KETIK, MALANG – Sejumlah warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Perempuan Kelas IIA Malang tampak sibuk menanam benih kacang tanah di area branggang Lapas, Selasa, 19 Mei 2026. Aktivitas tersebut menjadi langkah awal program pembinaan pertanian yang tidak hanya melatih keterampilan warga binaan, tetapi juga mendukung program ketahanan pangan nasional.
Pemanfaatan lahan terbuka di lingkungan Lapas itu menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan. Melalui program pertanian, warga binaan dibekali keterampilan bercocok tanam mulai dari proses penanaman, perawatan, hingga panen.
Kepala Subseksi (Kasubsi) Sarana Kerja Lapas Perempuan Malang, Ari, mengatakan kegiatan pertanian ini dirancang untuk melatih kedisiplinan sekaligus memberikan bekal keterampilan yang dapat dimanfaatkan warga binaan setelah kembali ke masyarakat.
“Warga binaan diajarkan proses budidaya kacang tanah secara langsung, mulai dari penanaman, perawatan, sampai panen. Mereka juga belajar menyiram tanaman secara rutin, membersihkan gulma, memberi pupuk, hingga memastikan tanaman terhindar dari hama agar tumbuh optimal,” jelasnya.
Menurut Ari, masa tanam kacang tanah hingga panen membutuhkan waktu sekitar 80 hingga 100 hari, tergantung jenis tanaman dan kondisi cuaca. Nantinya, hasil panen akan dijual dan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan serta kegiatan pembinaan di lingkungan Lapas.
Baca Juga:
Rayakan Dies Natalis ke-69, Unikama Tegaskan Komitmen Kampus Unggul Berbasis Kearifan LokalDalam proses penanaman, warga binaan juga mendapat pendampingan intensif dari petugas bimbingan kerja. Mereka diajarkan menentukan jarak tanam, mengenali kondisi tanah yang baik, hingga memahami teknik dasar pertanian agar hasil panen lebih maksimal.
Salah seorang warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut, Novita, mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti program pembinaan pertanian di Lapas.
“Awalnya saya tidak tahu cara menanam yang benar. Setelah mendapat bimbingan dari petugas, saya jadi memahami teknik dasarnya. Saya senang karena kegiatan ini ternyata juga mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan. Ilmu ini sangat bermanfaat sebagai bekal setelah bebas nanti,” ujarnya.
Melalui program pembinaan berbasis pertanian tersebut, Lapas Perempuan Malang berupaya menciptakan warga binaan yang lebih mandiri dan produktif. Program ini diharapkan tidak hanya menjadi sarana pembinaan, tetapi juga bekal keterampilan bagi warga binaan agar siap kembali dan berkontribusi di tengah masyarakat.(*)