KETIK, MALANG – Pasar Buku Wilis tetap bertahan di tengah gempuran e-book. Sebagai satu-satunya pasar buku yang telah selama 23 tahun, Pasar Buku Wilis tetap menjadi toko buku kebutuhan anak muda, khususnya mahasiswa.

Di era kemajuan teknologi, semua telah dihadirkan melalui ponsel genggam. Kebutuhan informasi tak lagi hanya ditemukan dalam buku. Ini menjadi salah satu tantangan para pedagang buku di Pasar Buku Wilis.

Kemajuan teknologi membuat banyak anak muda tidak lagi membutuhkan buku. Mereka hanya mencari melalui google, seluruh informasi dapat ditemukan dengan cepat. Hal ini membuat Pasar Buku Wilis semakin hari semakin tak terlihat generasi muda datang untuk membeli buku.

Dedy, salah satu pedagang buku di Pasar Buku Wilis mengungkapkan bahwa minat orang untuk datang ke Pasar Buku Wilis telah menurun. Mereka lebih memilih melalui online. Tentunya ini membuat pendapatannya semakin berkurang.

Anak muda sedang mencari buku di Pasar Buku Wilis. (Foto: Dok. Ketik.com)

Baca Juga:
Hotel Ibis Styles Malang Gelar Kompetisi Tari Tradisional Anak-anak, Hadirkan Ruang Apresiasi bagi Para Peserta

"Itu kita nggak bisa menentukan nominalnya. Kalau untuk swasta, di luar dari mungkin semua bidang usaha, sama, menurun lah. Kalau nominalnya kita nggak bisa disyukuri saja," tuturnya.

Dampak kemajuan teknologi ini juga tengah dirasakan oleh para orang tua yang melihat sang anak lebih suka bermain handphone. Dedy menyampaikan bahwa saat ini pengunjung memang kebanyakan anak-anak bersama orang tuanya yang bertujuan untuk mengembangkan minat baca sang anak. 

"Jadi pihak orang tua, sekolah kan sudah merasakan dampak dari teknologi itu karena faktor kejenuhan, faktor kesehatan. Dari HP atau laptop kan mata juga kesehatan. Itu mulai bergerak menyadari bahwa lebih enak di buku. Itu mulai sekarang dari anak-anak. Itu mulai dikembangkan lagi," ujar Dedy.

Selain itu, sekolah-sekolah saat ini juga berupaya untuk meningkatkan minat baca anak-anak Indonesia pada buku. Dedy mengatakan beberapa pengunjung datang mencari buku karena disuruh dari pihak sekolah. 

Baca Juga:
Rampas Motor Mahasiswi di Dieng Malang, Mahasiswa Asal Jember Ditangkap di Kampus Unmer

Upaya tersebut juga tengah dilakukan oleh perguruan tinggi. Banyak mahasiswa yang juga sering mencari buku di Pasar Buku Wilis karena harga yang terjangkau. Beberapa dosen memang menyuruh untuk mencari buku daripada menggunakan e-book. 

"Banyak yang menggunakan buku, banyak yang dosen mewajibkan harus pakai buku. Gak boleh pakai e-book," jelas Dedy.

Tentunya ini menjadi salah satu upaya untuk tetap mempertahankan buku di era semua serba instan dan cepat. Dedy menyampaikan bahwa selama berjualan buku sejak Pasar Buku Wilis dibangun, ia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga, ia juga harus mengikuti zaman dengan menjual buku secara online. 

"Peminatnya, kalau online kan jangkauannya lebih luas, nasional kan. Kalau offline-nya itu, ya untuk hari-hari kerja kan wilayah Malang sekitar," ucapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pasar Buku Wilis juga menjadi spot wisata bagi para pendatang ketika hari libur. Para wisatawan biasanya diajak untuk mengenal satu-satunya pasar buku di Malang Raya.

"Kalau hari libur, se-Jawa Timur. Biasanya kan sekarang kan di sini tujuan dari luar kota itu kan banyak, ke pasar buku saja. Itu selain ke tempat rekreasi sudah umum di mana-mana," ungkap Dedy.

"Dulu memang dijadikan destinasi wisata juga, wisata bacaan. Dulu, ikut di beberapa tahun yang lalu memang digalakkan gitu," pungkasnya.

Dengan upaya meningkatkan minat baca generasi muda, Pasar Buku Wilis tetap menjadi salah satu tempat tujuan bagi kalangan muda, khususnya mahasiswa untuk mencari buku-buku kebutuhan perkuliahan.(*)