Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Pakar Soroti Perlambatan EBT dan Kebijakan Subsidi Energi

Jurnalis: Moch Khaesar
Editor: Aziz Mahrizal

15 Okt 2025 18:00

Thumbnail Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Pakar Soroti Perlambatan EBT dan Kebijakan Subsidi Energi
Pakar kebijakan publik Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Falih Suaedi (tengah) acara diskusi bertajuk "Meneropong 1 Tahun Kemandirian Energi Nasional di Era Prabowo - Gibran", Rabu, 15 Oktober 2025. (Foto: Khaesar/Ketik.com)

KETIK, SURABAYA – Setahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai mulai menunjukkan langkah awal menuju kemandirian energi nasional. Namun, sejumlah pakar menilai upaya ini masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) serta efektivitas kebijakan subsidi energi.

Koordinator Proyek Renewable Energy Integration Demonstrator Indonesia (REIDI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ir. Ary Bachtiar Krishna Putra, MT, Ph.D., IPM, menilai bahwa meskipun kemajuan belum signifikan, pemerintah telah menunjukkan arah kebijakan yang positif. Salah satunya melalui penguatan sektor bioenergi, seperti program biodiesel B40.

“Langkah pemerintah untuk meningkatkan kadar biofuel hingga B40 itu penting. Selain memperkuat kemandirian energi, juga mendorong circular economy, di mana masyarakat bisa memproduksi bahan baku biodiesel secara mandiri,” ujar Ary Bachtiar saat acara diskusi bertema “Meneropong 1 Tahun Kemandirian Energi Nasional di Era Prabowo - Gibran dari Timur Jawa”, di Viaduk Gubeng Surabaya, Rabu, 15 Oktober 2025.

Namun, Ary menekankan adanya tantangan teknis dan kebijakan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang dinilai masih tarik ulur. Menurutnya, dalam sektor energi, TKDN penting untuk memperkuat industri nasional, tetapi terlalu ketatnya aturan dapat menghambat investasi asing, terutama pada teknologi tinggi seperti hydrogen fuel cell atau kendaraan listrik.

Baca Juga:
Hapus Sistem Open Dumping, Pemkab Kendal Siapkan Strategi Pengolahan Sampah Jadi Listrik dan Petasol

“EBT seperti PLTSA (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) di Benowo masih banyak menggunakan produk asing karena industri dalam negeri belum mampu memproduksi peralatan skala besar. Maka, pemerintah perlu menggandeng lembaga penelitian dan perguruan tinggi agar bisa melakukan reverse engineering terhadap teknologi luar negeri,” jelasnya.

Ary juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung kemandirian energi melalui inovasi dan riset terapan. Menurutnya, Indonesia memiliki banyak insinyur berkompeten yang mampu berkontribusi jika diberikan kepercayaan dan dukungan.

“Potensi EBT kita luar biasa, dari sampah, biomassa, tenaga surya, hingga gelombang laut. Semua ada di dalam negeri. Tinggal bagaimana pemerintah bisa mempercepat penguasaan teknologinya,” katanya.

Sementara itu, Pakar kebijakan publik Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. Falih Suaedi, menilai kinerja sektor EBT masih jauh dari target. Menurutnya, kontribusi EBT terhadap bauran energi nasional masih rendah.

Baca Juga:
Pendaftaran Jalur Mandiri Unair 2026 Dibuka: Ini Jadwal, Syarat dan Cara Daftarnya

“Kita baru mencapai sekitar 16 persen, padahal targetnya sudah direvisi menjadi 19 persen. Ini menyedihkan. Pemerintah harus berani melakukan diversifikasi EBT secara nyata,” tegas Falih.

Ia menyoroti kebijakan pemerintah terkait pencabutan izin tambang yang tidak memenuhi kewajiban reklamasi sebagai langkah positif. Namun, ia menilai pemerintah harus lebih transparan dan serius mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, terutama batu bara.

“Sudah waktunya pemerintah menunjukkan keberpihakan pada energi bersih. Dampak lingkungan dari tambang batubara sangat besar, dan ujungnya selalu masyarakat kecil yang menanggung,” imbuhnya.

Dari sisi ekonomi, Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Dr Hendry Cahyono, S.E., M.E menilai kemandirian energi tidak hanya soal produksi, tetapi juga tata kelola kebijakan yang berkeadilan. Ia menyoroti tingginya beban subsidi energi dalam APBN yang mencapai sekitar 4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

“Masalahnya, subsidi energi ini justru lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat kaya. Berdasarkan riset kami, 20 persen masyarakat terkaya menikmati subsidi 11 kali lebih besar dibanding masyarakat miskin,” ungkap Hendry.

Menurutnya, pemerintahan Prabowo–Gibran perlu segera merancang kebijakan pengganti subsidi energi yang lebih tepat sasaran. Misalnya dengan mengalihkan dana subsidi ke sektor kesehatan atau pendidikan yang manfaatnya lebih langsung dirasakan masyarakat kecil.

“EBT seharusnya bisa menjadi solusi karena sumbernya berkelanjutan dan berpotensi menurunkan harga energi jangka panjang. Tapi kebijakannya harus konsisten dan tidak hanya bersifat populis,” tegasnya.

Hendry menambahkan, kemandirian energi harus dikaitkan dengan sustainability economy atau ekonomi berkelanjutan. Artinya, kebijakan energi harus mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan aspek sosial dan lingkungan.

"Secara umum, para pakar dari Jawa Timur ini menilai tahun pertama pemerintahan Prabowo–Gibran sudah mengarah pada jalur yang tepat, namun masih memerlukan terobosan kebijakan dan percepatan di lapangan," jelasnya.

Kemandirian energi, kata mereka, bukan hanya soal produksi EBT, tetapi juga sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk membangun sistem energi yang adil, efisien, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang. "Ini demi anak cucu kita kedepannya," pungkas Prof Falih. (*)

Baca Sebelumnya

Cuaca Panas Ekstrem! Ini 5 Camilan yang Bisa Bikin Tubuh Tetap Segar

Baca Selanjutnya

Ketua Bunda PAUD Pastikan Kota Surabaya Dukung Penuh Program MBG Presiden Prabowo

Tags:

Prabowo-gibran 1 tahun prabowo gibran Unesa ITS Unair akademisi Energi Terbarukan

Berita lainnya oleh Moch Khaesar

Bantu Pembangunan Sumber Daya, UWKS Kerja Sama dengan Dua Daerah

24 Oktober 2025 20:01

Bantu Pembangunan Sumber Daya, UWKS Kerja Sama dengan Dua Daerah

Banyak Lansia Alami Osteoartritis Lutut, Ini yang dilakukan Dosen FK Unusa

22 Oktober 2025 19:30

Banyak Lansia Alami Osteoartritis Lutut, Ini yang dilakukan Dosen FK Unusa

Kasus Pesta Seks di Hotel Ngagel Surabaya, Polisi: Bukan Motif Uang tapi Sensasi dan Kesenangan

22 Oktober 2025 19:04

Kasus Pesta Seks di Hotel Ngagel Surabaya, Polisi: Bukan Motif Uang tapi Sensasi dan Kesenangan

Restoran Indonesia Ini Jadi Solusi Mencari Makanan Halal di Sydney Australia

20 Oktober 2025 06:05

Restoran Indonesia Ini Jadi Solusi Mencari Makanan Halal di Sydney Australia

GEGER! 34 Pria Digerebek Pesta Gay di Hotel Surabaya, Siapa Dalangnya?

19 Oktober 2025 12:38

GEGER! 34 Pria Digerebek Pesta Gay di Hotel Surabaya, Siapa Dalangnya?

[FOTO] Momen Persija Berpesta di Markas Persebaya

18 Oktober 2025 22:41

[FOTO] Momen Persija Berpesta di Markas Persebaya

Penawaran Iklan Ketik

Follow Us On:

Logo Tiktok Logo instagram Logo Facebook Logo X

Update terus kabar terbaru melalui sosial media ketik, dijamin ga akan bosen!

Sedang Ramai:

Thumbnail Berita - Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Bukan WFH, Pemkot Malang Instruksikan ASN Berangkat Kerja dengan Bersepeda Demi Hemat BBM

Thumbnail Berita - Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Dinkes: Hasil Lab Keracunan MBG Siswa Tegalombo Pacitan Ditunggu 4–5 Hari

Thumbnail Berita - Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Cegah Penyimpangan, BGN dan Kejagung RI Luncurkan 'Jaga Dapur MBG' di Tuban

Thumbnail Berita - [FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

[FOTO] Ribuan Jemaah Muhammadiyah Padati Stadion Gajayana Kota Malang untuk Salat Idulfitri 1447 H

Thumbnail Berita - Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar

Jadwal Final Piala AFF Futsal 2026 Thailand vs Indonesia, Misi Merah Putih Pertahankan Gelar