KETIK, SURABAYA – Perjalanan Khairul Fajri menjadi kreator konten gim tidak selalu berjalan mulus. Kreator asal Bukittinggi, Sumatera Barat, yang dikenal melalui nama FajriTV itu telah tiga kali kehilangan akun TikTok yang dibangunnya dari nol.
Meski demikian, pengalaman tersebut tidak membuat Fajri berhenti berkarya. Pada 11 Juni 2026, pria berusia 23 tahun itu kembali mencatat pencapaian penting setelah akun TikTok terbarunya menembus 1 juta pengikut.
Sebelumnya, Fajri telah membangun tiga akun TikTok dengan total sekitar 1,6 juta pengikut. Namun, seluruh audiens tersebut hilang setelah ketiga akunnya diblokir. Kondisi itu membuat Fajri harus berulang kali memulai kembali perjalanan sebagai kreator.
Pemblokiran pertama terjadi pada 2021 ketika akun Fajri telah memiliki sekitar 600.000 pengikut. Pada Agustus 2022, ia membuat akun baru dan kembali membangun audiens hingga mencapai 300.000 pengikut. Namun, akun tersebut kembali diblokir.
Tidak menyerah, Fajri membuat akun ketiga pada Mei 2023. Akun itu berkembang hingga memiliki sekitar 700.000 pengikut sebelum kembali terkena pemblokiran. Setiap kali akun hilang, ia harus mengulang proses membangun audiens dari awal.
Menurut Fajri, alasan yang diberikan platform dalam setiap pemblokiran cenderung serupa dan bersifat umum. Ia menyebut TikTok menyatakan terdapat pelanggaran terhadap pedoman komunitas.
"Karena ada pelanggaran konten yang terlalu banyak dengan alasan konten tidak memenuhi panduan pedoman komunitas," kata Fajri.
Ia menduga persoalan tersebut berkaitan dengan akumulasi pelanggaran dari konten yang dibuat sejak awal kariernya sebagai kreator. Salah satu materi yang pernah menjadi fokus kontennya adalah ulasan mengenai akun gim Free Fire.
"Pelanggaran konten saya muncul karena konten saya waktu itu membahas seputar akun gim, dan waktu itu di TikTok dilarang membahas akun seperti itu, akhirnya kena pelanggaran," ujarnya.
Proses Banding dan Dampak Pemblokiran Akun
Fajri juga menyoroti proses banding terhadap keputusan pemblokiran akun. Pada akun pertamanya, ia mengaku tidak mengetahui bahwa keputusan tersebut dapat diajukan banding.
"Pada akun pertama saya tidak pernah mengajukan banding karena saya tidak tahu bahwa bisa diajukan banding. Pada akun kedua sempat beberapa kali saya ajukan banding dan akunnya dipulihkan, tidak berjalan begitu lama akunnya kembali diblokir," tuturnya.
Pemblokiran tidak hanya berdampak pada jumlah pengikut. Dari sisi ekonomi, Fajri juga kehilangan sejumlah peluang kerja sama dengan merek.
Ia menyebut beberapa kontrak promosi atau endorsement yang sebelumnya telah disepakati batal setelah akunnya tidak dapat diakses.
"Ada beberapa endorse yang cancel gara-gara akun saya terblokir waktu itu. Untuk nilainya tidak terlalu banyak, under Rp15 juta saja," kata Fajri.
Konfirmasi kepada TikTok Indonesia mengenai alasan pemblokiran terhadap tiga akun Fajri masih diupayakan hingga berita ini ditulis.
Pengalaman tersebut kemudian mendorong Fajri meminta platform media sosial memberikan sistem moderasi yang lebih transparan kepada kreator.
"Saya menuntut transparansi yang lebih jelas. Platform perlu menjelaskan mengapa sebuah konten atau akun dikenai pembatasan, aturan mana yang dilanggar, bagaimana proses bandingnya, dan berapa lama penyelesaiannya. Kreator juga seharusnya mendapat pemberitahuan yang masuk akal, bukan sekadar keputusan otomatis tanpa konteks," ucapnya.
Pada akun keempat, Fajri mengubah strategi. Ia kini lebih ketat menyaring pemilihan kata dan substansi sebelum mengunggah konten. Ia juga tidak lagi mengandalkan satu platform sebagai sumber audiens maupun pendapatan.
Selain TikTok yang kini memiliki sekitar 1,1 juta pengikut, Fajri aktif mengembangkan akun di Instagram, YouTube, dan Snack Video. Jumlah pengikut Instagram miliknya sekitar 45.000.
"Sekarang saya sudah sangat berhati-hati dalam membuat konten. Dari segi pemilihan kosakata dan isi kontennya sudah saya pilih-pilih. Saya juga aktif di beberapa platform seperti YouTube dan Snack Video," kata Fajri.
Dari sisi pendapatan, Fajri juga mulai membangun beberapa sumber pemasukan. Ia tidak lagi mengandalkan satu jenis pekerjaan atau satu kanal media sosial.
"Penghasilan utama saya saat ini dari berbagai macam, dari endorse, gift live, dan ada beberapa menjadi brand ambassador dari beberapa brand," ujarnya.
Tolak Endorse Judi Daring Rp200 Juta
Sebagai kreator konten gim, Fajri juga menghadapi tawaran promosi judi daring. Ia mengaku pernah mendapatkan tawaran endorsement dengan nilai ratusan juta rupiah, tetapi memilih menolaknya.
