KETIK, SAMPANG – Di sebuah desa yang dikelilingi hamparan sawah di Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, berdiri sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat berteduh sebuah keluarga besar. Tidak ada kemewahan di dalamnya. Yang ada hanyalah harapan agar kehidupan mereka suatu hari nanti berubah menjadi lebih baik.

Rumah itu adalah tempat Ari Adriansyah (20) dibesarkan.

Sejak ayahnya meninggal dunia pada 2024, beban hidup keluarga semakin berat. Sang ibu harus menjalani hari-hari dengan segala keterbatasan bersama sepuluh anaknya. Ari, anak kesembilan dari sepuluh bersaudara, tumbuh di tengah kondisi ekonomi yang jauh dari kata berkecukupan.

Di rumah itulah Ari belajar bahwa hidup tidak selalu mudah. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia masih bergantung kepada bantuan saudara-saudaranya. Uang saku yang dibawa merantau ke Jakarta pun berasal dari hasil patungan keluarga.

"Kadang saya yang memberikan uang saku untuk Ari. Kami memang bukan keluarga yang mampu. Kalau ingin melihat bagaimana kondisi kami, silakan datang langsung ke Desa Tambelangan," tutur kakaknya, Ridwanto. Senin, 6 Juli 2026.

Baca Juga:
Nasib PPPK Paruh Waktu RSUD Ketapang Belum Pasti, Honor Pernah Setara dengan Pegawai BLUD

Meski hidup dalam keterbatasan, keluarga itu tidak pernah kehilangan harapan. Mereka percaya setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing.

Bagi Ari, jalan itu mungkin datang melalui suara yang selama ini ia rawat sejak kecil.

Dari panggung-panggung sederhana di kampung hingga perlombaan tingkat kecamatan, Ari terus bernyanyi. Hadiah yang diperoleh tidak selalu besar, tetapi cukup membuatnya semakin yakin bahwa bakatnya dapat menjadi jalan untuk mengubah nasib keluarga.

Kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil. Ari berhasil meraih juara pertama lomba karaoke tingkat Kecamatan Tambelangan, menjadi juara tingkat Kabupaten Sampang, hingga menjuarai kompetisi tarik suara se-Madura Raya di Kecamatan Karang Penang.

Baca Juga:
Di Tengah Pendapatan Anjlok, RSUD Ketapang Miliki 72 Pegawai BLUD dan 54 Pegawai Diatur Jam Kerjanya

Kini, langkahnya membawanya lebih jauh. Sejak 25 Juni 2026, Ari berada di Jakarta untuk mengikuti Final Audition Dangdut Academy 8 (DA8) Indosiar. Ia menjalani karantina dan pelatihan intensif bersama peserta lain dari seluruh Indonesia demi memperebutkan satu tempat di panggung utama.

Namun, di balik perjuangan itu, keluarga di kampung hanya bisa menunggu dengan penuh doa. Hingga kini mereka belum menerima jadwal resmi penampilan Ari dari pihak penyelenggara.

Setiap hari, mereka berharap telepon dari Jakarta membawa kabar baik.

Bagi keluarga, Dangdut Academy bukan sekadar ajang mencari penyanyi berbakat. Kesempatan itu adalah secercah harapan bagi keluarga sederhana yang telah lama berjuang menghadapi kerasnya kehidupan setelah kehilangan sosok ayah.

"Semoga niat tulus Ari mengikuti ajang bergengsi ini dikabulkan Allah SWT. Selain membawa nama baik Kabupaten Sampang, mudah-mudahan cita-citanya untuk membantu keluarga bisa terwujud," kata Ridwanto.

Atas dasar itu, keluarga mengajak seluruh masyarakat Madura, khususnya Kabupaten Sampang, untuk memberikan doa dan dukungan kepada Ari. Mereka juga berharap Pemerintah Kabupaten Sampang ikut memberikan semangat kepada putra daerah yang sedang berjuang membawa nama Sampang di tingkat nasional.

Di rumah sederhana di pelosok Tambelangan, tidak ada gemerlap lampu panggung. Yang ada hanya doa seorang ibu, dukungan saudara-saudara, dan keyakinan bahwa suara seorang anak desa bisa mengubah masa depan keluarganya.

Kini, harapan itu sedang diuji di Jakarta. Sementara di kampung halaman, sebuah keluarga terus menanti dengan penuh harap agar Ari Adriansyah pulang bukan hanya membawa prestasi, tetapi juga membuka lembaran baru bagi kehidupan mereka. (*)