KETIK, TUBAN – Dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, santri Pondok Pesantren dan Majlis Ta'lim (PPM) Daruttauhid Al-Hasaniyyah menggelar acara Ngaji Kebangsaan bertajuk "Santri Berakhlak, Negeri Berkah: Refleksi Rabiul Awwal dan 81 Tahun Kemerdekaan".
Acara yang digelar pada 17 Agustus malam tersebut berlangsung di halaman pondok yang berlokasi di Desa Sendang Kecamatan Senori, dan dihadiri oleh ratusan santri. Kegiatan dimulai dengan pembacaan shalawat serta mahallul qiyam yang dibawakan secara khidmat oleh grup hadroh El-Muna, dipandu penuh oleh Haidar Wafa Ahmada selaku moderator.
Hadir sebagai narasumber, Agus Muhammad Nawwaf menyampaikan materi utama. Di awal sesi, ia menjawab pertanyaan moderator mengenai korelasi antara kemerdekaan dan peringatan Maulid Nabi melalui pendekatan ilmu mantiq.
"Dalam ilmu mantiq, ulama mendidik kita untuk senantiasa mengingat kaidah emas: 'الحكم على الشيء فرع عن تصوره yang artinya: untuk menghukumi suatu fenomena, kita harus memahami terlebih dahulu konsep dasar dari hal yang akan kita hukumi.' Hal ini sama persis dengan kemerdekaan; kita harus memahami dulu konsep dasarnya," ujar Gus Nawwaf, sapaannya.
Ia menjelaskan bahwa kemerdekaan pada hakikatnya adalah kebebasan, baik secara eksternal maupun internal. Bangsa Indonesia dinilai telah terlepas dari penjajahan eksternal, namun perlu merefleksikan kembali apakah sudah benar-benar bebas dari kekuasaan atau gejolak internal.
Lebih lanjut, Gus Nawwaf menekankan harmoni antara ajaran Islam dan cinta tanah air.
"Relasi antara agama dan negara adalah relasi takamul (تكامل) atau saling menyempurnakan. Nilai agama tidak mungkin bertentangan dengan nilai nasionalisme. Andaipun tampak bertentangan, pasti ada jalan keluarnya," pungkasnya.
Acara kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para santri antusias menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan narasumber hingga penghujung acara. (*)
.png)