KETIK, SURABAYA – Cuaca Minggu siang, 3 Mei 2026, benar-benar terik. Panasnya menyengat, beruntung anginnya sepoi-sepoi. Tampak dari atas dek kapal, Jembatan Suramadu dari kejauhan sudah tampak.
Ya, perjalanan kali ini menggunakan Kapal Kirana VII milik PT Dharma Lautan Utama. Rutenya menarik, karena melintas di bawah Jembatan Suramadu. Tepat di antara tiang pancang tengahnya.
Berangkatnya dari Pelabuhan Ro-Ro di Tanjung Perak. Deru mesin kapal sudah terdengar perlahan, kapal pergi meninggalkan sandarannya di dermaga.
Di sisi kanan, kiri, depan, belakang, semuanya kapal yang didominasi kapal barang. Ada yang sedang bongkar muat di dermaga, ada yang terparkir menambatkan jangkar di tengah laut.
Setelah kapal berputar balik dari Pelabuhan Ro-Ro dan melintas di Selat Madura, tampak gagah berdiri Jalesveva Jayamahe. Patung seorang prajurit perwira menengah TNI Angkatan Laut yang berdiri gagah memegang tongkat, menghadap tegap ke samudera.
Baca Juga:
Perjuangan Pemain PSBS Maksimal, Kahudi Geram ke ManajemenDi sekitarnya berjajar kapal-kapal perang yang di lambungnya bertuliskan KRI diikuti nomor untuk menandakan identitas kapal yang merupakan salah satu alutsista milik bangsa ini.
Pun begitu saat membelah Selat Madura, hanya ada satu kapal Ferry menyeberang mengantar penumpang dari Pulau Jawa ke Pulau Madura.
Di atas KM Kirana VII, semakin tampak jelas kokoh berdiri Jembatan Suramadu. Semakin dekat dan semakin dekat. Di atas geladak kapal, di bagian paling atas, puluhan orang dengan kamera hanphone siap merekam momen bersejarah itu.
Baca Juga:
PSBS Biak Jadi Tim Pertama Degradasi ke Liga 2, Kalah 0-4 Lawan PersebayaTentu bersejarah karena tidak bisa sewaktu-waktu untuk bisa melintas di bawah Jembatan Suramadu. Sehingga momen "mahal" tersebut sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja.
"Bagi pelanggan KM Kirana VII dipersilakan untuk naik di bagian atas kapal untuk menyaksikan dan mengabadikan momen melintas di bawah Suramadu. Jembatan terpanjang di Indonesia dan menjadi kebanggaan Jawa Timur," ucap kru Kirana VII memberikan pengumuman melalui pengeras suara.
Ia bahkan menjelaskan secara singkat tentang sejarah Jembatan Suramadu, mulai tahun diresmikan, panjang jembatan hingga nama presiden yang meresmikan.
Saat kapal hanya berjarak beberapa meter dari pancang tengah jembatan, suara bel kapal terdengar sangat keras.
"Teeeeettttt....," bunyi lengkingan klakson dari sang nakhoda seolah menyapa Suramadu. Tentu saja membuat suasana semakin berkesan dan menumbuhkan momentum tersendiri bagi para penumpang.
"Keren sekali, ini pengalaman pertama saya. Baru kali ini lewat di bawah Jembatan Suramadu," kata Salim, seorang penumpang asal Kudus.
Temannya, Angga, juga mengaku demikian. Perjalanannya ke Lombok kali ini diakui diawali dengan pengalaman menyenangkan, melintas di bawah Jembatan Suramadu.
"Saya baca-baca artikel dan dapat informasi, bahwa tidak semua kapal bisa lewat bawah Suramadu. Saya beruntung bisa merasakannya," tutur pemuda juga asal Kudus itu.
Selain Salim dan Angga, masih banyak penumpang lain yang tak ingin ketinggalan momentum melintas di bawah Suramadu. Ada yang selfie atau swafoto, ada yang meminta foto bergantian, ada juga yang merekam video sembari ngevlog.
Jembatan Suramadu membentang panjang menghubungkan Kota Surabaya di Pulau Jawa dan Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura.
Panjangnya mencapai 5,4 kilometer, diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, dibangun pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dan pembangunannya merupakan inisiatif mantan Gubernur Jatim Muhammad Noer.
Sementara itu, KM Kirana VII adalah kapal laut milik PT DLU yang memiliki rute Tanjung Perak (Surabaya) ke Lembar (Lombok). Lama perjalanan menempuh waktu selama 21 jam. (*)