KETIK, ACEH SINGKIL – Material timbunan yang digunakan dalam pekerjaan Ruas Jalan Batas Aceh Selatan-Kuala Baru-Singkil-Telaga Bakti disebut telah mengacu pada spesifikasi terkini Direktorat Jenderal Bina Marga.
Pihak pelaksana proyek menyebut material tersebut terlebih dahulu melalui proses pengujian laboratorium untuk memastikan kualitas dan kelayakannya digunakan dalam pekerjaan jalan.
Project Engineer PT Gunung Agung Mandiri selaku pelaksana, M. Taufik, mengatakan pihaknya menggandeng tiga quarry yang berada di wilayah Gunung Meriah untuk memenuhi kebutuhan material timbunan.
“Untuk memenuhi kebutuhan material sebanyak 450 meter kubik setiap hari, kita memilih kerja sama dengan tiga quarry asal Gunung Meriah,” kata Taufik saat ditemui di Cafe Senina Pulo Sarok, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Menurut Taufik, sampel material dari ketiga quarry tersebut telah diambil untuk menjalani pengujian di Laboratorium Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.
Pengujian tersebut dilakukan untuk mengetahui nilai California Bearing Ratio (CBR) atau daya dukung material yang akan digunakan sebagai bahan timbunan jalan.
Taufik menjelaskan, berdasarkan spesifikasi umum Bina Marga, material timbunan pilihan memiliki standar nilai CBR minimal 10 persen.
“Nilai CBR standar Bina Marga untuk bahan perkerasan jalan. Berdasarkan spesifikasi umum Bina Marga, timbunan pilihan 10 persen,” jelasnya.
Hasil pengujian laboratorium terhadap material dari tiga quarry tersebut, kata Taufik, menunjukkan nilai CBR di atas standar yang dipersyaratkan.
Masing-masing material dari ketiga quarry disebut memiliki nilai CBR lebih dari 31 persen.
“Itu telah di atas spesifikasi Bina Marga,” tegasnya.
Meski seluruh material dari tiga quarry dinyatakan memenuhi standar berdasarkan hasil pengujian, pihak pelaksana tetap melakukan evaluasi terhadap kualitas material yang digunakan di lapangan.
Taufik mengatakan penyedia menitikberatkan penggunaan material pada hasil terbaik untuk memastikan kualitas pekerjaan akhir.
“Merujuk hasil laboratorium, kami pihak penyedia menitikberatkan kepada hasil yang terbaik, dan material yang masuk ke lapangan berupa timbunan putih,” ujarnya.
Dari tiga quarry yang sebelumnya bekerja sama, pihak pelaksana kemudian memutuskan menghentikan kerja sama dengan salah satu quarry.
Saat ini, kebutuhan material timbunan sebanyak 450 meter kubik per hari difokuskan pada dua quarry yang dinilai mampu memenuhi kebutuhan pekerjaan.
“Dari tiga quarry yang ada, terpaksa kita putuskan mengakhiri kerja dengan satu quarry. Saat ini kita fokus dengan dua quarry memenuhi 450 meter kubik kebutuhan material,” kata Taufik.
Ia menegaskan, pemilihan material tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk menghasilkan pekerjaan dengan kualitas terbaik.
Menurutnya, pembangunan ruas jalan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat karena berkaitan dengan akses dan konektivitas antarwilayah.
“Intinya, kami dari pihak perusahaan pelaksana menginginkan hasil terbaik dari pekerjaan akhir yang dilaksanakan guna mempermudah akses hubungan masyarakat,” ujarnya.
Taufik berharap seluruh pihak dapat memberikan dukungan terhadap pelaksanaan pekerjaan sehingga pembangunan ruas Jalan Batas Aceh Selatan-Kuala Baru-Singkil-Telaga Bakti dapat berjalan lancar.
Ia juga berharap proses pekerjaan dapat terus dilakukan sesuai standar teknis yang telah ditetapkan sehingga hasil pembangunan nantinya memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kami berharap semua pihak bersama-sama dapat mendukung dan mendorong kelancaran pekerjaan ruas Jalan Batas Aceh Selatan-Kuala Baru-Singkil-Telaga Bakti,” pungkasnya.(*)
