Di Tengah Himpitan Lahan Sewa, Semanggi Otentik Bu Suwati Bertahan di Alas Malang

Jurnalis: Surya Afriza
Editor: Fisca Tanjung

27 Feb 2026 05:00

Thumbnail Di Tengah Himpitan Lahan Sewa, Semanggi Otentik Bu Suwati Bertahan di Alas Malang
Suwati meracik pesanan hidangan Semanggi Suroboyo untuk pelanggan yang singgah di lapaknya.(Foto: Surya Afriza/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Kekhawatiran akan punahnya kuliner legendaris kini menghantui Suwati (47), seorang pedagang tangguh yang harus berjuang keras mempertahankan eksistensi Semanggi Suroboyo di tengah ancaman krisis lahan sewa dan sulitnya pasokan bahan baku dari petani.

Penjual asal Kendung ini mengungkapkan keluh kesahnya saat ditemui di lapak sederhananya yang berlokasi di kawasan Ruko Galeria, Jalan Alas Malang, Surabaya, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Di bawah payung merah besar yang melindunginya dari terik matahari, Suwati tetap setia meracik hidangan tradisional tersebut untuk para pelanggan yang singgah di sela hiruk pikuk lalu lintas jalan raya. Aroma khas bumbu ketela yang manis dan gurih langsung tercium, merangsang selera saat pembeli mendekat ke area dagangannya.

Perempuan yang sudah berjualan sejak tahun 2017 ini menepis anggapan bahwa kuliner tradisional perlahan mati karena anak muda kehilangan minat untuk meneruskan usaha orang tuanya.

Baca Juga:
Penemuan Jenazah di Bawah Jembatan Tol Wonocolo Surabaya, Tim 112 Segera Evakuasi

Baginya, masalah utama yang mengancam keberlangsungan kuliner otentik ini bukanlah soal minimnya regenerasi penjual, melainkan murni karena faktor eksternal yang terus menghambat ruang gerak mereka mencari nafkah setiap hari.

Menurut pengamatan Suwati, generasi penerus penjual Semanggi sebenarnya masih cukup banyak, namun ketersediaan tempat jualan yang layak menjadi kendala utama yang sering luput dari perhatian pemerintah maupun pihak pengembang tata kota.

Ia merasa para pedagang kecil kian terpinggirkan karena tidak memiliki lahan tetap untuk menjajakan dagangan mereka secara tenang tanpa diliputi rasa was was.

"Kalau penerus sebenarnya ada. Masalah terbesarnya itu lahan, kalau tidak ada tempat ya tidak bisa jualan," ujar Suwati dengan nada suara yang menyiratkan kecemasan mendalam akan nasib usahanya ke depan.

Baca Juga:
Kota Surabaya dan Malang Diprakirakan Cerah 14 April 2026, Cek Info Cuaca Jawa Timur

Suwati juga menambahkan bahwa sistem sewa lahan yang saat ini berlaku, tidak memberi kepastian kepada keberlangsungan usaha kecil dalam jangka panjang.

"Sekarang kan saya sewa, kalau lahannya dibangun rumah, saya terpaksa angkat kaki," tambahnya merujuk pada ketidakpastian lokasi lapaknya yang sewaktu waktu bisa digusur oleh sang pemilik tanah.

Selain ancaman tidak ada lahan jualan, kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah Surabaya dan sekitarnya belakangan ini turut menjadi tantangan berat bagi operasional harian dagangannya.

Curah hujan yang begitu tinggi membuat stok daun semanggi yang menjadi bahan baku utama semakin langka dan sangat sulit dicari di pasaran.

"Sekarang cari daun semanggi susah karena faktor hujan deras, jadi panennya agak tersendat," tambahnya, menjelaskan alasan mengapa porsi dagangannya terkadang tidak bisa sebanyak hari hari biasanya.

Foto Seporsi Semanggi Suroboyo otentik racikan Suwati yang disajikan lengkap dengan kembang turi kecambah bumbu ketela dan kerupuk puli. Kuliner legendaris beralas pincuk daun pisang ini bisa dinikmati seharga sepuluh ribu rupiah. (Foto: Surya Afriza/Ketik.com)Seporsi Semanggi Suroboyo otentik racikan Suwati yang disajikan lengkap dengan kembang turi kecambah bumbu ketela dan kerupuk puli. Kuliner legendaris beralas pincuk daun pisang ini bisa dinikmati seharga sepuluh ribu rupiah. (Foto: Surya Afriza/Ketik.com)

Meski terus dihimpit berbagai kendala tersebut, Suwati tetap konsisten melayani pelanggan setia mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB dengan harga yang masih sangat terjangkau bagi semua kalangan.

