KETIK, MALANG – Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang kian mantap menasbihkan dirinya sebagai "Desa Jagung". Julukan ini bukan tanpa alasan, sebab desa ini menjadikan tanaman jagung sebagai komoditas unggulan warganya dengan total luas lahan pertanian yang mencapai sekitar 140 hektare.
Kepala Desa Pandanmulyo, Sutikno, mengungkapkan bahwa mayoritas warganya menggantungkan hidup dari sektor ini. Sebagai "Desa Jagung", denyut nadi perekonomian warga memang bertumpu pada tanaman pangan tersebut, dengan jumlah petani aktif yang mencapai lebih dari 100 orang di setiap dusunnya.
Sutikno menjelaskan, hasil panen jagung di desanya bisa mencapai 5 - 6 ton per hektare apabila kondisi tanam berjalan optimal, dengan kebutuhan benih sekitar 25 hingga 30 kilogram per hektare. Hasil panen tersebut selama ini didistribusikan melalui kemitraan dengan PT Winmar (Widji Nusantara Makmur), yang telah berjalan selama 4 hingga 5 tahun terakhir.
Menariknya, geliat pertanian jagung kini mulai dilirik dan digerakkan oleh generasi muda setempat. Langkah ini dinilai krusial untuk mengatasi masalah klasik minimnya tenaga kerja di sektor pertanian.
Sutikno menaruh harapan besar agar para pemuda desa bisa menjadi motor penggerak untuk menjaga dan meningkatkan reputasi Pandanmulyo sebagai "Desa Jagung" yang berkemajuan.
Baca Juga:
Sudaryono Lantik Pengurus DPD dan DPC HKTI se-Jatim 2026–2031, Arum Sabil Dipercaya Pimpin Perjuangan Petani"Harapannya untuk semuanya agar meningkatkan produksi, hasil petani tambah lebih baik. Dan terutama untuk kalangan muda ini tambah bisa tergerak," ujar Sutikno.
Eksistensi Pandanmulyo sebagai "Desa Jagung" kian diakui setelah terpilih menjadi lokasi pelaksanaan pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) se-Jawa Timur. Momen ini turut dihadiri Ketua DPN HKTI yang juga Wakil Menteri Pertanian Sudaryono.
Agenda besar ini juga dimeriahkan oleh kehadiran sejumlah stan produk pertanian dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Malang.
Sutikno mengakui, kegiatan tersebut turut menggerakkan roda perekonomian setempat, meski dampaknya terhadap UMKM desa masih terbilang minim karena desa belum secara khusus fokus mengembangkan sektor tersebut. (*)