KETIK, SURABAYA – Di tengah banyaknya pilihan kuliner bakso di Surabaya, Bakso Cak Wandi menjadi salah satu warung yang telah bertahan selama hampir tiga dekade. Berlokasi di Jalan Raya Mastrip No. 23, Karangpilang, Surabaya, usaha kuliner milik Suwandi tersebut telah berdiri sejak 1996.
Awalnya, Bakso Cak Wandi hanya berupa warung kecil. Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut berkembang secara bertahap hingga memiliki tempat yang lebih luas. Suwandi mengatakan bahwa perkembangan usahanya dilakukan sedikit demi sedikit mengikuti perubahan zaman. Sejak 2023, ia mulai membuka cabang untuk memperluas jangkauan usahanya. Cabang keduanya berada tepat di depan Lapangan Karangpilang, Surabaya.
Bagi pengunjung yang ingin mencoba hidangan di Bakso Cak Wandi, warung ini berada tepat di seberang kawasan Bhumi Marinir Karangpilang. Pengunjung juga dapat menuju lokasi dari lampu merah pertigaan Jalan Raya Mastrip, kemudian berbelok ke kanan dan melanjutkan perjalanan sekitar 200 meter. Warung Bakso Cak Wandi berada di sisi kanan jalan.
Dua pilihan menu bakso di Warung Cak Wandi Cabang 1, yakni bakso biasa (kanan) dan bakso kuah soto (kiri). (foto : Cyrila Tabina/ketik.com)
Menu yang ditawarkan tidak hanya bakso dengan kuah kaldu daging sapi, tetapi juga bakso kuah soto, mi ayam, dan soto. Kedua menu bakso tersebut dibanderol dengan harga Rp13.000 per porsi. Dengan harga yang relatif terjangkau, pelanggan dapat menikmati bakso lengkap dengan pelengkapnya.
Bakso kuah soto menjadi salah satu menu yang menarik perhatian karena memadukan bakso dengan kuah bercita rasa soto. Dalam satu porsi, terdapat pentol, tahu, mi putih, mi kuning, gorengan, serta koya soto. Kuahnya menghadirkan rasa soto yang ringan sehingga tidak terlalu mendominasi rasa bakso. Tambahan acar juga memberikan sensasi segar saat disantap.
Sementara itu, bakso kuah kaldu daging sapi menawarkan cita rasa yang lebih umum dijumpai pada hidangan bakso. Menu ini dilengkapi pentol, tahu, mi putih, mi kuning, gorengan, dan acar. Salah satu ciri khas yang ditawarkan Bakso Cak Wandi adalah pentol berbentuk kotak, ditambah gorengan dan acar sebagai pelengkap.
Salah satu pelanggan, Ratna, 46 tahun, asal Surabaya, memilih bakso dengan kuah kaldu daging sapi. Ia mengaku telah menikmati bakso di tempat tersebut sejak masih duduk di bangku SMK pada 1990-an. Rumahnya yang berada tidak jauh dari lokasi membuatnya sudah mengenal warung tersebut sejak lama.
“Saya makan di sini dari saya SMK, Mbak, tahun 1990-an. Karena rumah saya dekat sini, rasanya pentol dan kuah baksonya konsisten banget. Tapi dulu tempatnya masih belum kayak gini, Mbak,” ujar Ratna.
Menurutnya, kuah bakso memiliki rasa gurih yang pas dan tidak terlalu berat. Tekstur pentolnya juga terasa empuk. Ia menyukai perpaduan pentol, gorengan, kuah bakso, dan acar yang memberikan rasa segar. Baginya, perubahan tempat tidak menghilangkan cita rasa yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.
Suasana Warung Cak Wandi Cabang 1 yang menjadi salah satu pilihan tempat makan bakso. (foto : Cyrila Tabina/ketik.com)
Pengalaman berbeda dirasakan Putri, 19 tahun, asal Sidoarjo, yang mencoba bakso kuah soto. Ia menilai menu tersebut menawarkan sensasi berbeda dibandingkan bakso dengan kuah kaldu biasa. Rasa sotonya cukup terasa, tetapi tetap ringan sehingga cocok dipadukan dengan bakso. Perpaduan tersebut membuat menu ini terasa unik dan lezat, serta membuatnya tertarik untuk kembali mencobanya.
Pelanggan lainnya, Chairil, 42 tahun, asal Pasuruan, juga kerap menyempatkan diri mampir ke Bakso Cak Wandi setiap kali berkunjung ke Surabaya atau Sidoarjo. Menurutnya, harga Rp13.000 tergolong murah untuk porsi yang cukup besar, terutama di tengah kondisi ekonomi saat ini. Ia kembali berkunjung karena cita rasa bakso yang khas dan harga yang terjangkau.
Suwandi mengatakan bahwa menjaga cita rasa menjadi hal penting dalam menjalankan usaha kuliner. Menurutnya, rasa yang dipertahankan dari waktu ke waktu menjadi salah satu alasan pelanggan tetap datang. Ia juga mempertahankan ciri khas produknya melalui bentuk pentol, gorengan, dan acar yang melengkapi hidangan.
“Ya menjaga cita rasanya itu. Cita rasa harus tetap dijaga sampai sekarang,” kata Suwandi.
Saat dikunjungi, warung tersebut terlihat ramai oleh pelanggan yang datang untuk menikmati hidangan. Suwandi menilai rasa dan harga menjadi dua hal yang membuat pelanggan kembali. Ia berharap usaha yang telah dirintis sejak 1996 itu dapat terus berkembang dan semakin ramai dikunjungi.
“Ya mungkin dari rasa, terus harganya juga murce mungkin ya,” ujar Suwandi.
Perjalanan Bakso Cak Wandi menunjukkan bahwa usaha kuliner dapat berkembang secara bertahap dengan tetap mempertahankan ciri khasnya. Perpaduan cita rasa yang konsisten, pilihan menu, serta harga yang terjangkau menjadi daya tarik bagi pelanggan lama maupun pengunjung yang baru pertama kali mencoba.(*)
