KETIK, BATU – “Tidak ada satu pun pertandingan sepak bola yang seharga dengan nyawa manusia.” Pesan tegas tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Batu Heli Suyanto saat menghadiri doa bersama mengenang empat tahun Tragedi Kanjuruhan di Alun-Alun Kota Batu, Kamis 1 Oktober 2026 dini hari.

Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk merawat ingatan atas tragedi kemanusiaan yang menelan 135 korban jiwa, sekaligus menyampaikan empati mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. Melalui doa bersama, berharap keluarga korban senantiasa diberikan kekuatan, dan ketabahan.

Menurut Heli Suyanto, mengenang para korban bukan sekadar bentuk penghormatan, melainkan bagian dari upaya merawat kepedulian sosial dan nilai-nilai kemanusiaan.

“Mengenang korban juga berarti menjaga kepedulian dan nilai kemanusiaan,” ujar Mas Heli, sapaan akrabnya.

Ia menekankan bahwa kebersamaan yang terbangun dalam momen ini menjadi pengingat bahwa keluarga korban tidak pernah berjalan sendirian dalam menghadapi duka.

Baca Juga:
Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Arema FC Rawat Ingatan dan Bersamai Perjuangan Keluarga Korban

“Kebersamaan dalam doa diharapkan memberikan ketenangan bagi keluarga sekaligus menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi duka,” tambah dia.

Politisi Partai Gerindra ini menyebut Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022 bukan sekadar catatan kelam sepak bola nasional, melainkan luka mendalam bagi seluruh masyarakat Malang Raya.

Ia memaknai peringatan empat tahun tragedi ini sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya kepada para korban dan keluarga mereka.

“Doa bersama, tahlil, serta tabur bunga merupakan wujud penghormatan agar ingatan terhadap mereka tidak pernah padam,” tuturnya.

Baca Juga:
Akal Bulus Residivis Curanmor di Kota Batu: Sasar Korban Lansia Bermodus Bansos hingga Pesanan Fiktif

Selain penghormatan kepada korban, momentum tersebut menjadi refleksi mengenai kemanusiaan di tengah rivalitas sepak bola. Kecintaan dan fanatisme terhadap klub tidak seharusnya mengesampingkan keselamatan manusia.

“Tidak ada satu pun pertandingan sepak bola yang seharga dengan nyawa manusia. Fanatisme dan kecintaan pada klub tidak boleh lagi mengorbankan keselamatan sesama saudara,” tegasnya.

Heli mendorong agar perhatian terhadap keluarga korban, termasuk aspek psikologis, sosial, dan keadilan, terus dikawal secara konsisten oleh seluruh elemen pemerintah daerah di Malang Raya.

Guna menyongsong masa depan tanpa melupakan sejarah, Heli juga menyoroti pentingnya evaluasi dan pembenahan mendasar, baik di tubuh kelompok suporter Aremania maupun manajemen Arema FC.

Bagi Aremania, pembenahan harus dimulai dari transformasi budaya dukungan. Fanatisme perlu didewasakan agar lebih edukatif dan inklusif, terutama dalam menyikapi hasil pertandingan.

“Pendewasaan dalam menyikapi hasil pertandingan, baik menang maupun kalah, adalah kunci utama,” jelasnya.

Penguatan solidaritas dan organisasi juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Konsolidasi internal dinilai penting agar tersedia wadah komunikasi dan koordinasi yang solid, terutama untuk menjaga keselamatan anggota ketika memberikan dukungan kepada tim di kandang maupun tandang.

“Hal ini penting untuk memastikan keselamatan anggota saat mendukung tim, baik di kandang maupun tandang,” lanjut Heli.

Aremania juga diharapkan dapat menjalankan fungsi kontrol sosial melalui kritik yang konstruktif terhadap manajemen klub dan pengelola kompetisi. Aspirasi disampaikan secara damai serta dibarengi interaksi yang positif di ruang publik maupun media sosial.

Sementara bagi manajemen Arema FC, peningkatan standar keselamatan dan keamanan stadion menjadi salah satu hal yang perlu mendapat prioritas.

“Manajemen wajib memastikan simulasi penanganan darurat, kesiapan stewart, dan integrasi pengamanan berjalan sesuai standar FIFA,” paparnya.

Aspek komunikasi dengan publik juga menjadi perhatian. Manajemen diharapkan membangun kembali kepercayaan masyarakat dan Aremania melalui komunikasi yang lebih terbuka, responsif, serta mampu menunjukkan empati terhadap masyarakat Malang Raya.

“Manajemen harus lebih terbuka, komunikatif, dan responsif terhadap suara serta empati masyarakat Malang Raya,” tambahnya.

Selain itu, pembenahan tata kelola klub mencakup pengelolaan finansial, pembinaan pemain, dan operasional tim. Perbaikan tersebut diarahkan agar Arema FC tidak hanya memiliki kekuatan di lapangan, tetapi juga mampu menjalankan pengelolaan sebagai institusi olahraga yang akuntabel.

“Arema FC tidak hanya tangguh di lapangan, tetapi juga menjadi institusi olahraga yang akuntabel dan membanggakan,” pungkas Heli.(*)