Seporsi Semanggi otentik yang disajikan lengkap dengan tambahan kembang turi, kecambah segar, bumbu ketela yang kental, serta kerupuk puli renyah di atas pincuk daun pisang ini dijual seharga Rp10.000 saja.

Penggunaan pincuk daun pisang ini tidak hanya sekadar wadah, tetapi juga memberikan sensasi aroma alami yang membuat selera makan semakin bertambah saat menyantapnya.

Salah satu pelanggan setia yang ditemui langsung di lokasi, Halimah, mengakui cita rasa racikan tangan Suwati ini cukup nikmat untuk dijadikan menu sarapan sebelum memulai rutinitas pagi.

”Rasanya lumayan enak untuk menu sarapan pagi, tekstur bumbunya juga halus," kata Halimah singkat, sembari menikmati suapan demi suapan pesanannya dengan lahap di tempat.

Selain Halimah, pelanggan lain bernama Zaki juga mengungkapkan kepuasan yang serupa atas cita rasa hidangan ini.

"Porsinya pas dan harganya sangat murah. Meskipun di pinggir jalan, rasa bumbunya tidak kalah dengan restoran," ungkap Zaki, seorang pria yang sedang sabar menunggu pesanannya dibungkus rapi untuk dibawa pulang ke rumah.

Kehadiran para pelanggan yang selalu kembali ini menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional warisan masa lalu masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat perkotaan.

Perjuangan gigih Suwati dan kawan kawan sesama pedagang semanggi menyadarkan kita semua bahwa melestarikan makanan khas daerah butuh dukungan ruang nyata agar mereka bisa terus bernapas di tengah pesatnya modernisasi kota.(*)

Baca Sebelumnya

Bertemu Sahabat Lama Raja Abdullah II Yordania, Prabowo Bahas BoP Hingga Perdamaian Palestina-Israel

Baca Selanjutnya

Cuma Sehari di Gunung? Jangan Sampai Tas Kamu Kosong Begini!

Tags:

semanggi suroboyo Makanan Tradisional surabaya Kuliner Surabaya Kuliner legendaris

Berita lainnya oleh Surya Afriza

Bukan dari Arab, Istilah Halalbihalal Ternyata Asli Nusantara, Ini Sejarahnya

20 Maret 2026 04:17

Bukan dari Arab, Istilah Halalbihalal Ternyata Asli Nusantara, Ini Sejarahnya

Dari Teror Denah Rumah Misterius Hingga Teka-Teki Pelukis Berdarah Dingin, Ini 5 Novel Wajib Baca Buat Pecinta Teka-Teki

13 Maret 2026 06:20

Dari Teror Denah Rumah Misterius Hingga Teka-Teki Pelukis Berdarah Dingin, Ini 5 Novel Wajib Baca Buat Pecinta Teka-Teki

Transisi La Nina ke El Nino! BMKG Peringatkan Ancaman Kemarau Ekstra Panas Datang Lebih Awal

10 Maret 2026 14:22

Transisi La Nina ke El Nino! BMKG Peringatkan Ancaman Kemarau Ekstra Panas Datang Lebih Awal

Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

10 Maret 2026 05:25

Menyelami Ketenangan Irama Retro, Alasan Musik Nostalgia Sukses Mencuri Hati Gen Z di Tengah Kebisingan Modern

Ingin Kuliah di Luar Negeri? Ini Tiga Persiapan Wajib Sebelum Daftar Beasiswa

9 Maret 2026 03:15

Ingin Kuliah di Luar Negeri? Ini Tiga Persiapan Wajib Sebelum Daftar Beasiswa

Persiapan Jelang Idul Fitri! Daftar Lima Kue Kering yang Wajib Dibeli

5 Maret 2026 07:45

Persiapan Jelang Idul Fitri! Daftar Lima Kue Kering yang Wajib Dibeli

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H