KETIK, SITUBONDO – Forum Selasaan Pemkab Situbondo melakukan diskusi inspiratif dengan menghadirkan artis legendaris Indonesia, Trie Utami. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan gagasan ekspedisi 1.000 kilometer Panarukan–Anyer, sebuah perjalanan yang mengangkat nilai sejarah, budaya, lingkungan, serta potensi pariwisata, Selasa 28 Juli 2026.

Di hadapan peserta Forum Selasaan, Trie Utami menjelaskan bahwa rute Panarukan–Anyer bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga menjadi media untuk menghidupkan kembali semangat kebangsaan melalui jejak sejarah Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa kolonial Belanda.

Menurutnya, ekspedisi tersebut diharapkan mampu mendorong kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, komunitas, pelaku seni, hingga masyarakat untuk memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi lokal di setiap daerah yang dilalui.

Forum Selasaan ini menjadi ruang dialog yang mempertemukan berbagai gagasan kreatif. Para peserta menyambut antusias pemaparan Trie Utami dan berharap konsep ekspedisi 1.000 kilometer Panarukan–Anyer dapat diwujudkan sebagai agenda yang memberikan dampak positif bagi pengembangan pariwisata, pelestarian sejarah, dan pemberdayaan masyarakat serta peningkatan ekonomi UMKM.

Kehadiran, Trie Utami ke Kabupaten Situbondo mendapat mandat khusus dari Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo untuk membedah dan menerjemahkan pemikiran sang kepala daerah terkait sejarah panjang koridor Anyer–Panarukan.

Baca Juga:
Tumpukan Sampah, Hiasi Suasana Petik Laut Desa Pesisir Besuki Situbondo

Tim desain dan kreatif Trie Utami akan mengejawantahkan gagasan besar Bupati Rio dirumuskan menjadi sebuah formulasi strategis bertajuk 3R; Road (Jalan); Infrastruktur dan Koridor Fisik; Route (Rute): Konektivitas Ekonomi dan Jalur Perdagangan
Roots (Akar): Identitas Sejarah dan Akar Kebudayaan.

"Dalam hal ini saya banyak mengurus urusan di belakang layar dan mengkonsep. Salah satunya diberi tugas oleh Mas Rio untuk menerjemahkan apa yang ada di dalam benaknya ," ujar Trie Utami dihadap sejumlah wartawan.

Menurut Trie Utami, Jalan Dendeles Anyer–Panarukan bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan sebuah "harta karun" sejarah tebal yang perlu diolah ulang melalui pendekatan re-imajinasi.

"Secara historis, koridor Jalan Dendeles 1000 kilometer dari Panarukan-Anyer yang melintasi Puncak, Bandung, Sumedang, Majalengka, hingga Cirebon ini merupakan "Jalur Sutra" Pulau Jawa yang berhasil menghidupkan roda ekonomi dan melahirkan kota-kota baru," jelas Trie Utami.

Baca Juga:
Wartawan RRI Diana Dinar Terpilih Secara Aklamasi sebagai Ketua PWI Situbondo 2026–2029

Di tengah hadirnya jalur tol modern saat ini, lanjut Trie Utami, jalur historis Anyer–Panarukan berisiko terpinggirkan jika tidak diberi 'napas' baru atau disentuh dengan sejarah.

"Kita tidak bisa hanya berpatokan pada cerita suramnya. Mari kita lihat dampak positif yang bisa ditimbulkan. Sejarah Jalan Panarukan-Anyer itu membentuk Jawa secara ekonomi. Sekarang, kita ingin jalur ini kembali menjadi penggerak ekonomi dan pariwisata lokal," tegas Trie.

Salah satu terobosan dari program ini, sambung Trie Utami, yakni menjalin kerja sama lintas daerah antara Kabupaten Serang (gerbang barat) dan Kabupaten Situbondo (gerbang timur).

"Melalui sinergi dua kabupaten di titik ujung Timur dan Barat Pulau Jawa ini, maka diproyeksikan menjadi inisiator dalam penyusunan satu data baru (one new data) sepanjang koridor 1.000 kilometer tersebut," tutur Trie.

Trie mengatakan bahwa inisiatif ini dirancang sebagai program jangka panjang berdurasi tiga tahun, bukan sekadar pementasan acara (event) sesaat. Program ini disusun secara bertahap dengan output dan outcome yang terukur di setiap tahunnya, mulai dari kesepakatan antar-pemerintah daerah hingga pengembangan sektor pariwisata.

"Kalau anggaran dan waktu pelaksanaan, itu bukan ranah saya, tapi ranah tim Pemkab Situbondo bersama Kabupaten Serang Banten. Tugas saya dan tim memastikan konsep dan fondasi pemikirannya terstruktur dengan jelas," pungkas Mbak Trie. (*)