KETIK, SURABAYA – Bandung tak hanya dikenal lewat udara sejuk dan kulinernya, tetapi juga kerap menjadi latar yang kuat dalam cerita. Suasana jalanan, tempat nongkrong, hingga kisah cinta dan kehidupan anak muda di Kota Kembang berhasil membuat Bandung terasa seperti bagian dari cerita.
Sejumlah novel bahkan menjadikan Bandung sebagai elemen penting dalam perjalanan para tokohnya. Berikut lima novel yang punya vibes Bandung dan cocok dibaca untuk kamu yang ingin menikmati cerita sekaligus suasana Kota Kembang.
1. Dilan 1990 — Pidi Baiq
Buat yang membicarakan novel dengan suasana Bandung, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 hampir tidak bisa dilewatkan. Novel karya Pidi Baiq ini mengisahkan Milea, siswi pindahan dari Jakarta yang kemudian bertemu Dilan saat bersekolah di Bandung pada 1990.
Cerita cinta remaja mereka berjalan di tengah keseharian khas anak SMA, lengkap dengan pertemanan, geng motor, sekolah, dan berbagai tempat yang membuat Bandung terasa begitu dekat. Cara Pidi Baiq menggambarkan kota dan kehidupan remaja pada masa itu membuat Dilan 1990 memiliki nuansa Bandung yang kuat.
2. Ancika: Dia yang Bersamaku 1995 — Pidi Baiq
Masih dari Pidi Baiq, Ancika: Dia yang Bersamaku Tahun 1995 membawa pembaca kembali ke Bandung, tetapi dengan kisah Dilan yang sudah lebih dewasa. Dalam cerita ini, Dilan yang telah berkuliah di ITB bertemu dengan Ancika Mehrunisa Rabu, seorang siswi SMA berusia 17 tahun.
Hubungan keduanya bermula dari persahabatan dan perlahan berkembang menjadi kisah cinta. Latar Bandung tahun 1995 menjadi bagian dari perjalanan Dilan dan Ancika, sekaligus menghadirkan suasana kota yang berbeda dari cerita Dilan 1990.
3. Bandung Menjelang Pagi — Brian Khrisna
Kalau ingin merasakan sisi Bandung yang berbeda, Bandung Menjelang Pagi karya Brian Khrisna bisa menjadi pilihan. Novel ini menggambarkan Bandung ketika malam menuju pagi, dengan suasana kota yang jauh dari kesan romantis dan tenang.
Tokoh utamanya, Dipha, adalah seorang pemuda yang hidup sebagai berandalan dan melakukan berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Ia pernah berjualan bacang di kawasan Asia Afrika, bekerja di kafe di Braga, hingga menjadi buruh. Pertemuannya dengan Vinda kemudian membawa Dipha pada perjalanan yang semakin rumit. Latar seperti Asia Afrika, Braga, Pajagalan, dan Tamin membuat Bandung terasa sangat kuat dalam novel ini.
4. Bandung After Rain — Wulan Nur Amalia
Sesuai judulnya, Bandung After Rain karya Wulan Nur Amalia membawa pembaca pada suasana Bandung yang identik dengan hujan dan kenangan. Ceritanya mengikuti Hema dan Ra, sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan selama lebih dari enam tahun sebelum akhirnya berpisah.
Berbagai sudut Kota Bandung menjadi bagian dari kenangan Hema bersama Ra. Setelah hubungan mereka berakhir, Hema dihantui rasa penyesalan dan mencoba memahami kembali arti cinta, kehilangan, serta kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Nuansa hujan dan kota membuat novel ini terasa dekat dengan suasana Bandung yang sendu dan romantis.
5. Berandal Bandung — I. A. A. Djiiwaraga
Berbeda dari kisah-kisah sebelumnya, Berandal Bandung menghadirkan sisi remaja Bandung yang lebih penuh konflik. Novel karya I. A. A. Djiiwaraga ini bercerita tentang Harugo Nubagja, pemimpin geng motor bernama The Bandrex, yang menghadapi persoalan cinta sekaligus berbagai masalah dalam kehidupannya.
Mengambil latar Bandung dan kehidupan anak muda, cerita ini tidak hanya berbicara soal asmara, tetapi juga persahabatan, konflik, serta perjuangan menghadapi persoalan pribadi. Kehadiran geng motor dan kehidupan jalanan membuat Berandal Bandung menawarkan gambaran Bandung dari sisi yang lebih keras dan penuh dinamika.
Lima novel tersebut menghadirkan Bandung dengan warna yang berbeda. Ada Bandung yang romantis, penuh kenangan, kehidupan malam, hingga sisi kehidupan remaja yang lebih keras. Namun, semuanya sama-sama menjadikan Kota Kembang bukan sekadar latar, melainkan bagian penting dari cerita.(*)