"Saya pernah menolak endorse judi online dengan angka yang menurut saya sangat fantastis. Untuk lima kali unggah konten dalam sebulan saya dibayar Rp200 juta, dan saya tolak karena memang tidak diperbolehkan di Indonesia untuk mempromosikan hal itu, dan karena itu bisa berdampak buruk buat viewers saya yang notabene anak-anak," tegasnya.
Fajri mengatakan nilai tawaran tersebut bahkan jauh lebih besar dibandingkan total penghasilan yang pernah ia dapatkan ketika masih bekerja sebagai buruh pabrik.
Untuk mengantisipasi kemungkinan kehilangan akun kembali, ia kini mulai menyiapkan cadangan finansial sekaligus merencanakan bisnis di luar dunia konten.
"Untuk saat ini saya sudah ada tabungan finansial untuk saya, dan saya lagi ingin memulai untuk bisnis," katanya.
Pernah Hidup dari Pekerjaan Serabutan
Sebelum dikenal sebagai kreator gim dengan jutaan pengikut, Fajri menjalani perjalanan yang cukup panjang. Pria kelahiran Sei Cubadak, 11 Oktober 2002, itu merantau ke Batam, Kepulauan Riau, pada 2020.
Saat itu pandemi Covid-19 membuat kondisi lapangan pekerjaan semakin sulit. Fajri bahkan sempat hampir empat bulan tidak mendapatkan pekerjaan tetap dan harus mengandalkan berbagai pekerjaan serabutan.
"Saya sempat kerja jadi tukang antar galon isi ulang di area kompleks kos, karena ibu kos punya depot galon isi ulang. Saya digaji tergantung berapa galon yang saya isi ulang, satu galon dibayar Rp2.000. Dalam sebulan saya bisa dapat sekitar Rp500.000 sampai Rp600.000," kenangnya.
Ia juga pernah bekerja membersihkan rumah kos dengan bayaran Rp60.000 per hari. Pekerjaan tersebut hanya tersedia sekitar dua kali dalam sepekan. Selain itu, Fajri sempat menjadi buruh bongkar muat barang.
Setelah melewati masa sulit tersebut, Fajri mendapat pekerjaan sebagai operator di sebuah perusahaan produsen mesin es di Batam. Namun, pekerjaannya hanya berlangsung selama enam bulan karena perusahaan kembali melakukan pengurangan karyawan ketika Batam berada dalam kondisi zona merah Covid-19.
Fajri kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai pemungut uang kebersihan di Pasar Jodoh, Kota Batam. Ia memperoleh upah Rp30.000 per hari dan menjalani pekerjaan tersebut selama sekitar lima bulan.
"Alasan saya bertahan karena saya yakin bisa dapat pekerjaan yang lebih layak. Durasi kerja saya cuma dari jam 7 malam sampai jam 10 malam," ujarnya.
Ia kemudian sempat kembali mendapatkan pekerjaan tetap selama sekitar satu tahun sebelum kontraknya berakhir. Setelah itu, Fajri bekerja sebagai host siaran langsung untuk penjualan daring selama hampir satu tahun.
Pekerjaan tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan kariernya karena Fajri mulai memahami cara kerja media sosial dan dunia konten digital.
Tinggalkan Pekerjaan dengan Penghasilan Rp7 Juta
Pada September 2022, Fajri memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai host siaran langsung dan fokus menjadi kreator konten.
Keputusan itu bukan tanpa risiko. Ketika menjadi host, Fajri mengaku mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan. Sementara itu, pendapatan awalnya sebagai kreator konten hanya sekitar Rp1,5 juta per bulan.
"Saya memutuskan berhenti jadi host live pada September 2022. Waktu itu penghasilan saya sekitar Rp6 juta sampai Rp7 juta per bulan, gaji pokoknya cuma Rp2,5 juta, tapi bonus dari setiap penjualan lumayan besar. Sedangkan penghasilan pertama saya dari ngonten waktu itu sekitar Rp1,5 juta per bulan saja," ungkapnya.
Fajri memilih Free Fire sebagai gim utama karena keterbatasan perangkat yang dimilikinya.
"Waktu itu saya memang suka main Free Fire dan cuma Free Fire yang bisa saya mainkan di HP saya karena terhalang device yang tidak terlalu memadai untuk gim berat lainnya," kata Fajri.
Pilihan untuk meninggalkan pekerjaan tetap dan menekuni dunia konten sempat mendapat penolakan dari keluarganya di Sei Cubadak dan Bukittinggi. Keluarganya ketika itu belum memahami bagaimana media sosial dapat menjadi sumber penghasilan.
"Dulu sempat ditentang karena keluarga saya dari kampung dan mereka tidak memahami cara media sosial bekerja. Tapi pelan-pelan saya membuktikan, dan akhirnya pelan-pelan keluarga mulai memahami, sekarang sudah mendukung penuh," ujarnya.
Pesan Fajri untuk Kreator Pemula
Setelah mengalami tiga kali kehilangan akun dengan jumlah pengikut yang mencapai ratusan ribu, Fajri menyadari bahwa kreator tidak seharusnya menggantungkan seluruh kehidupannya pada satu akun media sosial.
Ia pun mengingatkan kreator pemula agar membangun aset digital yang tidak sepenuhnya bergantung pada platform tertentu.
"Jangan menggantungkan seluruh penghasilan pada satu akun atau satu platform. Bangun audiens yang bisa Anda jangkau secara lebih langsung, misalnya melalui email, komunitas, atau kanal lain, dan simpan arsip konten serta data penting Anda. Anggap akun platform sebagai aset bisnis yang bisa berubah sewaktu-waktu, bukan sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kendali Anda," tutupnya. (*)
