KETIK, JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat. Militer AS dilaporkan kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target strategis di Iran untuk malam kesembilan secara berturut-turut pada Senin, 20 Juli 2026.

Serangan tersebut memicu kekhawatiran dunia atas potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan gelombang serangan terbaru menyasar berbagai fasilitas militer Iran yang dinilai memiliki peran dalam ancaman terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Target yang disebutkan meliputi sistem pertahanan udara, lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando, hingga infrastruktur maritim.

Presiden AS Donald Trump mengatakan operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas tewasnya personel militer Amerika dalam sejumlah serangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Baca Juga:
Spanyol Raup Cuan Rp915 Miliar, Ini Daftar Lengkap Besaran Hadiah Piala Dunia 2026

"Kita lihat apa yang akan terjadi, tetapi kita telah menghantam mereka dengan sangat keras lagi malam ini," ujar Trump saat kembali ke Washington usai menghadiri final Piala Dunia 2026, dikutip dari The Guardian.

Menurut laporan sejumlah media internasional, eskalasi terbaru dipicu oleh tewasnya tiga anggota militer AS, termasuk dua personel yang menjadi korban serangan di Yordania dan satu personel lainnya di Irak.

Dengan demikian, jumlah korban dari pihak militer AS sejak konflik pecah pada awal tahun ini dilaporkan mencapai 17 orang.

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, memperingatkan bahwa negaranya akan memberikan "pelajaran yang tidak terlupakan" apabila Washington terus melanjutkan serangan.

Baca Juga:
AS Gempur Iran, Teheran Balik Serang Pangkalan Militer Amerika di Kawasan Teluk

Iran juga disebut telah menangguhkan komitmennya terhadap kesepakatan gencatan senjata sementara yang sebelumnya dimediasi sejumlah negara.

Konflik semakin meluas setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran yang berkaitan dengan kepentingan AS di Suriah dan Kuwait.

Bahrain bahkan dilaporkan sempat mengaktifkan sirene peringatan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan serangan balasan.

Dampak konflik juga mulai dirasakan pada sektor energi global. Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, dilaporkan mengalami gangguan.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah Brent menembus angka di atas 90 dolar AS per barel.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuding Iran berupaya menjadikan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap komunitas internasional.

Ia pun meminta negara-negara lain ikut terlibat dalam menjaga keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.

"AS akan terus melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi pelayaran global. Namun, negara-negara lain juga perlu ikut menanggung beban tersebut," kata Rubio.

Meski situasi terus memanas, Washington menyatakan masih membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.

Sejumlah mediator, termasuk Qatar dan Pakistan, disebut terus menjalin komunikasi dengan kedua pihak guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di Timur Tengah.(*)