 hingga satu hektare yang dibuka dengan cara ditebang, dibersihkan, kemudian dibakar.

"Lahan tersebut dibakar secara berpindah-pindah sehingga kerap terpantau oleh helikopter maupun pesawat patroli yang melakukan pengawasan," ujarnya.

Karena itu, upaya edukasi kepada masyarakat dinilai menjadi langkah yang perlu terus diperkuat. Pemerintah bersama berbagai pihak diharapkan dapat meningkatkan sosialisasi mengenai bahaya membuka lahan dengan cara dibakar.

Menurut Ferdian, pencegahan karhutla tidak hanya bergantung pada kesiapan aparat maupun korporasi, tetapi juga memerlukan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menghindari praktik pembakaran lahan.

"Himbauan dan edukasi intensif perlu terus digencarkan kepada masyarakat karena temuan titik api saat ini dominan berasal dari area pembukaan lahan perkebunan kecil milik warga," tegasnya.(*)