KETIK, BATU – Peringatan sembilan tahun gerakan Sapu Bersih Nyemplung Kali (Sabers Pungli) ditandai dengan temuan memprihatinkan berupa tumpukan limbah popok di aliran Sungai Brantas, Kota Batu, pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Mengusung tema “Nawa Warsa Bhakti Ing Tirta”, kegiatan ke-191 ini berpusat di Jembatan Brantas Prambatan, perbatasan wilayah Sukorembug dan Sidomulyo. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menyebut popok bekas pakai termasuk jenis sampah yang membutuhkan penanganan khusus. Pihaknya juga masih melakukan penelusuran untuk mengetahui sumber pembuangan sampah tersebut.

“Sampah jenis ini tergolong residu yang memerlukan penanganan khusus dan sama sekali tidak boleh dibuang ke sungai. Penelusuran sumber pembuangannya masih terus dilakukan,” kata Dian.

Persoalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya menjaga kebersihan sungai tidak cukup dilakukan dengan mengangkat sampah yang telah masuk ke aliran air. Perubahan perilaku perlu dilakukan sejak sampah berada di sumbernya, mulai dari lingkungan rumah tangga, sekolah, hingga tempat usaha.

Baca Juga:
Optimistis! Ini Prediksi Skor Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu di Final ASEAN Cup 2026

Wali Kota Nurochman menginstruksikan peningkatan sistem keamanan di sekitar jembatan agar kelestarian ekosistem sungai yang menjadi rumah bagi berbagai makhluk hidup tetap terjaga.

"Pengawasan diperketat, termasuk pemasangan CCTV di kawasan Jembatan Prambatan, Sukorembug guna mencegah pembuangan sampah liar yang merusak sungai," tegas Cak Nur, sapaanya.

Lebih lanjut, Cak Nur mengingatkan bahwa aksi bersih-bersih rutin belumlah cukup tanpa adanya perubahan mendasar.

"Perubahan harus dimulai dari sumbernya, rumah tangga, sekolah, tempat usaha, serta diperkuat dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih tegas dan menyeluruh," tambahnya.

Baca Juga:
Info Nobar Final ASEAN Cup 2026: Timnas Indonesia vs Thailand di Balai Kota Batu

Aksi lingkungan ini tidak sekadar membersihkan perairan, tetapi juga dirangkai dengan Trash Walk, Slametan Banyu, dan dialog ekologi bertajuk Njagong Kali Brantas.

Dialog tersebut merumuskan kesepakatan bahwa masa depan sungai menuntut sinergi lintas sektor yang tak tergantikan peranannya.

Tercatat sekitar 450 peserta memadati lokasi acara. Kolaborasi masif ini menjaring berbagai pihak, mulai dari Pemkot Batu, PLN Nusantara Power, BEM Universitas Negeri Malang, POLTEKAD, Perum Jasa Tirta I, BBWS Brantas, hingga masyarakat luas.

Selain Wali Kota, jajaran tokoh yang hadir mencakup Anggota DPRD Jatim Dewanti Rumpoko, Komandan POLTEKAD Brigjen TNI Dr. Indarto Kusnohadi, Anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional Raymond Valiant, serta para pejabat desa setempat.

Perjalanan Sabers Pungli bermula pada 2017, kini telah memasuki fase baru. Gerakan yang awalnya berfokus pada evakuasi sampah fisik di sungai ini telah berkembang menjadi kampanye kesadaran lingkungan yang masif.

Ke depan, fokus utama gerakan ini adalah mencegah sampah agar tidak pernah sampai ke sungai, dengan menempatkan generasi muda bukan lagi sekadar peserta, melainkan sebagai motor utama penggerak perubahan kebiasaan masyarakat.(*)