KETIK, MALANG – Sama seperti Barcelona yang memiliki semboyan mes que un club, Arema pun hadir tak sekadar sebagai klub sepak bola. Jika Barcelona hadir sebagai perwujudan harga diri masyarakat Catalan, Arema lahir dengan semangat mengangkat harkat dan martabat orang Malang.
Gagasan tersebut menjadi salah satu fondasi awal berdirinya Arema pada 1987. Klub yang awalnya diproyeksikan mengikuti kompetisi Galatama itu tidak hanya dipersiapkan untuk bertanding di lapangan hijau, tetapi juga diharapkan menjadi wadah yang mampu menyatukan masyarakat, khususnya generasi muda Malang.
Gagasan itu salah satunya datang dari Acub Zainal. Ketika itu, Acub melihat Malang memiliki potensi besar, terutama dari karakter dan energi generasi mudanya.
Namun, potensi tersebut dinilai belum memiliki wadah yang mampu menyatukan mereka dalam satu identitas.
Acub ingin klub yang lahir di Malang itu mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat melalui prestasi sepak bola.
Baca Juga:
HUT ke-39 Arema, Pemkot Malang Imbau ASN Pakai Jersey Singo EdanSepak bola dipilih sebagai medium karena memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai lapisan masyarakat.
Kelompok-kelompok anak muda yang sebelumnya memiliki identitas masing-masing diharapkan memiliki identitas yang lebih besar dan sama: arek Malang.
Sebagai salah satu perwira tinggi ABRI, Acub melihat persoalan sosial yang terjadi di kalangan anak muda Malang. Saat itu terdapat banyak kelompok atau blok di berbagai wilayah Kota Malang. Gesekan antarkelompok bahkan tidak jarang berkembang menjadi tawuran.
Bagi Acub, persoalan tersebut bukan semata-mata karena buruknya karakter anak muda. Ia melihat ada energi besar yang belum tersalurkan melalui wadah yang tepat.
Baca Juga:
Semarakkan HUT Ke-39, Arema FC Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Malang Kenakan Jersey Ikonik Singo EdanGenerasi muda Malang membutuhkan sesuatu yang bisa menyatukan ego kelompok menjadi sebuah identitas bersama. Identitas itu adalah kebanggaan sebagai arek Malang.
Dari pemikiran tersebut, muncul keinginan Acub untuk melahirkan klub sepak bola Galatama dari Malang.
Pilihan terhadap sepak bola bukan tanpa alasan.
Acub menyadari bahwa sepak bola merupakan olahraga rakyat yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, sepak bola dinilai memiliki kekuatan untuk menjadi alat perjuangan sekaligus membangun kebanggaan masyarakat.
Momentum tersebut datang pada 1987 ketika PSSI membuka peluang bagi klub baru untuk mengikuti kompetisi Galatama.
Ketika itu, hanya terdapat delapan klub Galatama. PSSI berencana menambah enam klub sehingga jumlah peserta menjadi 14 tim.
Kebetulan, Acub Zainal ketika itu menjabat sebagai administrator liga yang menangani kompetisi Galatama.
Di sisi lain, Acub sudah melihat langsung besarnya animo masyarakat Malang terhadap sepak bola. Salah satu pengalamannya terjadi ketika ia menyaksikan pertandingan Persema melawan Gelora Dewata di Stadion Gajayana.
Acub datang ke Malang atas ajakan Ovan Tobing yang saat itu menjadi humas Persema.
Dari sana muncul pemikiran bahwa Malang sebenarnya memiliki basis masyarakat yang kuat untuk membentuk sebuah klub Galatama.
Saat itu, Malang memang telah memiliki Persema sebagai klub perserikatan. Namun, belum ada klub asal Malang yang berkompetisi di Galatama.
Kesempatan tersebut kemudian mendorong Acub untuk mengajak putrinya, Lucky, mendirikan klub Galatama di Malang.
Pada pertengahan April 1987, Acub meminta Lucky datang ke Jakarta. Di sana, ia menawarkan tantangan kepada putrinya untuk membentuk klub Galatama di Malang.
Lucky sempat kebingungan. Ia tidak memiliki pengetahuan mengenai pengelolaan klub sepak bola. Sejak kecil, minatnya justru lebih dekat dengan otomotif.
Sepulang dari Jakarta, Lucky menemui Ovan Tobing di rumahnya di Jalan Gajah Mada, Malang. Ia meminta masukan mengenai berbagai hal yang harus dilakukan untuk mendirikan sebuah klub sepak bola.
Dari hasil diskusi itu, Lucky kemudian diajak menemui Dirk Sutrisno, pemilik Armada 86 yang merupakan klub anggota Persema.
Lucky, Ovan Tobing, dan Dirk Sutrisno selanjutnya berdiskusi mengenai rencana membentuk klub Galatama.
Mereka kemudian sepakat mendirikan klub baru. Dirk bahkan menyatakan kesediaannya agar klub miliknya didaftarkan ke PSSI.
Namun, nama klub tersebut kemudian berubah. Armada 86 disepakati menjadi Arema 86. Kendati sempat mati suri, Arema 86 inilah yang kemudian menjadi embrio Arema, klub yang mampu mengangkat harkat Malang di kancah sepak bola nasional.