KETIK, SIDOARJO – Rukiani begitu bahagia disambangi Bupati Subandi. Minggu pagi (31 Mei 2026), lansia 76 tahun itu tidak hanya menerima bantuan sembako dan perbaikan rumah. Bupati Subandi juga memberinya hadiah kursi roda. Supaya sehari-hari tidak hanya diam di rumah.
”Saya hadiahi kursi roda juga. Syarate, anake kudu gelem dorong,” ungkap Bupati Subandi saat mengunjungi Rukiani di rumahnya Dusun Payan, Desa Pabean, Kecamatan Sedati, libur tanggal merah pada (Minggu 31 Mei 2026).
Mendengar ungkapan itu, Rukiani yang semula diam saja mendadak tertawa terkekeh dan memandangi wajah Bupati Subandi. Dia senang bukan main. Keluarganya pun spontan bersyukur.
”Alhamdulillah. Barokallah,” kata Towilah, putri Rukiani.
Kondisi rumah Rukiani mengundang prihatin. Dari depan tidak terlihat bahwa rumahnya butuh perbaikan. Ketika masuk ke bagian belakang, terlihat banyak barang bekas berserakan.
Baca Juga:
Bupati Subandi Terima Opini WTP dari BPK Perwakilan Jatim untuk LKPD Pemkab Sidoarjo 2025Atap rumah, dinding, maupun lantainya kotor. Kurang terawat. Kamar-kamarnya pun ditempati benda-benda yang suda tidak terpakai. Dan, saat masuk ke dapur, bau tidak sedap tercium menyengat.
”Dapurnya yang bagian belakang lembab,” ungkap Bupati Subandi yang masuk blusukan ke rumah Rukiani di RT 10 RW 4 Dusun Payan, itu.
Kepada perwakilan Baznas Sidoarjo, Bupati Subandi meminta bagian belakang rumah Nenek Rukiani diberi ventilasi. Dapurnya diperbaiki. Kotorannya juga dibersihkan. Agar udaranya tidak pengap dan lembab. Kondisi itu tidak baik untuk kesehatan Rukiani yang menderita sakit stroke.
”Agar kesehatan Bu Rukiani tidak terganggu,” ucap Bupati Subandi yang didampingi Kepala Dinas Sosial Sidoarjo Mharta W. Kusuma. Dinas Sosial Sidoarjo pun membagikan sembako untuk Rukiani dan emak-emak tetangganya. Mereka gembira.
Baca Juga:
Selamat Idul Adha, Bupati Subandi Pastikan Sapi dari Presiden Prabowo untuk Warga Kecamatan JabonSelain rumah Nenek Rukiani, Bupati Subandi juga mendatangi rumah Dayat di RT 12 RW 5, Dusun Payan, Desa Pabean. Rumah Dayat juga memerlukan perbaikan. Yang terparah adalah kondisi temboknya. Di beberapa bagian terlihat sudah retak. Terutama di sambungan dinding.
Atapnya juga akan diganti dengan baja ringan. Supaya tidak bocor-bocor lagi kalau terjadi hujan lebat. Terutama atap bagian belakang yang sengnya keropos semua. Termasuk, kamar mandinya. Bupati Subandi berharap keluarga Dayat bisa hidup lebih nyaman dan aman.
Keluarga Dayat pun tidak berhenti mengucapkan terima kasih. Ketika Bupati Subandi meminta keluarganya juga mau membantu tenaga sama sekali mereka tidak keberatan. Keluarga Dayat dan tetangga-tetangganya juga mendapat bantuan sembako dari Dinas Sosial Sidoarjo.
Yang tidak kalah perlu perhatian adalah rumah Sholeh. Pria parobaya itu tinggal di RT 3 RW 2 Alastipis, Desa Pabean. Rumah Sholeh merupakan tinggalan keluarga. Sekarang sudah dibagi-bagi dengan saudarnya.
Sholeh kebagian bangunan yang belakang. Jadi, bagian depannya merupakan dapur. Ada pula kandang ayam. Juga tempat-tempat barang rongsokan.
Atapnya bocor. Kalau hujan banjir. Dindingnya pun terbuat dari kayu-kayu papan. Sumurnya kini berada di depan pintu. Rumah seperti itu dinilai tidak layak huni dan kurang sehat. Masuknya juga lewat gang sempit. Cuma selebar sekitar 1 meter.
Rumah itu benar-benar tidak layak huni. Gelap. Lembab. Kumuh dan berbau. Bupati Subandi tetap masuk demi melihat kondisi bangunan rumah Sholeh.
”Nanti kalau sudah diperbaiki tolong barang-barang yang kotor ini dibersihkan ya,” kata Bupati Subandi kepada Sholeh sambil menyerahkan bantuan sembako dari Dinas Sosial Sidoarjo. Lelaki itu pun mengangguk-angguk tanda sanggup.
Satu rumah lagi yang mendapatkan bantuan dari Baznas ialah rumah Sujiono. Dia bekerja sebagai marbot masjid. Meski usianya masih belum 50-an, dia hidup sendiri. Sujiono tidak mampu melanjutkan perbaikan rumahnya karena tidak punya penghasilan cukup. (*)