KETIK, BOGOR – Budaya saling menghujat di media sosial dinilai tidak bisa diselesaikan hanya dengan menindak pelaku. Diperlukan pendekatan yang melibatkan keluarga, sekolah, komunitas, platform digital, hingga masyarakat luas agar ruang digital menjadi lebih sehat.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yusuf Ryadi, MKM, mengatakan penguatan literasi digital harus diarahkan pada pembentukan etika berkomunikasi serta kemampuan berempati kepada sesama pengguna media sosial.
“Remaja perlu dibekali literasi digital yang menekankan etika berkomunikasi di ruang publik,” ungkapnya, Selasa, 30 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan di sekolah, keluarga, maupun komunitas perlu mengajarkan bahwa media sosial merupakan ruang untuk membangun komunikasi yang positif, bukan tempat melampiaskan kemarahan atau mencari perhatian dengan merendahkan orang lain.
Selain itu, masyarakat juga perlu membangun norma sosial baru dengan memberikan dukungan kepada korban, membela mereka yang menjadi sasaran perundungan, serta melaporkan konten yang mengandung unsur bullying.
Baca Juga:
Teknologi Hormon Bisa Lipatgandakan Produksi Ikan Budi DayaMenurut dr Yusuf, platform digital dan institusi pendidikan juga memegang peranan penting melalui moderasi konten, kampanye literasi digital, dan pendidikan etika komunikasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
“Dengan pendekatan kolektif ini, fenomena hujatan di media sosial akan dianggap sebagai isu bersama yang menuntut solidaritas sosial dan regulasi yang tegas,” pungkasnya.
Fenomena maraknya hujatan terhadap penjual saat siaran langsung di media sosial menunjukkan bahwa perkembangan teknologi belum diimbangi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat dalam menggunakan ruang digital secara bijak.
“Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius bagi masyarakat. Fenomena ini harus dipahami sebagai isu serius yang menuntut perhatian kolektif dan perlu kita hadapi bersama,” tegasnya.
Baca Juga:
Korban Cyberbullying Bisa Alami Trauma hingga Menarik Diri dari Lingkungan SosialIa juga mengingatkan bahwa cyberbullying bukan hanya berdampak pada pelaku, tetapi dapat meninggalkan luka mendalam bagi korban. Serangan verbal yang terjadi secara terus-menerus berpotensi memicu stres, kecemasan, hilangnya rasa percaya diri, hingga trauma berkepanjangan, terutama pada kelompok rentan seperti lansia.
Karena itu, menurut dr Yusuf, membangun budaya komunikasi yang sehat di ruang digital menjadi tanggung jawab bersama agar media sosial benar-benar menjadi ruang interaksi yang aman dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat. (*)