Dosen Unair Ungkap Gejala Keracunan Ikan Buntal

Jurnalis: Shinta Miranda
Editor: Mustopa

1 Jan 2025 00:00

Thumbnail Dosen Unair Ungkap Gejala Keracunan Ikan Buntal
Ilustrasi ikan buntal. (Foto: BlaineFranger)

KETIK, SURABAYA – Seorang Ayah bernama Amri (37) dan anaknya Harun Adiman (8) di Kampung Nanga Lanang, Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) tewas keracunan seusai makan ikan buntal.

Melihat fenomena ini, Dosen Pengolahan Hasil Perikanan FPK Unair Eka Saputra S Pi M Si menyebut kasus keracunan ikan buntal merupakan salah satu kasus keracunan hasil perikanan yang berbahaya.

Dalam kondisi yang parah, keracunan ikan ini dapat menyebabkan kematian pada korbannya. Karena itu, diperlukan pengolahan yang tepat untuk menghindari risiko keracunan ikan buntal.

Ikan buntal mengandung racun tetrodotoxin (TTX) yang merupakan salah satu racun paling berbahaya. Racun ini terletak pada organ hati, ovarium, usus, dan kulit ikan buntal.

Namun, dalam beberapa kasus, daging ikan buntal juga dapat mengandung tetrodotoxin jika pengolahannya tidak benar.

“Gejala awal yang muncul biasanya ditandai dengan mati rasa pada bibir dalam 20 menit hingga 3 jam setelah konsumsi. Dilanjutkan dengan mual, muntah, serta dapat terjadi kelumpuhan otot," ungkapnya.

"Efek kelumpuhan otot dapat menyebabkan kesulitan bernafas hingga penurunan tekanan darah yang dapat berakibat fatal,” imbuh Eka.

Dalam mengolah ikan buntal, diperlukan keahlian khusus agar ikan dapat dikonsumsi secara aman.

Hal ini karena karakteristik racun tetrodotoxin yang tidak dapat dihancurkan oleh panas atau proses memasak biasa. Perlu keterampilan serta sertifikasi khusus agar dapat mengolah ikan buntal seperti di jepang.

“Para praktisi pengolah ikan buntal diajarkan mengidentifikasi bagian yang beracun dan menghindari kontaminasi silang. Kesalahan kecil dapat menyebabkan perpindahan racun dari organ ke daging ikan," Eka menambahkan.

"Lalu terdapat izin khusus yaitu hanya restoran atau fasilitas yang memiliki izin khusus yang boleh menyajikan ikan buntal,” tegasnya.

Namun, di balik bahaya racun di dalamnya, ikan buntal memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Di antaranya mengandung protein yang cukup tinggi, kandungan lemak yang rendah sehingga cocok untuk kesehatan jantung. Selain itu terdapat kandungan vitamin dan mineral sebagai komponen gizi.

“Manfaat ini hanya dapat diperoleh jika ikan buntal diolah oleh ahli bersertifikat. Risiko tetap tinggi jika proses pengolahannya kurang benar, oleh karena itu di Jepang, konsumsi ikan buntal lebih dari sekadar makan; ini adalah tradisi yang menggabungkan apresiasi rasa, keahlian kuliner, dan keberanian yang terkontrol,” ungkapnya.

Eka menegaskan pertama kali yang harus diketahui masyarakat adalah mengetahui karakteristik bahan baku produk perikanan. Dengan mengetahui karakteristik maka akan mudah diketahui cara proses pengolahan yang benar sehingga sewaktu menjadi produk yang siap untuk dikonsumsi lebih aman dan terjamin. 

“Untuk menghindari risiko keracunan, maka masyarakat perlu paham bahwa konsumsi produk perikanan yang berisiko perlu adanya pengolahan dari ahli. Meskipun memiliki manfaat yang baik bagi tubuh bila pengolahannya kurang tepat dapat membahayakan,” tambahnya.(*)

Baca Juga:
Pendaftaran Jalur Mandiri Unair 2026 Dibuka: Ini Jadwal, Syarat dan Cara Daftarnya

Baca Juga:
UNAIR Gandeng Tiga RSUD, Perkuat Ekosistem Pendidikan Medis dan Layanan Kesehatan
Baca Sebelumnya

Musim Hujan, 5 Makanan Ini Bisa Bantu Jaga Imun Tubuh

Baca Selanjutnya

Libur Tahun Baru 2025, Arus Lalu Lintas Kota Batu Ramai Lancar

Tags:

Ikan buntal Dosen Unair keracunan ikan buntal Dosen Pengolahan Hasil Perikanan Unair

Berita lainnya oleh Shinta Miranda

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

30 Oktober 2025 15:28

Banyaknya Keluhan Masyarakat Soal Motor Brebet, DPRD Surabaya Dorong Pertamina Tak Hanya Minta Maaf

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

29 Oktober 2025 05:15

Pendidikan untuk Siapa? Petani Kedung Cowek Terancam Tergusur Demi Sekolah Rakyat

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

28 Oktober 2025 21:11

Makna Baru Sumpah Pemuda Menurut Yona Bagus: Gen Z Hadapi Perang Pikiran dan Inovasi

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

28 Oktober 2025 19:05

Marak Konten Mihol, Pemkot Surabaya Minta Influencer Tak Jadi Corong Iklan

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

28 Oktober 2025 18:57

Benang Emas, Saat Mesin Jahit Mengubah Nasib Ratusan Warga MBR Surabaya

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

27 Oktober 2025 16:00

[FOTO] Ketika Spesialis Mall Bangun Rumah Sakit, Begini Tampilan Istimewa Siloam Hospitals Surabaya, Gak Ada Bau Obat!

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar